Gubuk Bernama Sekolah Muhammadiyah

Di dalam novelnya Laskar Pelangi, Andrea Hirata menceritakan tentang kondisi sekolah dasar Muhammadiyah-nya di Tanjung Belitong yang karena saking memprihatinkannya maka Andrea menggambarkan tak ubahnya bagai kandang sapi. Tapi itu kejadian masa lalu sekitar 25-30 tahun silam. Saya berpikir pada masa itu walaupun tidak wajar tapi masih bisa dimaklumi jika masih ada kondisi sekolah yang semacam itu.

Tapi perkiraan saya tersebut ternyata keliru karena setelah 63 tahun republik ini merdeka, sekolah dengan model arsitektur kandang sapi masih ada hingga kini sebagaimana kita lihat di acara talk show Kick Andy beberapa waktu yang lalu. Sekolah Dasar ini (sekali lagi adalah sekolah Muhammadiyah) berlokasi di Langgatan Muara Enim Sumatera Selatan. Kepala Sekolahnya bernama Bapak Wanhar Umar hanya tamat SD lulusan SD tersebut. Bangunan fisik sekolahnya sungguh memprihatinkan dimana atapnya saja (sebelum diperbaiki dari bantuan pemirsa Kick Andy) hanya berlapiskan daun. Itupun hanya tertutup 75%-nya karena sisanya bolong-bolong, sehingga kalau hujan sudah bisa dipastikan sebagian kelas akan diguyur hujan dan praktis mereka tidak bisa belajar. Buku-buku pelajaran? Ini merupakan barang mewah bagi mereka. Tapi yang masih membesarkan hati adalah melihat semangat mereka bersekolah yang tetap membara.

Melihat kenyataan ini, saya meyakini bahwa kemungkinan besar masih banyak lagi sekolah lain di wilayah Indonesia ini yang kondisinya juga serupa. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan tampaknya perlu lebih sering turun ke pelosok-pelosok guna melihat kondisi riil sekolah sehingga kebijakan yang diambil bisa lebih realistis untuk semua lapisan tidak hanya untuk sekolah-sekolah di perkotaan. Bagaimana mungkin Ujian Nasional dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pengelolaan pendidikan kalau sarana-prasarana belajar-mengajar saja masih sangat terbatas. Padahal kalau bicara potensi, anak-anak pelosok juga memiliki talenta yang tidak kalah bahkan melebihi anak-anak kota. Hanya saja mereka memang tidak didukung oleh perangkat “hardware” dan “software” yang memadai.

Lihat saja ujian nasional tingkat SMA yang baru saja usai yang kembali meninggalkan beberapa catatan hitam dimana beberapa guru di beberapa sekolah khususnya di daerah melakukan perbaikan jawaban siswanya agar mereka bisa lulus ujian. Guru-guru ini menyadari bahwa terjadi kesenjangan yang begitu besar antara kualitas pendidikan di perkotaan dengan di daerah sehingga mereka “terpaksa” mengorbankan idealismenya hanya untuk “menyelamatkan” anak didiknya. Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan jelas merupakan “permerkosaan” terhadap kesempatan bersekolah ke jenjang lebih tinggi.

Organisasi kemasyarakatan semacam Muhammadiyah yang juga bergerak di bidang pendidikan tampaknya perlu mengkaji kembali kebijakan mereka di bidang pendidikan. Sudah saatnya pengurus Muhammadiyah mulai tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang dan ranting, tidak hanya mengedepankan sisi kuantitas tapi juga kualitas yang merata. Dalam jangka pendek rasanya perlu dilakukan inventarisasi asset sekolah beserta kondisinya yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini diperlukan agar tersedia peta sekolah mana saja yang masuk kategori sangat baik, cukup baik dan memprihatinkan. Dengan demikian sekolah-sekolah yang masuk kondisi memprihatinkan bisa mendapat skala prioritas untuk diperbaiki dan dikembangkan. Walau bagaimanapun “mengemban” nama Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi besar di negeri ini memang tidaklah ringan, sehingga kalau ada sekolah yang bernama Muhammadiyah sementara kondisi fisiknya memprihatinkan tentu membuat kita mengurut dada, tidak hanya bagi warga Muhammadiyah tapi juga umat muslim umumnya.

Kondisi pendidikan kita sendiri harus diakui masih carut-marut. Walaupun penyediaan pendidikan yang layak menurut Undang-Undang merupakan kewajiban Pemerintah, tapi jika saat ini semua perbaikan tersebut diharapkan datang dari Pemerintah maka ibarat pungguk merindukan bulan. Mau tidak mau perlu keterlibatan semua elemen masyarakat dalam melakukan percepatan. Dalam salah satu wawancara dengan media cetak, Andrea Hirata pernah ditanya tentang apa yang akan dilakukannya seandainya menjadi menteri pendidikan nasional. Dia menjawab bahwa dia akan menganjurkan kepada kaum intelektual di Indonesia untuk secara mandiri dan dengan inisiatif sendiri membangun kelas-kelas pribadi di rumah masing-masing dan mengajar secara cuma-cuma menyumbangkan ilmu dan memintarkan orang-orang muda, paling tidak untuk lingkungan sekitarnya. Menurut saya jawaban tersebut selain merupakan ajakan agar kita semua peduli terhadap dunia pendidikan juga merupakan bentuk keprihatinan karena masih banyaknya anak-anak berkualitas sebagai generasi penerus negeri ini yang belum mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan yang layak. Memang jauh lebih baik berbuat sesuatu walaupun kecil daripada tidak melakukan apa-apa.


8 Responses

  1. Mahatir Muhammad (mantan PM Malaysia) saja mengakui bhw dgn begitu luasnya wilayah Indonesia maka mengelola pendidikan di Indonesia tdk semudah di Malaysia. Anehnya pemerintah kita malah mensimplikasi permasalahan.

  2. saya idem dengan komentar mas Oji, kalau bukan kita yang memihak, siapa lagi?

  3. mas Andrea, Aziz bangga banget bisa hidup se-zaman dengan jenengan (kita jawa bro…) selama ini Aziz pikir Aziz tak akan pernah berarti ato tak akan pernah ngerasaain hidup dalam keberartian. saat baca LP (aku selalu ingat dengan runaway: lagunya LP, bila nyebutin kata LP)aziz semester 3 di sastra Arab, dan ngerasain bagaimana seharusnya semangat belajar itu. selama ini aziz ngerasa bahwa aziz ngeluh terus dan pasca baca LP, that`s amazing! hidup aziz yang ga` enak! single parent dsb ludes! kita ga boleh ngeluh dengan apapun yang terjadi dengan kita. kalau boleh mas, semoga aziz bisa nabungin uang buat avontutir di belitong, jadi kepingin liat teman laskar pelangi versi dewasa di sana, apalagi lintang dan samson, gimana tuh caranya bisa nggabungin kekuatan otak dan otot bersamaan? kalau boleh juga, tolong pesenin seseuatu apa di aziz; semangatkembar@yahoo.co.id alamat kita, sekedar kata apapun. tolong ya…

  4. abadi perjuangan kami

  5. mas andrea saya sangat mengagumi kegigihan anda dan kawan2 pada masa itu.skrang saya sering bermimpi bs jd guru spt iu guru mas andre.seandainya saya punya uang saya pengen terus mengikuti perkembangan karya2 anda.

  6. uda andrea.gak apa kan saya panggil uda,uda itu pangilan untuk kakak laki-laki bagi orang padang.saya sangat kagum pada uda dan sama uda LINTANG dan semua anggota LASKAR PELANGI.uda adalah motivator bagi saya,saya juga ingin punya mimpi seperti uda.dulu saya perfikir untuk tidak melanjutkan lagi pendidikan saya,tapi setelah membaca novel LASKAR PELANGI semua itu berubah saya ingin punya mimpi.dan saya ingin menembus dunia ini dengan mimpi itu.uda saya mau tanya kapan sih film LASKAR PELANGI keluarnya?

  7. uda saya inngin merasakan indahnya alam belitong,saya sekarang sudah bekerja dan saya ingin menabung untuk biaya pendidikan saya, saya mau minta nasehat dan semangat dari uda,maukah uad kasih semangat dan nasehat pada saya;TOMIAQUA28@YAHOO.CO.ID ini alamat sya

  8. cacak ku andre cayank…. bu mus dan pak harfan yang begitu sabar dan pantang menyerah,tetaplah gigih berjuang untuk “amar ma’ruf nahi munkar”.berilah saya nasehat untuk bisa membangun kepribadian yang muslimah dan menjadi orang yang sukses seperti cacak andre ke alamat ini..dekazero@yahoo.com

Leave a Reply