Jumlah Raka’at Sholat Tarawih

Salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan selama bulan ramadhan adalah melaksanakan sholat tarawih. Kalau kita perhatikan di berbagai masjid, jumlah rakaat sholat tarawih ini bermacam-macam. Ada yang 11, 13, 21 atau 23 rakaat (termasuk witir). Sebenarnya berapa rakaat tarawih yang diajarkan Rasulullah SAW?

Hadits Rakaat Tarawih 11 atau 20: Hadits Palsu

Tidak ada satu pun hadits yang shahih dan sharih (eksplisit) yang menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasululullah SAW. Kalau pun ada yang mengatakan 11 rakaat, 13 rakaat, 21 atau 23 rakaat, semua tidak didasarkan pada hadits yang tegas. Semua angka-angka itu hanyalah tafsir semata. Tidak ada hadits yang secara tegas menyebutkan angka rakaatnya secara pasti.

Al-Ustadz Ali Mustafa Ya’qub, MA, muhaddits besar Indonesia di bidang ilmu hadits, menerangkan bahwa tidak ada satu pun hadits yang derajatnya mencapai shahih tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kalau pun ada yang shahih derajatnya, namun dari segi istidlalnya tidak menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih. Di antara hadits palsu tentang jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah hadits berikut ini:

Dari Ibn Abbas, ia berkata, “Nabi SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir”. (Hadits Palsu)

Hadis ini diriwayatkan Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu‘jam al-Kabir. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman yang menurut Imam al-Tirmidzi, hadits-haditsnya adalah munkar. Imam al-Nasa‘i mengatakan hadis-hadis Abu Syaibah adalah matruk. Imam Syu‘bah mengatakan Ibrahim bin Utsman adalah pendusta. Oleh karenanya hadis shalat tarawih dua puluh rakaat ini nilainya maudhu’ (palsu) atau minimal matruk (semi palsu).

Demikian juga hadits yang menyebutkan bahwa jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah 8 rakaat. Hadits itu juga palsu dan dusta.

“Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir”. (Hadits Matruk)

Hadis ini diriwayatkan Ja‘far bin Humaid sebagaimana dikutip kembali lengkap dengan sanadnya oleh al-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I‘tidal dan Imam Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dari Jabir bin Abdullah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Isa bin Jariyah yang menurut Imam Ibnu Ma‘in, adalah munkar al-Hadis (Hadis-hadisnya munkar).

Sedangkan menurut Imam al-Nasa‘i, ‘Isa bin Jariyah adalah matruk (pendusta). Karenanya, hadis shalat tarawih delapan rakaat adalah hadis matruk (semi palsu) lantaran rawinya pendusta.

Jadi bila disandarkan pada kedua hadits di atas, keduanya bukan dalil yang bisa dijadikan pegangan bahwa nabi SAW shalat tarawi 8 rakaat atau 20 rakaat dalam shalat tarawih.

Hadits Rakaat Shalat Malam atau Rakaat Shalat Tarawih?

Sedangkan hadits yang derajatnya sampai kepada keshahihan, hanyalah hadits tentang shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dimana Aisyah meriwayatkan secara shahih bahwa shalat malam yang dilakukan oleh beliau SAW hanya 11 rakaat.

Dari Ai’syah ra, “Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula mengurangkannya dari 11 rakaat. Beliau melakukan sholat 4 rakaat dan janganlah engkau tanya mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian beliau akan kembali sholat 4 rakaat dan jangan engkau tanyakan kembali mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian setelah itu beliau melakukan sholat 3 rakaat. Dan beliau berkata kepadanya (Ai’syah), “Dia melakukan sholat 4 rakaat, ” tidak bertentangan dengan yang melakukan salam setiap 2 rakaat. Dan Nabi SAW bersabda, “Sholat di malam hari 2 rakaat 2 rakaat.” Dan dia (Ai’syah), “Dia melakukan sholat 3 rakaat” atau ini mempunyai makna melakukan witir dengan 1 rakaat dan 2 rakaat. (HR Bukhari).

Tetapi di dalam hadits shahih ini, Aisyah ra sama sekali tidak secara tegas mengatakan bahwa 11 rakaat itu adalah jumlah rakaat shalat tarawih. Yang berkesimpulan demikian adalah para ulama yang membuat tafsiran subjektif dan tentunya mendukung pendapat yang mengatakan shalat tarawih itu 11 rakaat. Mereka beranggapan bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah shalat tarawih.

Karena itulah maka hadis diatas tidak bisa dijadikan dalil yang menunjukkan
Nabi melakukan sholat tarawih sebanyak 11 raka’at. Imam al-Nawawi menyatakan bahwa hadis diatas merujuk pada sholat witir, demikian juga Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam fath al-Bari berpendapat sama.

Pendukung 20 Rakaat

Sedangkan menurut ulama lain yang mendukung jumlah 20 rakaat, jumlah 11 rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak bisa dijadikan dasar tentang jumlah rakaat shalat tarawih karena shalat tarawih tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW kecuali hanya 2 atau 3 kali saja. Dan itu pun dilakukan di masjid, bukan di rumah. Bagaimana mungkin Aisyah ra meriwayatkan hadits tentang shalat tarawih beliau SAW? Lagi pula, istilah shalat tarawih juga belum dikenal di masa beliau SAW. Pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 rakaat dengan dua salam.

Bagi para ulama itu, apa yang disebutkan oleh Aisyah bukanlah jumlah rakaat shalat tarawih, melainkan shalat malam (qiyamullail) yang dilakukan di dalam rumah beliau sendiri. Apalagi dalam riwayat yang lain, hadits itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah rakaat shalat malam beliau, baik di dalam bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan.

Maka dengan demikian, keadaan menjadi jelas mengapa di dalam tubuh umat Islam masih ada perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan menarik, para ulama besar dunia sangat bersikap toleran dalam masalah ini.

Toleransi Jumlah Bilangan Rakaat

Dengan tidak adanya satu pun hadits shahih yang secara tegas menetapkan jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW, maka para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya. Ada yang 8 rakaat, 11 rakaat, 13 rakaat, 20 rakaat, 23 rakaat, bahkan 36 rakaat. Dan semua punya dalil sendiri-sendiri yang sulit untuk dipatahkan begitu saja.

Yang menarik, para ulama di masa lalu tidak pernah saling mencaci atau menjelekkan meski berbeda pendapat tentang jumah rakaat shalat tarawih.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu: ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat.

Sheikh al-Islam Ibn Taymiyah berpendapat, “Jika seseorang melakukan sholat tarawih sebagaimana mazhab Abu Hanifah, As-Syafi’i dan Ahmad yaitu 20 rakaat atau sebagaimana Mazhab Malik yaitu 36 rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu yang terbaik. Ini sebagaimana Imam Ahmad berkata, Karena tidak ada apa yang dinyatakan dengan jumlah, maka lebih atau kurangnya jumlah rakaat tergantung pada berapa panjang atau pendek qiamnya.”(Kitab Al-Ikhtiyaaraat halaman 64).

Demikian juga dengan Mufti Saudi Arabia di masa lalu, Al-‘allaamah Sheikh Abdulah bin Baaz ketika ditanya tentang jumlah rakaat tarawih, termasuk yang mendukung shalat tarawih 11 atau 13 rakaat, namun beliau tidak menyalahkan mereka yang meyakini bahwa yang dalilnya kuat adalah yang 20 rakaat. Beliau rahimahullah berkata, “Sholat Tarawih 11 rakaat atau 13 rakaat, melakukan salam pada setiap 2 rakaat dan 1 rakaat witir adalah afdal, meniru cara Nabi SAW. Dan, siapa pula yang sholatnya 20 rakaat atau lebih maka juga tidak salah.”

Dan di kedua masjid besar dunia, Masjid Al-Haram Makkah dan masjid An-Nabawi Madinah, sejak dahulu para ulama dan umat Islam disana shalat tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Dan itu berlangsung sampai hari ini, meski mufti negara punya pendapat yang berbeda. Namun mereka tetap harmonis tanpa ada saling caci.

Inti dari semuanya, sholat qiyam ramadhan atau populernya tarawih itu tidak dibatasi jumlah raka’atnya, boleh 8, boleh 11, 20 sampai tak hingga. Semakin banyak sholat sunnah dimalam-malam bulan Ramadhan tentu lebih baik dalam hal ibadah, asalkan tetap mengacu pada kemampuan diri, jika kita sanggupnya 8 ya 8 saja, jika sanggup 100 raka’at ya lakukan 100 raka’at. Jangan pernah memaksa diri karena tubuh juga ada hak untuk beristirahat. Secara logika, sholat ini adalah sholat sunnah, namanya sholat sunnah yaitu sebagai sholat tambahan, boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, sebagai sholat yang tidak diwajibkan, maka logikanya lagi pasti tidak ada pembebanan dalam melaksanakannya, bisa dilakukan berdasarkan keikhlasan dan kesanggupan masing-masing orang, sebab manakala sesuatu itu menjadi beban, maka saat itu juga dia berlawanan dengan prinsip Islam sendiri yang mengedepankan “mudahkan urusan orang, jangan dipersulit” serta doktrin “Tuhan tidak akan membebani hal diluar kesanggupan umatnya” dan “Tidak ada paksaan dalam beragama”. Bahkan untuk sholat wajib saja ada banyak sekali kemudahan yang bisa kita peroleh, apalagi sholat sunnah.

—–

Referensi : Eramuslim, Milis Iqra

Artikel terkait :
1. Persiapan Menyambut Ramadhan
2. Awal Ramadhan 1429 H
3. Hukum Tarawih Berjama’ah


11 thoughts on “Jumlah Raka’at Sholat Tarawih

  1. Setuju dengan Ramadani, yang slah yang gak terawih………….
    Hari gini masih mempersalahkan jumlah rekaat …….

  2. masalahnya bukan jumlah rakaatnya, tetapi dalam hal apapun (khususnya beribadah), setiap tindakan kita harus tahu dasarnya. menurut saya inilah yang terpenting.

  3. wekekekek. betul, boleh aja ga tarawih. wong hukumnya sunnah koq.
    saya juga sempat ga tarawih. waktu itu ada tamu di rumah. karena satu dan lain hal, tamu itu ga bs tarawih. so, saya jg nda tarawih. wong menghormati tamu itu wajib, dan tarawih itu sunnah…

    truz kata2 ini
    …Bagaimana mungkin Aisyah ra meriwayatkan hadits tentang shalat tarawih beliau SAW? …
    ya mungkin aja. wong rumah rosululloh sama masjid kan cm dipisahkan dinding aja…
    gmn sich?!!!

  4. Kalau boleh mengkritisi..
    Ustadz Mustafa Ya qub gegabah dalam mengomentari pendalillan dari hadist Aisyah dengan menyatakan:

    “Tetapi di dalam hadits shahih ini, Aisyah ra sama sekali tidak secara tegas mengatakan bahwa 11 rakaat itu adalah jumlah rakaat shalat tarawih. Yang berkesimpulan demikian adalah para ulama yang membuat tafsiran subjektif ”

    Pendapat saya : Padahal dalam hadist tersebut sangat jelas sekali bahwa secara keumuman bahwa sholatnya Rasulullah 11 rakaat di waktu malam baik bulan Ramadhan maupun yang lain..

    Ulama yang menafsirkan hadist tersebut bukanlah secara subyektif, tetapi ada penguat dari hadist lain yaitu Hadist jabir bin Abdillah Ra..Ia berkata : Rasulullah SAW Sholat dengan kami pada bulan Ramadhan 8 Rakaat dan Witir. Ketika malam berikutnya, kami berkumpul di masjid dengan harapan beliau sholat dengan kami. Maka Kami terus berada di Masjid hingga pagi, kemudian kami masuk dan bertanya.”ya Rasulullah , tadi malam kami berkumpul di Masjid, berharap anda sholat bersama,” Maka beliau bersabda,” Sesungguhnya aku khawatir diwajibkan atas kalian,” (HR Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah di hasankan Syaikh Albani (Sholat At Tarawih,18;Fath Al Aziz. 4/265)..

    Jadi Kalaupun Ustadz Mustafa Yakub yang menyebutkan bahwa Hadits yang diriwayatkan Ja‘far bin Humaid Ra“Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir”. itu palsu dan dusta…bukan berarti tidak ada dalil hadist yang lain , silahkan lihat hadist hasan yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah Ra yang saya tuliskan di atas….

    Sholat Tarawih 11 Rakaat ini juga diperkuat oleh Riwayat Shahih Umar Ra memerintahkan Ubay Ra dan Tamim Al Dari Ra untuk Sholat 11 rakaat…. (Diriwayatkan Imam Malik di sangat diShahihkan Imam Suyuthi dan Imam Subkhi juga Imam Albani menilai Shohih sekali)

    Sehingga sangatlah keliru bila Ustadz Mustafa Ya’qub menyatakan bahwa sholat tarawih 8 rakaat tidak ada dalil yang menjadi pegangan ….

  5. Shalatul lail/qiyamul lail/qiyamul Ramadhan/shalat tarawih/ shalat tahajjud adalah nama lain dari shalat malam yang dilakukan Nabi SAW atau sahabat. Disebut qiyamul Ramadhan karena shalat malam itu di bulan Ramadhan. Disebut shalat tahajjud karena dilakukan setelah tidur malam. Disebut shalat tarawih karena dilakukan secara santai (istirahatistirahat, santai-santai). (Kitab “Sekitar Masaalah Taraweh” oleh KHE Abdurrahman, Penerbit Bandung, hal : 1-28).

    Adalah lucu kita ini, meskipun Nabi SAW melakukan qiyamul Ramadhan dengan santai, tidak buru-buru, namun tidak menamakannya shalat tarawih, tapi kita menamakan shalat tarawih (= santai) dari qiyamul Ramadhan itu, justru kita tidak melakukannya dengan santai, tapi terburu-buru (“express“). Jadi jangan harap anda bisa jumpa kata “shalat tarawih“ pada hadist atau atsar yang menjelaskan shalat malam. Semua menggunakan kata shalatul lail atau qiyamul Ramadhan.

    Nah, kalau ada ustad mengatakan Nabi SAW tak pernah melakukan shalat tarawih, itu ustad “ngelamun“. Padahal qiyamul Ramadhan Nabi SAW, itulah shalat tarawih Nabi SAW seperti yang kita namakan. Cuma masalahnya apakah 11 rakaat atau 21, 23, 26, 36, 40 rakaat yang dilakukan Nabi SAW ?

    Pada judul “Tarawih 11 Rakaat dari Nabi SAW dan 21, 23, 26, 36, 40 rakaat dari pendapat kalangan ulama“ mari kita kaji buktinya !

    Tarawih 11 Rakaat
    Shalat tarawih 11 rakaat, rujukannya (sandaran hukumnya) adalah :
    1. HR Bukhari dan HR Muslim: Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya pada Aisyah RA tentang shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Maka ia menjawab: “Tidak pernah Rasulullah SAW kerjakan di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat. Ia shalat 4 (rakaat) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia shalat 4 (rakaat) jangan engkau tanya panjang dan bagusnya, kemudian ia shalat 3 rakaat“.

    2. HR Thabarani dan Ibnu Nashr : Dari Jabir bin Abdullah RA ia berkata: Rasusullah SAW pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan 8 rakaat dan witir (3 malam berturut-turut). Maka pada hari berikutnya (hari ke empat) kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau ke luar (untuk shalat), tapi ia tidak keluar hingga kami masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya (datang ke kamarnya), lalu kami berkata : Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan orang mau shalat bersama kami, maka sabdanya : “Sesungguhnya aku kawatir (shalat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian“. (Kitab “Kelemahan Riwayat Tarawih 20 Rakaat“ oleh Syeikh Nashiruddin Albani, hal.17).

    3. HR Malik-al Muwath-tha’I : 137,138 : Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saaib bin Yazid bahwasanya ia berkata: Umar RA telah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Daary mengimami orang-orang dengan 11 rakaat. Ia berkata : “Imam pada waktu baca ratusan ayat, sehingga kami bersandar dengan tongkat karena lamanya berdiri dan kami tidak selesai kecuali menjelang fajar“.

    Maka jelaslah bagi kita dengan hadist pertama dan hadist kedua menunjukkan Nabi SAW dan sahabat melakukan shalat malam (tarawih) tidak lebih dari 11 rakaat. Inilah contoh atau pedoman jumlah rakaat shalat malam (Qiyamul Ramadhan)/ shalat tarawih yang dikerjakan Nabi SAW dan shalat Umar bin Khtattab RA.

    Catatan :
    Ada yang menuduh tarawih yang 11 rakaat itu adalah shalat witir. Tuduhan ini pembohongan atau pembodohan pada umat. Sebab, witir itu artinya ganjil. Yang 11 rakaat itu bukan dibentuk oleh 1 shalat ganjil. Tapi dibentuk oleh 2 shalat genap (4 rakaat, 4 rakaat) dan 1 shalat ganjil (3 rakaat). Apakah 4 rakaat itu shalat ganjil ?

    Dan bila rujuk pada sunnah, tidak pernah (tidak ada) petunjuk Nabi SAW shalat witir dengan 2 salam, apakah witir dengan 3 rakaat, apakah 5 rakaat apakah 7 rakaat atau 9 rakaat.

    Jadi untuk shalat witir, apakah anda mencontoh Nabi SAW, di mana 3 rakaat dengan 1 salam atau buatan (rekayasa) sebagian ulama di mana 3 rakaat dengan 2 salam ? HR Bukhari & Muslim : Dari Qosim bin Muhammad, katanya : “Saya mendengar
    Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW shalat malam sebanyak 10 rakaat dan berwitir 1 rakaat.

    Tarawih 23 Rakaat
    Sedangkan shalat tarawih 23 rakaat rujukannya :

    1. Atsar Riwayat Malik : Yazid bin
    Rummah berkata : “Adalah orang-orang shalat malam (tarawih) pada zaman Umar RA sebanyak 23 rakaat”.

    Oleh ahli Hadist Syeikh Nashiruddin Albani peneliti Hadist terkenal di Timur Tengah menyatakan hadist itu palsu karena sanadnya Yazid bin Rummah tidak pernah ketemu Umar RA (Umar wafat, Yazid bin Rummah baru lahir). Jadi HR Malik ini tak dapat digunakan sebagai rujukan (sandaran hukum), karena Riwayat itu palsu.

    Kemudian bila kita cermati bunyinya, tidak menyebut Umar RA turut melakukan 23 rakaat. Bila Umar RA turut, tentu bunyinya : “Umar RA dan orang-orang di zamannya melakukan shalat tarawih 23 rakaat”. Hadist atau atsar adalah merupakan hukum, jadi setiap katanya menjadi pedoman.

    2. Tarawih 23 rakaat berdasarkan rekayasa ulama. Buktinya, timbulnya 23 rakaat, penyebabnya serupa dengan yang 21, 26, 36, 40 rakaat, adalah hasil rekayasa sebagian ulama, di mana mengatasi kejenuhan jamaah shalat malam (tarawih) kalau mengikut bacaan seperti Nabi SAW setiap 1 rakaat + 2 s/d 4 surat, maka oleh ulama belakangan membuat (merekayasa) jumlah rakaat diperbanyak 21, 23, 26, 36, 40 rakaat, agar cukup atau 1 surat setiap rakaat yang dibaca, tidak meletihkan berdiri lama.

    Kemudian shalawat dan doa (yang dibacakan kuat) setelah selesai salam setiap 2 rakaat juga tidak ada petunjuk Nabi SAW, kecuali itu rekayasa ulama.(lihat kitab “KESAHIHAN DALIL SHALAT TARAWIH 20 RAKAAT“ oleh K.H M.Hanif Muslim, Lc. hal. 33, 35, 36, 52, 53, 54).

    Kesimpulan
    1. Tuduhan Umar RA melakukan 23 rakaat itu fitnah, karena tidak masuk akal Umar RA sahabat Nabi SAW yang begitu setia, mau melanggar ketetapan/ petunjuk Nabi SAW dalam ibadah, di mana Nabi SAW melakukan 11 rakaat. Terbukti dari penjelasan HR (Atsar) Malik di atas, di mana Umar RA pernah menyuruh Ubay bin Ka’ab mengimami orang-orang dengan 11 rakaat (shalat
    makam/tarawih). Jadi terbukti Umar RA tetap mengamalkan 11 rakaat, tidak pernah 23 rakaat.

    2. Shalat malam (tarawih) yang 11 rakaat adalah shalat malam (tarawih) dari Nabi SAW. Dan ini adalah atas petunjuk Allah SWT. Karena : “Tidaklah Muhammad SAW itu berbuat kecuali atas petunjuk Allah SWT“ Berarti 11 rakaat adalah yang Ridho Allah SWT. Shalat malam (tarawih) yang 23 rakaat terbukti itu adalah rekayasa ulama, bukan petunjuk Nabi SAW.

    3. Kemudian kita mempunyai rukun iman : Pertama : percaya pada Allah, ke-dua : percaya pada Rasul-Nya, ketiga: percaya pada kitab-Nya …..dst. Berarti petunjuk Nabi SAW lebih mulia di sisi Allah SWT dibanding petunjuk ulama. Kemudian sesuai sabda Nabi SAW: “Sebenar-benarnya perkataan adalah Kitabullah, semulia-mulia petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW ……dst“.

    4. Timbul tantangan, apakah kita mendahulukan mengamalkan petunjuk Nabi SAW (petunjuk Allah SWT) daripada mendahulukan mengamalkan petunjuk ulama demi untuk tidak tercemar rukun iman?

    Tentu pedomannya adalah : QS.An- Nisa’ 59 : “Hai orang-orang yang beriman …….dst, jika kamu berbeda pendapat maka kembalilah pada Allah dan Rasul, jika kamu benar beriman pada Allah dan (percaya) hari kiamat“. Jadi kita dituntut untuk kembali pada petunjuk Allah dan Rasul jika berbeda pendapat. Kembali pada Allah dan Rasul maka kita wajib mengamalkan yang 11, rakaat demi rukun iman.

  6. assalamualaikum
    saya mau tanya dengan bpk Hery Romadhan.
    Saya orang awam, dimana masjid disekitar tempat tinggal saya sholat terawihnya 11 rekaat, lalu saya baca pendapat bapak diatas yang “Padahal dalam hadist tersebut sangat jelas sekali bahwa secara keumuman bahwa sholatnya Rasulullah 11 rakaat di waktu malam baik bulan Ramadhan maupun yang lain..”
    pertanyaan saya Pak, dalam bulan ramadhan apakah kita masih boleh melakukan sholat malam/ seperti sholat tahajjud, tasbih, hajat, dll?? kalo kita melakukannya juga kan berarti menambah jumlah rekaat? mohon penjelasannya pak…… terimakasih. wassalam………..

  7. Berarti dari keterangan di atas rosululloh tdk pernah mndirikan shlat tarowih dan hnya shlat lail?terus bagaimana klo kita shlat tarowih sedang rosul tdk mmberi cntoh apa tdk bi’ah klo kt mlkukan shlat tarowih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s