Pengeras Suara Masjid

Dimana-mana terlebih di bulan Ramadhan, suara dari pengeras suara masjid/musholla bergema dimana-mana. Tidak hanya pada saat adzan, tapi juga sholat, tadarus qur’an, ceramah agama, zikir dan sebagainya juga disuarakan melalui speaker luar dengan volume yang sangat keras dan waktu yang lama serta tidak mengenal waktu (tengah malam, subuh). Apakah ini memang salah satu cara untuk mensyiarkan Islam ataukah malah masuk kategori mengganggu tetangga?

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An Nisaa’ 4:36)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku mengenai tetangga sampai aku mengira bahwa dia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris. (Shahih Muslim No.4757)

“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya.” (HR. Al-Baihaqi) .

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam sendiri sebenarnya sudah melihat hal ini sejak lama sehingga merasa perlu mengeluarkan SK No. KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushola tanggal 17 Juli 1978. Namun demikian tampaknya masih banyak pengurus masjid/musholla yang belum menjalankannya.

Bagi yang berminat mendapatkan copy SK tersebut dalam file pdf (339 kb), silahkan download disini.


About these ads

7 thoughts on “Pengeras Suara Masjid

  1. alhamdulillah… masalah membaca qur’an dengan dikeraskan lewat pengeras suara sebenarnya juga telah dibahas oleh para ulama. Dan saya mendapatkan bahwa mereka juga melarangnya karena hal itu menganggu bacaan orang2 yg sedang shalat malam, dan juga “memaksa” muslim lain utk mendengarkan krn jika alquran dikumandangkan harus didengarkan. Masjid di kampung saya alhamdulillah sudah tidak lagi mengeraskan suara hingga ke luar masjid. Dan itu ternyata mengundang simpati masyarakat non muslim. Setiap tahun, ada saja non muslim yg masuk Islam (bersyahadat) di masjid kami. Walhamdulillah.

  2. untuk mengaji, ceramah, dll. setuju tidak pelu pake speaker kenceng2 hingga terdengar ke desa tetangga. Tapi untuk adzan kiranya tetap perlu pake pengeras suara! Mudik kemarin di kampung suami, adzan subuh ‘nyaris’ tak terdengar… Biasanya lebaran dulu kami selalu terbangun pas adzan berkumandang. Tapi lebaran kemarin, kami hampir selalu -terutama suami- melewati sholat subuh di masjid karena suara adzan yang “nyaris” tak terdengar tadi!Maksud hati toleransi, namun apa daya muslim jadi tidak sholat pas waktunya.

  3. @poppop: adzan itu dikumandangkan untuk sebagai tanda waktu shalat dan utk memanggil orang shalat, bukan untuk membangunkan orang tidur.

  4. mungkin maksudnya pakai ampli keras keras agar tuhan mendengar, tidak perduli dengan orang sekitar mesjid pekak ( lebih dari 130 dB, yaitu dimana kita bercakap cakap dalam jarak satu meter, tidak bisa saling mendengar, karena kerasnya toa mesjid)

    inilah ajaran ustadz sinting !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s