Metode Dakwah

Kalau kita perhatikan sekarang ini, dakwah ke-Islaman sedang tumbuh bak jamur di musim hujan. Lihat saja setiap subuh di media televisi yang hampir semua stasiun menayangkan ceramah agama. Begitu juga radio-radio Islam yang banyak bermunculan di berbagai pelosok tanah air. Ini tentu patut kita syukuri. Namun ada hal yang menggelitik yaitu seberapa  efektif sebenarnya dakwah yang sudah disampaikan. Kenapa perilaku umat seperti tidak ada perubahan yang significant. Peringatan para ustadz pada setiap ceramahnya tidak kurang-kurangnya mengenai haramnya mengambil hak orang lain, tapi tetap saja korupsi merajalela. Ibu-ibu rajin ikut pengajian (shalawatan) tapi berghibahnya juga tidak berkurang. Dimananya yang salah? Benarkah metode dakwah yang dikembangkan selama ini kurang mengena?

Hal pertama yang kami lihat adalah “content” dakwah. Kebanyakan para ustadz khususnya di “grass root” terlalu menekankan pada hitungan pahala pada setiap ceramahnya.

Seolah-olah umat tidak ada perkembangan dalam ilmu agamanya sehingga selalu diajari pada tingkat elementary.

Hal yang kedua adalah contoh. Ada satu cerita nyata. Ustadz pada ceramah sebelumnya menganjurkan agar jamaahnya mengamalkan puasa sunat Senin-Kamis. Kebetulan suatu waktu taklimnya diadakan pada hari Senin. Eh… begitu disodori air putih sang ustadz langsung minum. Bagaimana umat mau menjalankan apa yang disampaikan kalau ustadz-nya sendiri tidak memberikan contoh. Harus disadari bahwa budaya paternalistik masih sangat kental di lingkungan kita. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Hal ketiga adalah metode dakwah tidak bisa hanya dengan kata-kata harus ada pemecahannya. Sebagaimana dikatakan oleh Dr Afif Muhammad MA (Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung) seharusnya dakwah mampu menjaga umat agar menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dakwah haruslah membuat umat tetap senang dalam Islam dan bukan hanya ngomong kamu salah. Kalau mereka pindah agama itu kesalahan kita, karena dakwah kita banyak sebatas omong. Dakwah mereka sudah menggunakan lambang ekonomi. Kesimpulannya, metode dakwah, dan pembelajaran Islam, tidak akan punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan hidup, membuat orang amanah, kerja keras. Karena isinya hanya doktrin-doktrin eskatalogis. Harusnya ada penguatan di dalam diri umat. Jangan jadikan dakwah sebatas dongeng.

Lalu apa yang bisa dilakukan terkait kondisi ini?

Institusi penghasil juru dakwah mau tidak mau harus direformasi. Ada dua cara. Pertama, selektifitas, dan yang kedua, proses pembelajaran. Selektifitas harus lebih ketat, contohnya untuk tafsir hadist, seharusnya mahasiswa yang masuk telah menguasai Al-Quran. Proses pembelajaran malah lebih penting dari seleksi karena dari situ komitmen dosen juga dilihat. Kurikulum baik di IAIN maupun di pondok-pondok pesantren sudah seharusnya dievaluasi sehingga hal yang menyangkut akidah dan akhlak mendapat porsi yang sesuai. Kurikulum harus dikembangkan, jangan hanya menerima.

One thought on “Metode Dakwah

  1. btul, dakwah bukan sekedar dongeng…..

    saya juga pernah dengar seorang ustadz ceramah yang isi ceramahnya selalu menceritakan kematian dan dunia akhirat, seakan-akan tu ustatd pernah ngeliat aja, gimana dunia akhirat !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s