Tetralogi “Laskar Pelangi”

Akhir tahun 2007 harian terkemuka Republika memilih 10 tokoh yang dianggap paling berpengaruh terhadap perubahan. Salah satunya terpilih Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. Andrea yang walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra telah menghasilkan 3 novel yang dicetak berulang kali dalam waktu yang relatif singkat sehingga membuat decak kagum tak berkesudahan. Laskar Pelangi (2005) 14x, Sang Pemimpi (2006) 11x, Edensor (2007) 8x. Banyak yang terinspirasi dengan ceritanya, banyak yang kagum dengan kegigihannya. Banyak yang tergila-gila dengan suara mata batinnya.

Anak muda kelahiran Belitong, Sumatera Selatan ini sebagaimana putra Melayu lainnya yang tinggal di kawasan Semenajung Malaka, seperti sudah dianugerahi talenta sastra sejak dalam buaian. Belum lagi dalam darahnya sepertinya sudah terkontaminasi getah aren yang bisa membuat orang lain bergelinjang tak karuan saat membaca tulisannya. Kesemua tulisan Andrea bercerita tentang kehidupan dan pengalaman pribadinya mulai sejak kecil, remaja sampai beranjak dewasa. Karenanya saya lebih suka menyebut tetralogi Laskar Pelangi bukan sebagai novel tapi otobiografi yang dituturkan dalam bahasa sastra. Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Kata novel sendiri berasal dari bahasa Itali “novella” yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.

Tetralogi Laskar Pelangi ibarat novel Ulysses karya James Joyce, seorang Irlandia yang beraliran modernis. Ulysses mengisahkan petualangan tokoh utamanya Leopold Bloom menyusuri kota Dublin pada tanggal 16 Juni 1904. Ulysses sendiri pertama kali diterbitkan dalam bentuk cerita bersambung dalam jurnal sastra Amerika The Little Review dari tahun 1918 sampai 1920. Ulysses kemudian diterbitkan dalam bentuk buku di Paris pada 2 Februari 1922 oleh Shakespeare & Co. Andrea Hirata dan James Joyce memiliki kemiripan, yaitu sungguh cerdas melakukan berbagai eksperimen dalam prosa, antara lain parodi, permainan kata, kaya akan humor dan penokohan yang kuat.

Membaca otobiografi Andrea terutama kehidupannya di waktu kecil dan remaja, seperti melihat diri kita sendiri yang menjadi tokoh disana. Kita seperti membaca ulang “diary” yang dulu pernah kita tulis dan terselip entah dimana, dan catatan-catatan lusuh tersebut baru sekarang kita temukan. Kita bisa tersenyum dan tertawa saat mengingat kejadian lucu, sebaliknya bisa terharu bahkan menangis ketika tergambar kejadian menyedihkan dan menyentuh hati. Kita menjadi begitu antusias dan bergairah membacanya. Disitulah letak kekuatannya! Tak ada gading yang tak retak. Walaupun pada beberapa bagian agak membosankan dan sempat terlihat disorientasi tapi hal tersebut tidak ada artinya dibandingkan kekuatan dahsyat yang melingkupinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s