Ayat-Ayat Cinta

Selain Andrea Hirata dengan Tetralogi Laskar Pelangi-nya, novelis lain yang menerima penghargaan dari harian Republika sebagai orang yang paling berpengaruh terhadap perubahan adalah Habiburrahman El Shirazy melalui novelnya Ayat-Ayat Cinta. Novel yang bernafaskan keagamaan ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2004 dan sampai awal tahun 2008 sudah cetak ulang sebanyak 23 kali! Bagaimana asal muasalnya sampai tercipta penulisan novel ini, berikut petikan wawancara dengan sang pujangga muda yang kami ambil dari website Republika Online.

Obat Rindu untuk Kairo

Ketika itu 23 Mei 2003. Saat pulang dari Semarang untuk kembali mengajar di MAN I Yogyakarta, Habiburrahman El Shirazy mengalami musibah kecelakaan di Sleman hingga mengalami patah tulang kaki kanan. Setelah sempat dirawat selama sembilan hari di RS Panti Rapih, Yogyakarta, akhirnya dia dibawa pulang ke Bangetayu Wetan, Semarang, untuk berobat jalan. Selama pemulihan di Semarang ini, hari-hari pria kelahiran Semarang, 30 September 1976 yang akrab dengan sapaan Kang Abik ini dilalui layaknya dalam “penjara rumah”, terkungkung. Praktis dia tidak bisa ke mana-mana dalam kondisi sakit.

”Alhamdulillah, buku-buku yang saya bawa dari Kairo semua sudah ada di rumah di Semarang. Buku-buku itulah yang menjadi teman saya. Dalam kondisi seperti itu, saya merasakan kerinduan kepada Kairo,” ujarnya. Ketika kerinduan itu tak terbendung lagi, dia pun teringat pada sebuah cerpen yang pernah ditulisnya saat musim panas di Kairo. Cerpen berjudul “Suatu Hari Di Musim Panas” itu sebenarnya belum selesai. Untuk mengobati kerinduan itu, akhirnya muncul keinginan merampungkan cerpen tersebut. ”Tak terasa saya sudah melanjutkan sampai 23 halaman. Sayangnya, semua itu belum masuk pada konflik. Akhirnya, muncul gagasan untuk menggabungkan cerpen dengan novel yang belum terselesaikan di Kairo,” ujarnya.

Rupanya, sengsara membawa nikmat. Berawal dari kisah sengsara kecelakaan, pria ini pun meluncurkan novel laris berjudul Ayat Ayat Cinta. Tidak hanya laris manis, novel yang terus  dicetak ulang ini berhasil meraih penghargaan sebagai karya novel terbaik dalam Islamic Book Fair (IBF) 2006. Bahkan, kabarnya novel ini akan tampil di layar kaca. Namun, Abik tetap lebih suka berada jauh dari ingar-bingar itu. Dia, bersama istri dan anaknya yang baru lahir, lebih suka tinggal di sebuah dusun kecil di pinggiran Kota Salatiga, Jawa Tengah, bernama Dusun Bugel.

Pada wartawan Bowo Pribadi, suami Muyasaratun Sa’idah yang kini sedang merintis pesantren Karya Basmala di Ngaliyan, Semarang, ini menuturkan banyak hal tentang novel dan keinginannya.

Bagaimana Anda mendapat inspirasi untuk menulis novel ini?
Untuk judul, Ayat Ayat Cinta ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2001. Saat saya masih belajar di Kairo, Mesir. Berangkat dari tadabur pada surat Az-zuhruf:67. Dalam tadabur saya, ayat ini sangat penting. Karena memaktubkan kode etik bercinta dan bagaimana harus menyayangi, `Orang-orang yang saling mencintai tidak akan selamat di akhirat kelak, kalau mereka tidak bertakwa’. Inilah yang memotivasi saya untuk menulis Ayat Ayat Cinta dalam bentuk novel.

Bagaimana prosesnya saat itu?
Ketika itu, saya sudah menemukan judulnya Ayat Ayat Cinta, yang secara kebahasaan berarti tanda-tanda cinta atau sinyal-sinyal cinta. Awalnya, saya sudah membuat alur cerita. Setelah sempat menulis sampai satu bab harus terputus hingga kembali ke Tanah Air pada Oktober 2002. Persiapan khusus bahkan tidak ada. Semua ini merupakan pengkristalan ide yang telah mengendap sejak saat itu. Boleh dibilang proses berawal dari ide yang sebelumnya sudah ada. Sedangkan ide gres-nya, dari kerinduan saya terhadap Kairo, kota tempat saya pernah menghabiskan waktu dalam perjalanan hidup.

Kapan novel tersebut Anda rampungkan?
Satu bulan berikutnya, novel ini selesai saya kerjakan. Tepatnya, Rabu 8 Oktober 2003, pukul 01.03 dini hari. Tulisan asli tersebut akhirnya saya kopi tujuh untuk saya persembahkan kepada orang-orang yang saya anggap berkenan untuk membacanya.

Bagi Anda sendiri, apa makna Ayat Ayat Cinta?
Bagi saya, Ayat Ayat Cinta itu luas. Karena dalam novel ini menyuguhkan cinta yang tak sekadar antara laki-laki dan perempuan. Namun, juga cinta murid kepada gurunya, yakni Fahri dengan Syaikh Utsman Abdul Fatah, cinta anak kepada bapaknya, cinta sesama teman di perantauan, bahkan hingga cinta kepada Tanah Air.

Apakah Anda menyangka jika novel Ayat Ayat Cinta ini bakal laris manis?
Saya tidak menyangka sejauh itu. Sebab, dari awal yang terpikir adalah saya hendak merampungkan cerpen sebagai obat rindu. Apalagi di dunia sastra Indonesia ini saya belum ada apa-apanya. Ketika Mas Ahmadun Yosi Herfanda (redaktur budaya Republika-red) mengontak saya agar tulisan ini dimuat secara berseri di harian Republika, saya pun belum menyangka, kecuali (berpikir) cerpen saya tersebut bakal tambah pembaca. Ya itu tadi, begitu selesai saya sempat mengopi untuk saya persembahkan kepada tokoh atau orang yang berkenan membaca tulisan saya seperti Helvy Tiana Rosa, Joni Ariadinata, serta Ahmad Tohari. Hanya sebuah komentar yang saya minta untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada diri saya.

Kerinduan terhadap Kairo adalah motivasi utama Abik menuntaskan novelnya. Untuk mengembalikan suasana Kairo, dia pun berstrategi. Agar detail suasana asli kota Kairo dapat tertangkap, dipasangnya peta Kairo di atas komputer butut yang ada di kamarnya. Tak cukup, lagu-lagu nasyid yang selalu didengar di Kairo pun selalu diputarnya kembali. Bahkan, suasana kamar rumahnya saat itu dibuat persis seperti suasana kamar flat yang pernah dihuninya di Kairo. Suasana seperti ini memang sengaja diciptakannya. Dia benar-benar ingin merasa sedang berada di Mesir. Suatu saat, kegembiraan yang pernah dirasakan di kota seribu menara tersebut bisa didapatkannya. Begitu pula saat suasana sedih menghampiri.

”Tanpa sadar, air mata ini kadang mengalir tanpa dapat dicegah.” Semua menyatu dan membuatnya larut dalam lubuk batin. Baginya, hal ini sangat membantu untuk masuk dalam suasana yang akan dituangkannya dalam novel. Bahkan, begitu semangatnya menulis dalam suasana ini, sang adik sempat mengatakan dirinya sedang `edan’. Semua ini demi sebuah novel.

Bagaimana Anda bisa menggambarkan penjara di Mesir sangat detail?
Bisa dong, namanya juga orang yang sedang rindu. Dalam keadaan seperti ini kita bisa membongkar semua ingatan. Itulah yang terjadi, ketika saya rindu terhadap Kairo. Detail gambaran penjara di Mesir saya dapatkan dari para mahasiswa asli sana (Mesir). Mereka kadang-kadang ikut aksi dan harus berurusan dengan pihak berwajib bahkan ditangkap. Selain itu, saya juga banyak dibantu oleh karya penulis Nadjib Khailani, sastrawan Mesir yang beberapa karya novelnya banyak bercerita tentang penjara di Mesir. Jadi, saya banyak terbantu oleh faktor ini.

Anda lama tinggal di Mesir. Setelah pulang, apakah merasa kecewa dengan keadaan di Tanah Air?
Dalam banyak hal pasti ada. Saya gambarkan, pada tahun 1996-1997 saat saya masih tingkat dua di Al Azhar. Indonesia sangat terkenal waktu itu. Pada suatu kesempatan BJ Habibie diundang ke Kairo oleh Presiden Husni Mubarak untuk bertemu dengan beberapa tokoh dunia. Di sana dipresentasikan negara kita salah satu di antara negara Asia yang sedang berkembang pesat. Swasembada beras, perekonomian stabil, sudah bisa membuat pesawat terbang, dan setumpuk cerita sukses lainnya. Namun, satu tahun kemudian, keadaan berubah saat krisis melanda dunia. Banyak teman dari negara lain di Al Azhar terpaksa harus pulang akibat kesulitan biaya. Kita bersyukur, mahasiswa asal Indonesia bisa tetap bertahan. Namun, sempat malu juga. Karena dalam setiap kesempatan khotbah Jumat, selalu diumumkan imbauan untuk membantu mahasiswa asal Indonesia.

Anda menemukan benturan nilai?
Ketika kembali, saya melihat nilai kesadaran untuk menunjukkan jati diri bangsa ini sangat tipis. Mengapa mereka lebih bangga dengan mendatangkan wacana-wacana asing tanpa ada usaha untuk menggali potensi budaya sendiri.

Ini pula salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui Ayat Ayat Cinta?
Boleh dibilang demikian. Saya ingin `bersaham’ dalam membangun karakter negeri ini. Sehingga, kenapa saya mencantumkan Sebuah Novel Pembangun Jiwa dalam Ayat Ayat Cinta. Fahri berusaha menjaga identitas dan menjunjung tinggi etika. Ketika diajak berdansa untuk menghormati Maria, dia berprinsip penghormatan tidak harus dengan berdansa. Berperilaku yang baik baginya lebih utama daripada ikut-ikutan berdansa. Yang penting dia mampu mendialogkan prinsip ini dengan bijak.

Selama di Mesir, apa yang paling berkesan bagi Anda?
Adalah keberhasilan saya naik ke tingkat dua di jurusan hadis, Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar. Sebab tahun pertama ini harus ditempuh dengan sistem sekali ujian tanpa ada pengulangan. Artinya, jika gagal satu mata kuliah saja harus mengulang lagi satu tahun. Ini sempat membuat saya tegang menjelang pengumuman kelulusan. Maklum, saat itu tahun pertama saya belajar di Mesir. Bahkan, sempat terlintas pikiran jika tidak lulus, berarti saya tidak layak berada di situ. Alhamdulillah, setelah pengumuman tiba, hasilnya semua mata kuliah lulus. Saya merasakan hari itu sangat indah. Ini pula yang terus meyakinkan bahwa saya layak belajar di universitas tertua di dunia ini.

Mengawali menulis sejak masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Surakarta, pria sederhana ini tekun mengembangkan kemampuan. Hasilnya, sederet prestasi dan pengalaman banyak didapatkannya. Mulai dari juara II lomba menulis artikel se- MAN I Surakarta (1994) hingga mendapatkan kepercayaan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia untuk membacakan puisinya keliling negeri jiran dalam Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9 pada 2002. Namun, lantaran sempat nyantri di Pondok Pesantren Futuhiyah, Mranggen, Kabupaten Demak menghadirkan nuansa yang berbeda untuk dia. Baginya, dampak pendidikan di pesantren sangat berperan dalam perjalanannya terutama dalam mengenal kitab- kitab klasik, dasar-dasar tata bahasa (qowaid), gramatika bahasa Arab, dan sebagainya. Dari pondok pesantren pula, dia bisa mendapatkan dan mengenal sikap- sikap moderat berupa sikap ber-Islam dengan warna moderat. Inilah yang sangat berperan dalam mengantarkan karier intelektual serta apa yang kini telah dilakukannya .

Sebagai tokoh sentral, banyak orang bilang Fahri adalah figur yang sempurna. Bagaimana menurut Anda?
Benar, saya akui kritikan itu memang banyak saya dengar langsung. Tak hanya dari pembaca, namun juga para satrawan. Bahkan, di kalangan mereka persoalan ini pun sempat jadi perdebatan seru. Jujur saja, Fahri sebenarnya tidak sesempurna itu. Karena saya juga banyak mendapatkan masukan kalau Fahri kok cengeng, Fahri kok terlalu lembek, dan lain-lain. Ini memang saya bikin demikian, karena saya punya tujuan. Orang-orang dari kampung seperti saya, melalui novel ini, saya harapkan bisa lebih percaya diri, atau yang bahasa sekarangnya pede. Terutama ketika harus tampil di mana saja, termasuk di dunia internasional sekalipun. Saya juga ingin menegaskan bahwa martabat seseorang dapat diangkat melalui ilmu. Fahri, pemuda penjual tape, ketika serius belajar dan menuntut ilmu martabatnya akan terangkat. Bisa kumpul dengan dan akrab dengan syaikh, bisa jadi profesor, bisa mendapatkan teman Alicia yang seorang wartawan dari Amerika, dan masih banyak hal lain yang juga saya gambarkan dalam novel ini.

Setelah Ayat Ayat Cinta, apa sudah ada rencana membuat novel lagi?
Wah, itu pasti. Karena saya sudah banyak ditagih para pembaca. Dari judul yang sudah saya persiapkan, di antaranya adalah Langit Makkah Berwarna Merah yang kini telah rampung sekitar 75 persen, Dalam Mihrab Cinta, serta Bidadari Bermata Bening. Insya Allah, yang bakal segera saya luncurkan adalah Ketika Cinta Bertasbih. Bahkan, saat ini saya sedang memikirkan matang-matang permintaan pembaca yang menginginkan novel Ayat Ayat Cinta dibuat sekuel.

Anda baru saja mendapat anugerah seorang putra. Selain kebahagiaan, apa maknanya bagi Anda?
Alhamdulillah, saya diberikan nikmat yang agung dengan kehadiran putra pertama, Muhammad Neil Author. Saya sangat merasakan, janji Allah benar ‘Jika mereka fakir maka Allah akan mengayakan’. Setelah anak pertama lahir pada 18 Februari 2006 lalu, alhamdulillah saya mendapatkan penghargaan dari Islamic Book Fair (IBF) 2006. Ini rezeki bagi kami. Setelah hak cipta Ayat Ayat Cinta ini sudah dipatenkan, saat ini juga sudah ada tawaran novel ini untuk segera difilmkan. Bahkan, versi bahasa Inggrisnya juga sedang dipersiapkan oleh kawan-kawan yang ada di Kanada. Sebuah nikmat dari Allah yang sukar saya lukiskan.

Draf asli Ayat-Ayat Cinta saya abadikan sebagai mahar dalam perkawinan di Salatiga pada 3 September 2004.

4 thoughts on “Ayat-Ayat Cinta

  1. Selamat buat Habiburrahman El Shirazy .., Novel “Ayat – ayat Cinta” merupakan warisan berharga buat generasi Islam khususnya.
    Suatu alternatif media dakwah telah digulirkan…., kita nantikan penulis berbakat lainnya….!

    Rgds,

    A. Muttaqin

  2. Mmg menarik membaca novel sembari mendpt siraman rohani. Saya pikir apa yg dikemukakan dlm ayat2 cinta adalah akhlak muslim yg diajarkan rasul dimana pelaksanaan syariat (sholat, puasa, zakat dsb) hanya sbg sarana dan bkn tujuan akhir yg ingin dicapai. Tks rekan Muttaqin atas comment-nya yg menggugah.

  3. Bagus sekali dan saya jadi terhanyut olehnya dengan AAC , bisa berbagi pengalaman saya juga pengen nulis yang seperti itu tolong bagaimana cara dan bisa diterbutkan.insya Allah bisa ikut berda’wah lewat bacaan tsb Amiin ya Rabull ‘alamiin

    bst rgrds
    cak To /semarng

    —–

    @ suroto : Coba anda bergabung dengan Komunitas Penulis Indonesia di
    http://penulis-indonesia.com

    Semoga sedikit membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s