Sang Guru Besar, Yang Dipuja – Yang Dicerca

Wajahnya terbujur kaku dikelilingi sanak keluarga, kerabat dan teman-teman dekatnya yang berwajah sembab karena air mata. Nyawa berlapis yang dimilikinya memang tidak mampu menahan titah takdir Ilahi. Itulah akhir hidup Soeharto sang Jenderal bintang lima setelah dirawat di rumah sakit selama 24 hari. Itulah akhir hidup “bapak pembangunan” Indonesia.

Fenomena menarik adalah banyaknya rakyat Indonesia yang berduka. Ini terlihat dari begitu antusiasnya masyarakat yang mengikuti beritanya baik melalui layar televisi ataupun mengantar langsung kepergiannya sejak dari rumah sakit, rumah duka Cendana Jakarta sampai dengan di pemakaman Astono Giribangun, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Pertanyaannya adalah apakah Soeharto memang begitu dekat di hati masyarakat dan berjasa bagi kemajuan Indonesia sehingga masyarakat begitu bersedih akan kepergiannya, bahkan fraksi Golkar merasa perlu mengusulkan untuk dianugerahi Pahlawan Nasional?

Yang selalu diingat dan tidak bisa dilupakan masyarakat adalah bahwa pada masa Soeharto segala sesuatunya serba murah dan mudah didapatkan. BBM murah dan tidak pernah antri, listrik tidak byar-pet, sembako tidak pernah langka, keamanan terjamin dsb. Mereka tidak sadar/tidak tahu bahwa kenyamanan-kenyamanan yang diperoleh tersebut sebenarnya karena subsidi pemerintah yang sedemikian besar dimana dananya didapatkan dari pinjaman hutang luar negeri. Dan selama 32 tahun Indonesia telah menjadi penghutang setia bagi IMF & World Bank. Selama 32 tahun juga Indonesia tidak mampu mandiri! Kekuatan ekonomi Indonesia sebenarnya tidaklah seperti dibayangkan masyarakat. Terbukti pondasinya rapuh karena begitu terjadi krisis ekonomi 1997 semuanya langsung ambruk. Nilai rupiah bahkan pernah menyentuh titik terendah sepanjang sejarah republik ini berdiri.

Tapi masyarakat kita memang pemaaf dan mungkin juga menderita penyakit amnesia yaitu penyakit lupa. Lupa bahwa karena kebijakan-kebijakan yang diambil Soeharto-lah yang menyebabkan ekonomi Indonesia terpuruk seperti sekarang ini. Lupa bahwa dengan pendekatan represifnya menyebabkan begitu banyak anak yang menjadi yatim dan ibu yang kehilangan anaknya dan kesemuanya tidak berbekas kemana harus mencari pusaranya. Lupa bahwa sang “guru besar” telah meninggalkan warisan yang tidak ternilai yaitu hutang yang menggunung dan mental aparat yang rusak. Karena sifat pemaaf dan menderita amnesia inilah yang menyebabkan kita begitu berduka ketika Soeharto wafat?

Tapi sudahlah… yang lalu biarlah berlalu, mari kita menatap masa depan menuju Indonesia yang lebih baik, begitu himbauan bijak Amien Rais.

Yang jelas lulusan-lulusan terbaik “Universitas Soeharto” yang berpredikat “summa cum laude” masih tetap eksis dan bergentayangan di kancah candradimuka Indonesia. Ada yang menjadi jaksa, hakim, pengacara, polisi, tentara, dosen, kepala dinas, anggota DPR/DPRD, gubernur, bupati, walikota, camat, lurah dsb. Mereka-mereka inilah yang hingga saat ini “konsisten” memegang tongkat estafet melanjutkan perilaku KKN dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya di bumi pertiwi. Mumpung masih menjabat bung, kapan lagi… nanti kalau sudah pensiun tinggal bertobat kepada Tuhan dan rajin ibadah, mungkin begitu yang ada di hati mereka.

Semoga pengorbanan nyawa para reformis tidaklah sia-sia. Semoga kita tidak hidup di Republik mimpi…

3 thoughts on “Sang Guru Besar, Yang Dipuja – Yang Dicerca

  1. Ada teori yang mengatakan bahwa Sampai kapanpun – selama Amerika masih eksis sebagai negara adidaya- Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju dan besar.
    Bayangkanlah apabila negara dengan kekayaan alam melimpah dan penduduk muslim terbesar didunia ini mencapai titik keemasannya.
    Lihatlah betapa khawatirnya Amerika dengan negara muslim kecil seperti Iran dan Syria.
    Apakah semua kerusuhan etnis yang terjadi diKalimantan, Ambon, Papua, Aceh itu terjadi dengan sendirinya?
    Wallahua’lam bis sawab

  2. Saya masih ingat 10 tahun yang lalu, saya.. berada diantara ribuan mahasiswa yang berjalan ke gedung MPR yang menginginkan perubahan di negara ini.. syukurlah akhirnya berubah!!! (gayanya: tangan kiri di pinggang, tangan kanan mengepal ke atas🙂 walaupun keadaan sekarang tidak seperti yang kita bayangkan waktu itu. Barangkali memang karena masih tetap eksisnya lulusan universitas soeharto yang pada bergentayangan di kancah candradimuka Indonesia ini. Hehe.. bisa aja Mas.

  3. Setelah era otonomi daerah mmg terjadi pemerataan yg tdk hanya pd bidang pembangunan tp jg pemerataan korupsi. Kalo dulu korupsi yg besar2 lbh banyak di tingkat pusat skrg sdh masuk ke seluruh pelosok negeri. Seandainya saja ada alat canggih spt yg ada di film dora emon yg bisa mendeteksi KKN, niscaya pemerintah kita (eksekutif, legislatif & yudikatif) langsung kolaps krn hanya sedikit yg lolos screening.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s