Guru Harus Berpikir Diluar Kotak

”…bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama;… yaitu hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya .”

Itulah yang dikemukakan dan juga dilakukan seorang guru, Ni Ayu Muslimah di pelosok Kampung Manggar, Belitong. Pengorbanan sang guru itu pun bisa menjadikan seorang muridnya, Andrea Hirata berani meraih mimpi dan cita-citanya. Andrea mengungkapkan, betapa mulia gurunya itu karena banyak memberikan contoh dan keteladanan. ”Walaupun tanpa digaji, Bu Muslimah selalu bersemangat dalam mengajar, dan mampu menyentuh hati anak-anak. Itu sangat bermakna bagi kami kala itu,” kata Andrea.

Karena pengorbanan sang guru itu pula, dia mengaku, sejak kelas 3, SD sudah berkeinginan untuk membuat sebuah buku yang akan dipersembahkan kepada Bu Muslimah. Dan keinginan tersebut terwujud dua tahun lalu atas desakan teman-temannya, karena Bu Muslimah saat itu menderita sakit.

Lalu sejumlah 50 guru pun tampak hanyut dan terkesima dengan cerita dan fakta-fakta yang diungkap Andrea ketika menempuh pendidikan Sekolah Dasar di bawah asuhan Ibu Muslimah yang dikaguminya itu, persis seperti yang ditulisnya dalam buku Laskar Pelangi. Andrea Hirata menjadi salah seorang pembicara dalam pelatihan guru Tahap II Angkatan ke-6 yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) Republika – Telkom di Yogyakarta. CSR dengan tajuk Bagimu Guru Kupersembahkan ini diperuntukan bagi guru SD, SMP hingga SMA di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Solo.

Pelatihan selalu dilaksanakan selama dua hari tanpa dipunggut biaya. PT Telkom Indonesia terus berkomitmen untuk melanjutkan program ini bersama Republika pada tahap selanjutnya, setelah tahap kedua berakhir, dengan melakukan pelatihan paa penyebaran kota lebih luas.

Pada setiap pelatihan selalu ditampilkan pengajar dari berbagai profesi, mulai artis, tokoh publik hingga politikus dan pelaku bisnis. Dan Andrea pun berkesempatan mengajar karena ingin turut menyukseskan program Telkom-Republika ini. Popularitas Andrea dengan buku terbarunya itupun melengkapi bobot pelatihan guru tersebut. Sebab buku Laskar Pelangi itu merupakan kisah nyata yang dia alami bersama teman-temannya.

Andrea mengatakan, guru supaya kreatif kuncinya adalah berpikir di luar kotak. ”Kotak yang sering dijejalkan pada guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan ekonomi sehingga hal itu bisa memerangkap seorang guru,” terangnya. Sedangkan Bu Muslimah itu, kata dia, orang yang berpikir di luar kotak. ”Dia tak pernah digaji, hanya lulusan SKP (Sekolah Kepandaian Putri) tetapi semangatnya luar biasa untuk terus belajar dan melakukan kreativitas.

Ketika saya kecil beliau hadir di depan dengan berjilbab, tetapi kadang dengan pakaian yang aneh seperti Hangtuah. Itulah kreativitas yang sering dilakukan oleh Bu Muslimah,” ungkap Andrea yang tesisnya di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University United Kingdom tempat dia menyelesaikan S2nya.

Dalam pelatihan kali ini guru maupun pengajarnya tampak penuh antusias. Sebanyak 50 guru yang kebanyakan berasal dari sekolah favorit di Yogyakarta dan sekitarnya banyak yang mengajukan pertanyaan maupun pendapatnya dari sesi ke sesi. Pada pelatihan kali ini dibuka oleh Dewan Komisaris PT Telkom Anggito Abimayu. Ia mengatakan sangat hormat dan komit pada guru. Karena itu predikat guru itu harus tak pernah berakhir. Bahkan ia akan kembali ke Yogyakarta menjadi guru (red. dosen) apabila jabatannya di Jakarta sudah berakhir.

Menurut dia, menjadi guru itu akan dimuliakan dan didoakan orang banyak. ”Dalam hidup harus selalu bersyukur, apapun yang kita lakukan dan selalu melihat ke bawah, jangan ke atas,” kata Anggito. Sebagai pembicara pada hari pertama antara lain, Budayawan Emha Ainun Nadjib, Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, dan Pakar Kepribadian John Robert Power Leila Mona Ganiem .

Sementara itu pembicara pada hari kedua adalah Corporate Relations and Human Resources Director PT Unilever Indonesia Tbk, Josef Bataona, Presenter M. Farhan, Penulis Buku Laskar Pelangi, Andrea Hirata dan Operator Senior Manager Billing Operation PT Telkom, Taufik Hidayat.

Paling Mulia

Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib) mengatakan, bahwa guru itu orang yang disebut-sebut oleh Tuhan. Guru itu berada di tempat yang paling mulia, karena melakukan transformasi pembelajaran, menyediakan faslitas pembelajaran, kesabarannya, telaten dan memberikan perhatian penuh pada murid.

Sebagai guru seharusnya selalu pikirkan pendidikan untuk murid. ”Menurut saya menjadi guru di bidang apapun harus mencintai dan memberikan perhatian penuh pada murid dan mencintai pekerjaannya dan ikhlas, karena rezeki itu akan datang dengan sendirinya,” kata suami Novia Kolopaking ini. Ini bagai mengukuhkan keyakinan salah seorang peserta pelatihan, Syarifuddin, guru SD IT Lukmanul Hakim. Dia awalnya bekerja di pabrik makanan ternak dan lulusan Diploma tiga Peternakan di Karanganyar Solo. Gajinya lumayan banyak, tetapi setiap bulannya habis begitu saja.

Sambil bekerja ia kuliah dan melanjutkan S1. Kemudian ia berpikir ingin bekerja di tempat yang bermanfaat bagi orang banyak. Kebetulan ada lowongan di SD IT Lukmanul Hakim Yogyakarta. Masuklah ia menjadi guru di situ yang awalnya hanya delapan murid, tetapi gurunya ada 11, tetapi latar belakangnya perguruan tinggi non pendidikan.

Ia akui walaupun gajinya lebih sedikit daripada saat bekerja di pabrik, tetapi ia justru bisa kredit motor, menikah dan lain-lain. Barangkali dengan menjadi guru itu mendapat barokah. Karena itu ia tak berniat untuk tetap menjadi guru walaupun ada tawaran gaji lebih menarik. Sementara itu, Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, bila bicara pendidikan ada empat aspek penting, yaitu manajemen pendidikan, lingkungan sekolah, proses belajar dan mutu dari lulusan.

Tetapi proses belajar dan out put dari pendidikan (mutu dari lulusan) tertenggelamkan. Menurut dia, untuk menjawab model pendidikan dan apa saja yang harus dikuasai oleh anak didik di abad 21 terdapat dalam hasil riset dari Asosiasi Admnistrasi Sekolah Amerika yang berjudul Preparing Student for the 21 Century diantaranya menyatakan: siswa harus memiliki rasa kejujuran, integritas, responsibility, kemampuan berkomunikasi, penguasaan dan pemanfaatan Teknologi secara efektif, akuntabilitas, kerja keras, perilaku yang konstruktif dan kemampuan bahasa yang memadai.

Di sesi tentang kepribadian menarik, para peserta tampak bersemangat dan respek dengan apa yang disampaikan Leila Mona Ganiem. Para guru diminta untuk mempraktekkan bagaimana berjalan, berdiri, duduk dan bersikap yang baik dan benar. Sehingga membuat anak juga bersemangat dalam belajar.

Guru, kata Mona, seharusnya berusaha tampil sebaik-baiknya dan siap untuk diberi masukan serta selalu mengembangkan diri. Dan ia menambahkan, mengajar adalah tentang menyentuh kehidupan individu dan membiarkan murid menyentuh kehidupan kita. Pada saat Josef Bataona mengisi materi tentang komunikasi efektif dan lebih banyak diisi dengan berbagai permainan, para guru terlihat aktif mengikutinya. Josef mengatakan dalam berkomunikasi efektif banyak hal yang mempengaruhi seperti kata-kata yang dipilih, cara menyampaikannya dan lain-lain.

—–

Sumber : Republika Online

2 thoughts on “Guru Harus Berpikir Diluar Kotak

  1. Guru ideal seperti Bu Muslimah ini adalah sebuah pengecualian atau anomali dari sistem besar pendidikan Indonesia. Kreatif, mampu merangsang minat anak didik, mampu mem’bumi’kan teori dan lain sebagainya. Ironisnya, seorang, atau seratus, atau bahkan mungkin ribuan guru seperti bu Muslimah ini masih belum mampu berperan sebagai Lokomotif bagi kemajuan Bangsa ini. Diperlukan Massive Movement atau breakthrough revolution untuk mampu menggerakkan sumber daya Indonesia bangkit dari keterpurukannya, dan disinilah peran pemerintah untuk men-design blue print pendidikan Indonesia. kalau boleh bernostalgia, semasa bangsa ini baru mencicipi kemerdekaan, pendidikan kita termasuk yang advance pada zaman itu, bangsa Malaysia saja banyak yg menimba ilmu diIndonesia. Pertanyaan besar adalah apa yg dilakukan Malaysia kemudian sehingga sekarang mereka lebih maju dari kita, dan bayak siswa kita yg berbondong sekolah di sana?

  2. Ada yg mengatakan bhw integritas suatu bangsa bisa dilihat dari seberapa bersih mereka2 yg berkecimpung di dunia pendidikan. Anggaran pendidikan boleh saja sdh mencapai 20% dari total APBN/APBD tapi apakah alokasinya sdh tepat sasaran? Blm lagi berapa banyak dana yg menguap tak berbekas oleh oknum2 Diknas. Kesejahteraan guru yg layak jg masih sebatas harapan yg seolah tdk berujung. Entah hrs mulai dari mana krn begitu semrawutnya benang kusut ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s