Perlukah Menonton Film Ayat-Ayat Cinta?

Kehadiran film Ayat-Ayat Cinta ternyata tidak kalah heboh dengan novelnya. Bayangkan saja, baru beberapa hari tayang sudah menembus angka 1 juta penonton! Sambutan yang begitu antusias ini tidak hanya mengagetkan industri perfilman Indonesia tapi juga Hanung Bramantyo selaku sutradaranya. Sebelumnya memang ada kekhawatiran bahwa film yang bernuansa keagamaan tidak laku dijual dan dan tidak menarik minat penonton.

Saya sendiri minggu lalu sebenarnya sudah niat ingin menonton dan sempat ikutan ngantri tiket, tapi akhirnya gagal karena tidak kebagian. Hari ini, setelah juga masih ngantri panjang akhirnya berhasil juga mendapatkan tempat duduk untuk menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta. Bagi saya yang sudah membaca novel best seller karya Habiburrahman Saerozy (kang Abik) ini tentu saja penasaran, seperti apakah Hanung menuangkannya ke dalam bentuk film walaupun jujur saja sampai dengan menulis artikel ini saya tidak tahu dan tidak hafal dengan nama-nama pemainnya.๐Ÿ˜‰

Bagi pembaca novelnya mungkin banyak yang kecewa karena apa yang mereka harapkan tidak sesuai harapan. Memang yang terasa kurang dalam film ini adalah nuansa “Kairo” nya yang nyaris tidak ada padahal dalam novelnya kang Abik menggambarkan sedemikian detail. Kita seolah diajak kang Abik untuk juga menikmati keindahan panorama dan kehidupan Mesir. Walaupun lokasi pembuatan film dengan pertimbangan biaya sudah dialihkan (semula direncanakan di Mesir kemudian dipindahkan ke India) tapi tetap saja jauh dari sempurna. Sangat wajar jika banyak mantan mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Mesir yang setelah menyaksikan film ini mengeluhkan bahkan melecehkan “pemaksaan” lokasi ini. Hal lain yang juga sangat mengganggu adalah alur ceritanya yang ternyata ada beberapa diluar “teks aslinya” sehingga kekuatan Islam yang coba dibangun kang Abik dalam novelnya terlihat hambar di film ini. Belum lagi pemeran Fahri, Aisha dan Nurul yang menurut saya kurang cocok sebagai tokoh-tokoh tersebut. Untungnya Maria yang juga tokoh sentral dimainkan sangat apik.

Tapi juga perlu disadari bahwasanya film ini sebenarnya tidak hanya sekedar hiburan tentang percintaan tapi juga film dakwah tentang bagaimana keindahan Islam yang sudah mengatur tatanan kehidupan secara keseluruhan. Untuk yang terakhir ini menurut saya Hanung belum berhasil. Dia memang terperangkap antara idealismenya sebagai seorang sutradara muslim (dia mengakui makin mencintai Islam setelah men-sutradarai film ini) dengan produser yang melihat film sebagai sebuah industri yang harus menguntungkan. Disinilah terjadi sebuah dilematis yang mau tidak mau harus dikompromikan.

Makanya tidak aneh jika bagi mereka yang belum membaca novelnya, bisa jadi memiliki pandangan yang berbeda dan sangat puas setelah menyaksikan film ini. Seperti yang dituturkan Hanung dalam blog-nya bahwa banyak hambatan yang menghadangnya dalam pembuatan film Ayat-Ayat Cinta (untuk mengetahui lengkapnya silahkan klik blog Hanung yang saya sediakan pada blogroll). Mengetahui kendala-kendala yang dihadapinya, rasanya apa yang telah dihadirkan Hanung ke layar lebar tetap patut dihargai apalagi dia sudah berhasil pula memainkan emosi penonton. Terbukti tidak sedikit penonton yang menitikkan air mata karena terhanyut, terharu dan terkagum-kagum. Sedikit berbagi, ada kejadian nyata dimana ada seorang wanita yang dalam waktu singkat sudah 3 kali menonton film ini. Uniknya, setiap kali menonton dia selalu menyiapkan tissue karena dia selalu menangis. Meminjam istilah Andrea Hirata, bisa jadi hal ini merupakan jenis penyakit nomor kesekian yaitu ketagihan akan sesuatu yang berlebihan kalau sudah suka.๐Ÿ™‚

Kembali kepada judul di atas “Perlukah Menonton Ayat-Ayat Cinta?”. Jawabannya sederhana, semua kembali kepada anda. Kalau mau dicari kekurangannya pastilah akan ketemu karena tidak ada sesuatu yang sempurna, terlebih bagi mereka yang melihat menonton hanya suatu kemubaziran. Sebaliknya bagi yang menyukai film, tetap berusaha menikmati dan mencari sisi baiknya. Saya sendiri termasuk kelompok yang kedua, tentunya dengan batasan-batasan menurut nilai-nilai yang saya anut. Sebagai penonton awam, saya hanya berharap semoga pada film-film berikutnya kualitas yang dipertontonkan semakin baik lagi sehingga film sebagai media dakwah juga tercapai (khabarnya novel “Ketika Cinta Bertasbih” yang juga ditulis kang Abik akan di-filmkan). Kang Abik sendiri dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan ke saya bahwa dia ingin film Ayat-Ayat Cinta bisa menjadi trendsetter bagi industri perfilman dalam negeri. Sebuah harapan yang tidak berlebihan ditengah derasnya film-film mistis khurafat dan jenis film lainnya yang lebih mengedepankan gaya hidup hedonis.


10 thoughts on “Perlukah Menonton Film Ayat-Ayat Cinta?

  1. Gue mmg blm baca novelnya tapi udh nonton filmnya. Menurut gue filmnya bagus banget. Gue aja sampai nangis apalagi soundtrack yg dinyanyiin Rossa pas banget sampai ke kalbu he..he… Sampai skrg kalo ingat Maria mata gue masih berkaca2 he.. he..

  2. Gua malah jatuh cinta sama Maria. Orangnya tdk hanya cantik tapi juga anggun. Oh Maria-ku, dimanakah dikau…

  3. Kalo gwa jatuh cinta sih ngga.. tapi simpati aja si Maria.
    Akting dan perannya dia disana pas banget!!
    klo denger OST.AAC… yg ada di benak gwa adalah beberapa sikonnya Maria yg ada di film AAC-nya sana.
    Damn..

  4. Menurut info terbaru, hanya dlm waktu 3 minggu tayang, jumlah penonton AAC sdh menembus angka 2 juta! Jauh mengungguli Naga Bonar Jadi 2 serta Ada Apa Dengan Cinta yg pernah meraih jumlah penonton terbanyak. Novelnyapun jg diburu org dan sdh menembus angka 500 ribu copy. Sungguh fenomenal.

  5. Asw. mas Fir. Aku juga sudah nonton AAC waktu awal2 diputar di 21. Dapat yang gratisan lagi, alhamdulillah๐Ÿ™‚. Btw, filmnya memang agak mengecewakan. Viewnya mati bangeets. Nggak indah buat dilihat. Pemain2nya pun kurang menjiwai. Seperti Fahri yang datar banget, Aisha yang masih ada image host MTV-nya. Dan betul kata mas Fir, hanya pemeran Maria yang oke dan justru dia yang membuat penontonnya (saya) menitikkan air mata. Udah gitu yang saya sesalkan sewaktu Fahri dipenjara, dia jadi menyalahkan Tuhan saking putus asanya. Rasanya kok jauh banget dari imageku tentang Fahri yah. Overall, aku salut juga sama mas Hanung yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mengangkat novel ini dan menjadi box office di Indonesia. Aku berharap, mudah2an kedepan sineas kita bisa menampilkan film2 yang bermutu baik dari segi kualitas filmnya maupun ceritanya. Tks

  6. Wa’alaikumsalam Indah. Ada temen dgn nada gusar pernah berujar, knp org luar bisa membuat film Harry Porter dlm bbrp episode yg hasilnya hampir sama dgn isi novel2nya baik alur cerita, gambaran lokasi maupun pemilihan tokoh2nya, sdgkan di kita seringkali beda banget termasuk film AAC. Ini mmg konsekuensi membuat film yg diangkat dari novel best seller. Org pasti akan langsung membanding2kan. Blm lagi imajinasi tiap org yg tdk sama. Begitu jauh dari sumber aslinya maka akan byk yg kecewa. Beda halnya kalo film diambil dari novel yg biasa2 aja, org pasti gak ada yg peduli.๐Ÿ™‚

  7. menurut guwe film sama novelnya sama-sama berkualitas walaupun apa yang di filmkan tidak sesempurna dengan yang ada di novelnya.guwe salut ma mas hanung dan kang abik yang setidak-tidaknya sudah mampu menyampaikan kepada masyarakat bahwa islam itu indah.salut….salut….salut….apalagi sama mariaku yang udah buat aku sesenggukan nahan air mata,jadi pengen ketemu nich,,,hehehheheheh.

  8. Assalammu’alaikum Mas Fir,
    Sedikit tambahan komentar tentang film AAC, yaitu bahasanya. Kurang realistis, karena tiba-tiba saja orang Arab bisa mahir berbahasa Indonesia walaupun di awal mereka berbahasa Arab. Hal ini tidak begitu berpengaruh jika terdapat di dalam novel, akan tetapi cukup janggal jika kita mengharapkapkan film yang realistis.
    Bayangkanlah jika penikmat film ini bukan orang yang berbahasa Indonesia, saya yakin dia akan bingung dengan hal bahasa ini.

    Film God Must Be Crazy yang menceritakan tentang orang dari suku pedalaman aja bisa menyihir kita dengan bahasa uniknya, sayang sekali hal ini tidak terjadi di film AAC.

    Namun, tetap Bravo untuk semua yang terlibat dalam pembuatan film AAC…๐Ÿ™‚

  9. Wa’alaikumsalam Susie. Anda benar, mmg agak aneh melihat org arab berbicara fasih bhs Indonesia dgn dialek Indonesia lagi. Jadi ingat film2 India yg diputar di JTV Surabaya yg di dubbing ke bhs Jawa.๐Ÿ™‚

  10. tulah yang buat gua kecewa,banyak hal yang kurang islami di film ini.tapi gak pa lah yang pentingkan film inikan luaku keras!!!! jadi moga 2 aja para produser yang lain pada nglirik industi perfiliman yang bertema islami dan dakwah!!!

    maju terus perfiliman idonesia dakwah ,hancurkan film yang berbau kufarat dan mengumbar hawa nafsuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s