Guru Yang Terpinggirkan

Kemaren sore saya sempat menyaksikan acara “Oasis” di salah satu stasiun TV swasta. Diceritakan tentang nasib dan kehidupan guru honorer. Seorang diantaranya mengajar di beberapa Sekolah Menengah Atas unggulan dengan mengendarai sepeda motor bututnya. Itu baru kerjaan dari pagi sampai dengan sore hari. Sedangkan malam hari dia masih harus menjadi sopir angkutan kota. Waktu bercengkrama bagi istri dan kedua anaknya yang masih kecil nyaris menjadi barang langka. Tapi semua itu mau tidak mau tetap harus dilaluinya agar mampu menghidupi keluarganya secara lebih layak.

Ada juga kisah tentang seorang guru wanita muda yang hidup hanya berdua dengan ibunya. Sepulang mengajar dia masih harus membuat kue tradisional hanya sekedar buat tambahan belanja dapur ditengah lonjakan harga sembako yang terus menjulang.  Ibunya sendiri karena menderita sakit sudah tidak mampu lagi bekerja. Praktis hanya guru wanita muda ini seorang yang menghidupi keluarganya. Keuntungan bersih yang diperoleh dari membuat kue ini rata-rata hanya Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah) per hari. Dilain kesempatan pada acara Kick Andy juga pernah dikisahkan tentang seorang Kepala Sekolah yang selama 15 tahun nyambi sebagai pemulung. Dia mengakui bahwa penghasilannya sebagai pemulung jauh lebih besar dibandingkan gajinya sebagai guru.

Apa yang saya kemukakan diatas hanya beberapa contoh kecil. Masih banyak guru-guru lain yang juga mengalami nasib tidak jauh berbeda terlebih mereka yang masih berstatus sebagai guru honorer maupun pengajar di sekolah-sekolah swasta pinggiran. Boro-boro untuk kesejahteraan guru, sarana prasarana sekolahpun sangat terbatas.

Tapi disisi lain saya juga kerap menemui guru di sekolah-sekolah “elit” yang berpenampilan trendi, lengkap dengan dasinya dan berkendaraan motor keluaran terbaru bahkan mobil pribadi. Tidak salah memang, malah sudah seharusnya guru sejahtera. Tapi yang mengganggu pikiran saya adalah kenapa jurang perbedaan ini begitu besar? Saya tetap meyakini bahwa selama nasib guru tidak diperhatikan maka selama itu juga kualitas pendidikan kita akan bermasalah. Mengajar tidak hanya panggilan jiwa tapi sudah sewajarnya profesionalisme mereka dihargai.

Lalu apa yang harus dilakukan agar kesejahteraan guru meningkat dan tidak jomplang? Saya tidak tertarik untuk membahas anggaran pendidikan yang katanya terbatas, karena menurut saya hal ini hanya sebagai bentuk pembenaran klise. Saya melihat aturan yang digunakan Pemerintah untuk pekerja swasta yaitu pemberlakukan Upah Minimum Regional/Propinsi bisa dijadikan pendekatan. Dengan adanya penentuan Penghasilan Minimum Guru per wilayah maka Pemerintah dan Pengurus Yayasan Sekolah Swasta akan “dipaksa” untuk lebih memperhatikan nasib guru sehingga kasus guru nyambi bisa dieliminir bahkan dihilangkan. Dengan demikian mereka bisa fokus kepada proses belajar-mengajar.

Sedikit diluar konteks, tadi siang untuk suatu urusan pekerjaan saya bertemu dengan dua orang trainer dari ESQ Leadership Center. Setelah saling memperkenalkan diri, kami lalu berdiskusi dan bercerita panjang lebar termasuk usaha apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Ada hal yang menarik, ternyata ESQ Leadership Center pimpinan Ary Gunanjar ini sudah memulai untuk terlibat aktif dalam pemberdayaan guru melalui pengisian emotional & spritual quotient. Mereka memberikan pelatihan ESQ secara gratis bagi guru-guru. Saat ini sudah sekitar 10.000-an guru yang mereka latih. Target mereka sampai dengan tahun 2020 akan memberikan pelatihan kepada 1 juta guru di seluruh Indonesia! Pelatihan serupa juga sudah mereka berikan bagi penghuni lembaga pemasyarakatan. Dan sekali lagi semuanya gratis tanpa dipungut biaya!

Saya sempat termenung mendengar hal ini. Saya yakin, seharusnya kita semua juga bisa menjadi seperti Ary Ginanjar yang begitu peduli kepada guru. Tentunya disesuaikan dengan keahlian dan kemampuan kita masing-masing. Tinggal sekarang kita mau bergerak untuk memulai atau hanya sekedar diam berpangku tangan.

3 thoughts on “Guru Yang Terpinggirkan

  1. Setuju mas. Tanpa mengecilkan nilai pengabdian mereka, sdh sepantasnya kesejahteraan guru diperhatikan secara serius oleh para pengambilan kebijakan negeri ini.

  2. Andaikan negara ini sadar bahwa pendidikan sangat berpengaruh pada maju mundurnya sebuah negara, dan andaikan kesadaran ini membuat mereka faham sehingga harus segera berbenah.
    Saya jadi ingat, di salah satu buku yang saya baca. Dulu di dunia Islam (ketika jaya di masa Umar Bin Khotob), guru dibayar kira-kira 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Yang tahu harga emas dan bisa mengalikannya pasti akan tercengang kagum.
    Saya juga masih guru honorer, jadi tahu benar bagaimana rasanya. Cuman bedanya, beban saya tidak sebesar yang dicontohkan Pak fnoor di atas. Tapi tidak tahu lagi jika ke depannya nanti beban yang harus saya tanggung semakin besar. Saya, dan juga guru honorer lain hanya bisa berusaha sekuat tenaga.

  3. Rekans, sbg tambahan info, di Jepang profesi guru termasuk yg tingkat persaingannya paling tinggi krn penghasilannya jauh lbh besar dari Manager Perusahaan. Dgn pendapatan yg sdh lbh dari cukup mereka bisa concern pd kualitas mengajar. Tetangga kita Malaysia jg sama. Kita sendiri msh sibuk mengatur alokasi 20%. Itupun peruntukkannya oleh diknas banyak yg tdk tepat sasaran. Good will-nya ya msh sebatas proyek…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s