Ujian Nasional = Ritual Rutin Stres Nasional

Minggu ke-IV bulan April ini merupakan awal dari masa-masa yang menegangkan dan menyita banyak perhatian, baik bagi para siswa sekolah, orang tua murid, guru, kepala sekolah, pejabat diknas (pusat dan daerah), bahkan sampai kepala daerah. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK/SMALB akan mulai dilaksanakan pada tanggal 22-24 April 2008. Materi yang diujikan terdiri dari 3 pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Kemudian dilanjutkan dengan tingkat SMP/MTs/SMPLB pada 5-8 Mei 2008 dengan 4 mata ajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Bahasa Inggris. Terakhir tingkat SD pada tanggal 13-15 Mei 2008 dengan 3 mata ajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA.

Khusus untuk tingkat SD, ujian nasional pada tahun ini merupakan yang pertama sehingga belum dijadikan sebagai standar kelulusan. Sedangkan untuk tingkat SMP dan SMA (sederajat) sama seperti tahun-tahun sebelumnya sudah menjadi syarat kelulusan dimana siswa dinyatakan lulus jika nilai rata-rata untuk seluruh mata ajaran minimal 5,25 dan tidak ada nilai di bawah 4,25. Sedangkan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) nilai pada pelajaran kompetensi keahlian kejuruan minimal 7,00. Siswa juga masih boleh mendapatkan nilai minimal 4,0 pada salah satu mata ajaran asalkan pada nilai pelajaraan lainnya memperoleh nilai minimal 6,0.

Saya katakan ritual rutin stres nasional karena tiap tahun semua pihak yang terkait dihadapkan pada momok harus lulus sesuai kriteria yang sudah ditetapkan. Siswa sendiri sudah sejak 6 bulan terakhir sebelum ujian nasional berlangsung digodok dengan berbagai macam latihan soal ujian. Belum lagi dalam kesehariannya, siswa juga masih tetap harus tetap mengikuti sejumlah mata ajaran lain (yang belum diujikan secara nasional) yang jumlahnya tidak sedikit. Orang tua juga tidak kalah stres-nya memikirkan nasib putra-putrinya. Waktu mereka bermain dan bersosialisasi dibatasi serta diawasi secara ketat. Pokoknya tugas mereka tiap hari harus lebih banyak belajar dan belajar. Guru dan kepala sekolah lebih stres lagi. Try out diadakan beberapa kali untuk mengukur sejauhmana kesiapan siswa menghadapi berbagai kemungkinan jenis soal yang akan keluar. Praktis fokus pelajaran yang diberikan kepada siswa pada semester terakhir ini lebih dititik beratkan pada persiapan menghadapi hajat nasional. Apalagi ada kepala dinas diknas di salah satu daerah yang menilai performance kepala sekolah dari tingkat kelulusan siswanya. Suatu kebijakan yang agak aneh karena keberhasilan siswa seolah-olah mutlak hanya ditentukan oleh unsur sekolah. Kebijakan lain yang juga nyeleneh pernah dilakukan oleh diknas lain yaitu dengan mengkontrak satu lembaga kursus swasta hanya untuk mempersiapkan siswa-siswa di daerahnya menghadapi ujian nasional ini. Bagaimana dengan kepala daerah? Meraka sepertinya juga tidak mau kalah dengan yang lain untuk ikut-ikutan stres. Terlepas apakah hal ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pendidikan ataukah karena tingkat kelulusan di daerahnya merupakan prestise tersendiri yang harus diperjuangkan untuk mengangkat nama baik daerahnya cq individunya sebagai kepala daerah di tingkat nasional.

Sementara begitu banyak daerah di Indonesia yang sarana prasarana pendidikannya masih sangat terbatas, jumlah pengajarnya juga terbatas, kualifikasi pengajar masih banyak yang harus ditingkatkan, jaminan siswa bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi juga tidak ada, pemerintah pusat cq depdiknas plus dukungan DPR malah melihat sedemikian pentingnya ujian nasional ini sehingga seluruh sumber daya yang ada pada bidang pendidikan dasar dan menengah difokuskan hanya untuk sebuah ujian yang tidak lebih dari 4 hari! Sebuah kebijakan yang sangat sulit dipahami oleh nalar masyarakat awam.

Mungkin sebagian dari kita memang ada yang termasuk ke dalam kelompok manusia yang menyukai dengan hal-hal yang berbau serba instan yang lebih mengedepankan pada hasil akhir. Padahal banyak teori dan praktek manajemen mengajarkan bahwa jika suatu kegiatan dilakukan melalui proses yang baik dan benar maka hasilnya juga akan baik dan benar. Pertanyaannya, bagaimana prosesnya bisa berjalan baik dan benar jika kendala-kendala seperti saya sebutkan di atas masih dominan dan mayoritas seperti itulah kondisi di seluruh Indonesia? Belum lagi masalah mentalitas yang sudah merasuk ke berbagai kalangan tidak terkecuali ke pihak-pihak yang sangat berkepentingan dengan ujian nasional ini. Beberapa kali saya amati bahwa hasil try out di berbagai daerah seringkali jeblok dengan tingkat kelulusan di bawah 50%. Tapi begitu hasil ujian diumumkan, angkanya berubah drastis, lulus di atas 90%, padahal jarak try out dan ujian ini hanya berselang 2-4 minggu. Sebuah kejangggalan yang perlu dicermati. Apakah soal-soal try out memang sedemikian sulitnya sehingga siswa banyak yang tidak mampu mengerjakannya ataukah ada faktor X yang bisa mengubah kemampuan siswa sedemikian cepat? Menurut gosip jalanan (meminjam istilah slank) bahwa hanya untuk mengejar angka kelulusan, banyak terjadi ketidakjujuran disana-sini, baik selama ujian berlangsung maupun setelahnya.

Karena tekanan dan tuntutan yang sedemikian besar tadi, orang akhirnya menggunakan berbagai cara hanya agar target yang ditetapkan bisa tercapai. Jika hal ini benar, maka hasil pendidikan mulai SD sampai SMA yang selama ini kita lihat dengan tingkat kelulusan yang cukup tinggi ternyata tidak lebih dari sekedar angka semu. Sebuah pekerjaan rumah bagi para pihak yang terkait dengan pengambil kebijakan ujian nasional.


One thought on “Ujian Nasional = Ritual Rutin Stres Nasional

  1. ThaNks ya….
    Artikel ini sangat berGuna buAt saya,
    coz ini bisa digunakaN untUk baHan DisKusi BahasA inDonesia Q🙂 Peace

    —–

    Fir :
    Kalau tdk berkeberatan, tolong dong hasil diskusinya bisa diceritain disini. Peace too.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s