Kenapa SKB Ahmadiyah Alot?

Surat Keputusan Bersama (SKB) dari Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung tentang status ajaran ahmadiyah yang direncanakan akan dikeluarkan tanggal 05 Mei 2008 lalu akhirnya diundur kembali dengan alasan perlu penelaahan lebih lanjut. Ini sudah kali kesekian Pemerintah menunda keputusan ini.

Kalau kita coba runut ke belakang, perjuangan umat Islam Indonesia agar ajaran ahmadiyah dilarang di Indonesia bukanlah hal yang baru tapi sudah melalui proses yang sangat panjang. Hal tersebut sebagai respon dari fatwa Liga Dunia Islam (Rabithah ‘Alam Islami) yang berkedudukan di Mekkah yang pada tahun 1973 sudah mengeluarkan fatwa bahwa ahmadiyah sebagai aliran kafir di luar Islam. Negara-negara Islam juga sudah sejak lama melakukan pelarangan ini. Sebagai contoh, pada tahun 1974 pemerintah Pakistan menyatakan aliran ahmadiyah di luar Islam. Kemudian tahun 1975 giliran Malaysia yang melarang ahmadiyah di negaranya. Menyusul Brunei Darussalam dan Arab Saudi juga telah mengharamkan ahmadiyah. Sedangkan di Indonesia sendiri, MUI mengeluarkan fatwa kesesatan ahmadiyah sejak tanggal 1 Juni 1980 saat MUI dipimpin oleh Buya HAMKA. Ketika itu HAMKA yang terkenal gigih dengan pendiriannya mengatakan bahwa ahmadiyah bukanlah Islam tapi sebuah aliran agama diluar Islam. Menurut Buya, ahmadiyah memiliki akidah dan syariat yang berbeda dengan Islam. Akidah ahmadiyah berinti pada keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad sedangkan syariatnya bertumpu pada upaya mengekalkan kolonialisme Inggris di India dengan menghapuskan ajaran jihad. Tapi fatwa MUI ini tidak terlalu direspon positif oleh Pemerintah sehingga ajaran ahmadiyah terus eksis dan malah berkembang di Indonesia.

Selanjutnya Hartono Ahmad Jaiz (Ketua Lajnah Ilmiah Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) menyebutkan bahwa pada tanggal 31 Oktober tahun 1996 sebenarnya sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah (Qadian dan Lahore) namun pelaksanannya ditunda setelah Pemilu 1997. Namun sampai pemilu selesai, bentuk pelarangan dari Pemerintah belum juga muncul, sehingga pada tanggal 6 Mei 1998 MUI kembali mengirim surat kepada Jaksa Agung RI untuk mengingatkan mengenai pelaksanakan keputusan tahun 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah (Qadian dan Lahore) secara nasional, tapi lagi-lagi tidak mendapat respon. Melihat perkembangan ahmadiyah sudah sedemikian meresahkan aqidah dan syariat umat Islam Indonesia akhirnya pada tanggal 15 Juli 2005 MUI mengeluarkan tentang kesesatan ahmadiyah untuk memperkuat fatwa sebelumnya yang sudah dikeluarkan Buya HAMKA. Jadi kalau dihitung-hitung, sudah 12 tahun setelah adanya keputusan pelarangan ahmadiyah secara nasional atau 34 tahun setelah fatwa MUI 1974, Pemerintah belum juga bergeming mengeluarkan pelaksanaan larangan terhadap ajaran ahmadiyah.

Berapa banyak sebenarnya penganut ahmadiyah sehingga Pemerintah terkesan ragu-ragu melarangnya? Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengklaim jumlah pengikutnya di seluruh dunia mencapai 150 juta yang tersebar di 120 negara (Republika 17/4/2008). Tapi jumlah sebanyak ini diragukan banyak pihak. Di Cina saja jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Di Mesir, hanya 30-40 orang. Di Inggris yang merupakan pusatnya, hanya 8.000-an orang, itu pun imigran asal Pakistan. Negara-negara penganut ahmadiyah besar hanya di Pakistan, Ghana, dan Nigeria. Di Indonesia sendiri jumlah penganut ahmadiyah tidak diketahui secara pasti. Tapi yang terbesar terkonsentrasi di dua tempat, yaitu Manis Lor dan Pancor, Lombok Tengah, NTB. Di Manis Lor, Ahmadiyah yang masuk tahun 1954, kini dianut 70 persen dari 4.200 jiwa. Di NTB, jumlah mereka disinyalir hanya beberapa ribu. Di Kampus Mubarak, Parung, Bogor, yang merupakan markas pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), juga tak banyak orang ahmadiyah. Jadi klaim 500 ribu penganut ahmadiyah di Indonesia memang masih tanda tanya besar. Seperti markas pusatnya di London, yang ditonjolkan JAI adalah jumlah cabang. Pada 2005, misalnya, JAI mengklaim memiliki 305 cabang di seluruh Indonesia.

Beberapa ajaran ahmadiyah yang dianggap sudah keluar dari Islam :
1. Meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul utusan Tuhan.
2. Meyakini kitab suci mereka tadzkirah sama sucinya dengan kitab suci Al-Qur’an.
3. Wahyu tetap turun sampai hari kiamat, begitu juga nabi dan rasul tetap diutus sampai hari kiamat.
4. Mempunyai tempat suci sendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Qadian dan Rabwah di India.
5. Wanita ahmadiyah diharamkan menikah dengan lelaki bukan ahmadiyah, tetapi lelaki ahmadiyah boleh menikah dengan wanita bukan ahmadiyah.
6. Tidak boleh bermakmum dengan (di belakang) imam yang bukan ahmadiyah.

Sebagai masyarakat awam, menurut saya apa yang dilakukan MUI dengan mengingatkan umatnya dengan fatwa sesat terhadap ahmadiyah sudahlah tepat agar aqidah umat terbentengi dan tidak rusak. Apa jadinya agama Islam jika sendi-sendi yang paling hakiki yaitu aqidah dan syariat dibiarkan terkontaminasi. Jadi saya pribadi lebih mendengar dan mempercayai pendapatnya MUI yang terdiri dari kumpulan para ahli-ahli agama dibandingkan suara mereka-mereka yang mengatasnamakan pembela hak asasi manusia yang ingin mempertahankan eksistensi ahmadiyah. Logikanya sederhana saja, kalau sakit datanglah ke dokter karena ini memang bidangnya, kalau tentang agama tanyalah ke ulama. Hal-hal yang difatwakan MUI tentang ahmadiyah bukanlah kompetensi para pembela HAM, ini areanya para ulama. Umat Islam tidak menghalangi orang lain memeluk agamanya masing-masing selama mereka tidak “mengganggu” Islam. Ajaran ahmadiyah jelas mengkotori Islam sehingga sangat wajar jika ada perlawanan dari Umat Islam.


2 thoughts on “Kenapa SKB Ahmadiyah Alot?

  1. Kemana ya larinya uang korupsi penyelenggara haji di Depag nya Bang Agil dulu ?? He.. he .. he…., lalu yg kemaren dulu ribut-ribut uang suap bukankah kejaksaan ? Hehehehehehehe, yg menutupi kebobrokan para kader-kader praja di IPDN (para calon pemimpin bangsa???)siapa ye … heheheheh.

    Bukankah bangsa ini merdeka karena Allah yg Maha Pengasih masih menaruh belas kasih buat bangsa Indonesia? Semua golongan, suku-suku, ras, agama-agama, dan kelompok – kelompok perjuangan yg sedang didholimi, bersatu mempertaruhkan nyawa dan harta agar Allah ridho membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Kemerdekaan ini bukan hanya milik sekelompok golongan atau agama tertentu saja.

    “Siapa (golongan/perorangan) yg menabur fitnah (salah satu tanda akhir zaman), akan menuai buah pahit yg ditanamnya”

    Maha suci Allah yg Maha Pengasih. Ampuni kelemahan ku Ya Allah. Bangkitkan dan bukakanlah mata hati ku agar dapat memahami semua kejadian ini.

  2. Skrg ini logika sdh dibalik2. Umat muslim yg ingin memurnikan akidahnya krn sdh dicemari oleh ajaran ahmadiyah malah disebut melanggar HAM. Kalau ada orang yg mengotori rumah kita siapakah sebenarnya yg melanggar HAM?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s