BBM di Tengah Harkitnas

Dengan terus meroketnya harga minyak dunia saat ini hingga mencapai US$ 125/barrel akhirnya “memaksa” Pemerintah untuk mengambil kebijakan yang sangat tidak populer yaitu menaikkan harga BBM pada akhir Mei 2008 ini. Alasan yang dikemukakan adalah beban subsidi menjadi sedemikian besar sehingga tidak mampu lagi ditanggung Pemerintah untuk membiayai APBN. Aksi penolakan terutama dari mahasiswa tentang rencana kenaikan BBM pun bergejolak di seluruh tanah air. Beberapa kalanganpun juga sudah mengajukan beberapa alternatif solusi agar harga BBM tidak dinaikkan. Tapi Pemerintah tampaknya tak bergeming dan malah menuding bahwa aksi-aksi tersebut sudah ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu. Suatu tuduhan gaya orba yang menyakiti perjuangan mahasiswa.

Sebagai masyarakat awam yang tidak begitu paham perhitungan teknisnya, saya hanya bisa membandingkan bahwa di negara-negara pengekspor minyak lainnya yang income per kapitanya jauh lebih tinggi dari Indonesia, harga minyak di dalam negerinya jauh lebih murah dari Indonesia. Sebagai contoh, jika harga bensin di Indonesia Rp. 4.500/liter dan akan dinaikkan hingga Rp. 6.000/liter, maka di Venezuela harganya hanya Rp. 460/liter, Nigeria Rp. 920/liter, Iran Rp. 828/liter, Arab Saudi Rp. 1.104/liter, Kuwait Rp 1.932/liter, Mesir Rp. 2.300/liter, Uni Emirat Arab Rp. 4.140/liter dan Malaysia Rp. 4.876/liter (detailnya silahkan lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/gasoline_usage_and_pricing). Yang lebih membuat kita tidak habis mengerti adalah sudah harga BBM mahal, ketersediaanya juga langka. Kita bisa lihat di media televisi bagaimana antrian BBM begitu panjang di berbagai wilayah di tanah air, baik itu bensin di SPBU maupun minyak tanah dan gas (elpiji) di agen-agen penjualan.

Kadang saya sempat berpikir apakah rendahnya kualitas SDM kita memang sudah merata mulai strata bawah sampai atas. “Orang pintar” di negeri ini sebenarnya tidak kurang-kurangnya. Lihat saja menteri-menteri perekonomian yang ada di kabinetnya SBY-JK, berapa banyak yang bergelar Doktor bahkan Presidennyapun juga berpendidikan S3. Tapi kalau setiap kenaikan harga minyak dunia selalu diikuti dengan kenaikan BBM dalam negeri, sepertinya kok gelar-gelar keilmuan yang mereka miliki tidak sebanding dengan jalan keluar yang mereka tawarkan. Tidak ada kreatifitas dan terobosan lain yang bisa dibanggakan selain pasrah dengan faktor eksternal yang memang tidak bisa dikendalikan. Langkah preventifnya (entah ada atau tidak) nyaris tidak berdampak apa-apa.

Menaikkan harga BBM sampai 30% jelas memiliki efek domino yang sangat besar terutama bagi rakyat kecil karena semua harga barang dan jasa pasti juga akan ikut naik. Kemampuan daya beli masyarakat akan menurun. Jumlah rakyat miskin otomatis akan bertambah, belum lagi kemungkinan pengangguran juga akan meningkat sebagai dampak dari PHK di beberapa Perusahaan yang tidak mampu lagi menekan biaya produksinya. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang ditujukan bagi rakyat miskin sebenarnya lebih ditujukan agar mereka mampu bertahan hidup saja, padahal orang hidup tidak hanya sekedar makan dan minum. Dampak kenaikan BBM yang lalu saja masih terasa hingga sekarang. Belum habis beban tersebut kini akan ditambah lagi dengan beban baru. Rakyat tidak perlu diingatkan lagi untuk hemat energi karena memang tidak ada uangnya lagi buat berboros-boros. Ikatan ikat pinggangpun nyaris sudah habis tak tersisa. Entah bagian mana lagi yang harus diketatkan untuk menekan pengeluaran dan bisa hidup lebih layak. Kenaikan BMM jelas merupakan kado pahit pemerintah bagi rakyatnya di tengah negeri yang sudah satu abad memperingati hari kebangkitan nasional-nya.


One thought on “BBM di Tengah Harkitnas

  1. Saya bukanlah fans dari regime SBY-JK, namun tampaknya dari kaca mata saya banyaknya reaksi emosional dari kebijakan yg tdk populer ini adalah impact dari ‘kemanjaan’rakyat kita setelah dinina bobokan oleh fasilitas subsidi selama lebih dari 30 tahun peninggalan haji Muhammad Soeharto. Agaknya tidak fair juga membandingkan Indonsia dg Negara2 seperti Venezuela, Arab Saudi, Iran, dsb yang nota bene memiliki 1/3 dari cadangan minyak dunia. kegemilangan suatu bangsa tidak dapat diraih tanpa kerja keras dan untuk kasus Indonesia mungkin harus melalui ‘penderitaan’. Alih2 mengeluh lebih bermanfaat bila kita lebih giat lagi memberikan yang terbaik buat keluarga, agama, bangsa, dan negara.
    jangan manja, mari bekerja, dan Insya Allah bangkitlah Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s