FPI Hanya Tumbal

Beberapa hari ini media massa nasional baik cetak, online maupun televisi menanyangkan berita seputar penyerangan FPI (Front Pembela Islam) terhadap AKKB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Banyak yang mengecam tindakan ini. Beberapa rekan jama’ah yang biasa ketemu di musholla-pun ikut-ikutan mengecam FPI. Tapi ketika saya tanya apakah mereka tahu kenapa FPI sampai menyerang AKKBB, rata-rata mereka menjawab tidak tahu. Yang mereka tahu ya yang seperti diberitakan media massa tersebut. Sejak FPI lahir tanggal 17 Agustus 1998, banyak pihak yang menyayangkan cara-cara FPI dalam ber “amar ma’ruf-nahi mungkar”. Yang dimunculkan ke permukaan adalah aksi kekerasannya dan bukannya kenapa aksi-aksi tersebut sampai muncul.

Disinilah kekuatan media. Dia bisa membentuk opini masyarakat. Jika pemberitaannya tidak berimbang bisa dibayangkan bahwa informasi yang diterimapun menjadi tidak proporsional. Kronologis penyerangan FPI yang disampaikan oleh FPI beberapa saat setelah penyerangan di Monas tidak banyak diekspos (silahkan simak detailnya di http://fpipetamburan.blogspot.com). Yang diangkat malah perseteruan antara Habib Rizieq dengan Abdurrahman Wahid yang mendukung ahmadiyah yang akhirnya membenturkan antar sesama muslim yaitu antara FPI dengan para pendukung Gus Dur. Media massa jelas turut berperan dalam terjadinya bentrokan-bentrokan ini.

Menyimak orasi AKKBB di Monas yang menyebut FPI sebagai laskar setan atau laskar kafir rasanya tidak berlebihan jika pernyataan ini merupakan ungkapan provokatif. Belum lagi mendengar pernyataan Saidiman, Koordinator Lapangan aksi AKKBB yang juga merupakan aktivis Komunitas Utan Kayu yang saat kejadian mengeluarkan kata-kata  “Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing”. Sebuah ungkapan yang sangat kasar, tidak pantas dan bisa memancing emosi umat Islam.

Dalam berbagai kesempatan aksi FPI dilihat telah mencoreng Islam, sehingga dari kalangan muslim sendiri berharap agar tindakan ‘nahi mungkar’ FPI dilakukan dengan cara-cara yang santun seperti melalui cara dialog, debat serta melalui proses hukum. Tapi kita lupa bahwa sejak jaman penjajahan dulu masyarakat kita sudah dibentuk menggunakan teori X yang menganggap bahwa manusia harus diawasi secara ketat agar bisa patuh. Sebagai contoh, orang baru disiplin berlalu-lintas kalau di jalanan ada polisi. Begitu polisi tidak ada, potensi tidak disiplinnya langsung keluar. Lampu merah diterobos seenaknya. Artinya orang lebih takut pada polisinya daripada keselamatan dirinya. Contoh lain, sekarang orang lebih berhati-hati dalam menggunakan anggaran bukan karena melihat bahwa perbuatan korupsi sangat memalukan tapi karena takut diciduk KPK. Jika menggunakan teori Y yang melihat bahwa manusia tidak perlu dipaksa tapi harus datang dari dalam dirinya sendiri, saya tidak tahu akan berapa lama lagi perubahan terjadi di negeri ini.

Kita pasti masih ingat kejadian saat majalah playboy versi Indonesia akan terbit. Banyak pihak yang menentangnya karena khawatir penerbitan majalah ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Berbagai jalan persuasif sudah dilakukan, tapi hasilnya nihil. Pemerintahpun seolah tak berdaya membendung penerbitan playboy ini atas dasar kebebasan berekspresi. Tapi setelah FPI menempuh jalur hukum dan melakukan juga aksi sweeping di berbagai tempat terhadap peredaran majalah playboy barulah pihak penerbit “keder”. Ini satu contoh lagi bahwa teori X memang masih efektif digunakan. Seandainya teori Y yang digunakan, saya yakin sampai sekarang majalah tersebut masih tetap eksis di negeri yang mayoritas muslim ini.

Kembali ke kasus Monas,  AKKBB adalah aliansi yang terdiri dari 64 organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok ahmadiyah yang oleh MUI maupun Majelis Ulama Negara-Negara Islam sudah difatwakan sebagai aliran sesat dan diluar Islam. Isu yang diusung AKKBB adalah demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. FPI adalah salah satu ormas Islam (bukan satu-satunya) yang menentang ahmadiyah dan meminta Pemerintah agar segera melarang aliran sesat ini. Seperti biasa, cara nahi munkar dengan teori X pun mereka gunakan karena Pemerintah seolah “menggantung” status ahmadiyah. Akhirnya terjadilah bentrokan Monas 1 Juni 2008 yang lalu.

Menurut Eramuislim Online mereka yang tergabung dalam AKKBB terdiri atas:

– Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
– National Integration Movement (IIM)
– The Wahid Institute
– Kontras
– LBH Jakarta
– Jaingan Islam Kampus (JIK)
– Jaringan Islam Liberal (JIL)
– Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
– Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
– Institut Dian/Interfidei
– Masyarakat Dialog Antar Agama
– Komunitas Jatimulya
– eLSAM
– Lakpesdam NU
– YLBHI
– Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
– Lembaga Kajian Agama dan Jender
– Pusaka Padang
– Yayasan Tunas Muda Indonesia
– Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
– Crisis Center GKI
– Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
– Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
– Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
– Gerakan Ahmadiyah Indonesia
– Tim Pembela Kebebasan Beragama
– El Ai Em Ambon
– Fatayat NU
– Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
– Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
– Koalisi Perempuan Indonesia
– Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
– Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
– Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
– SHEEP Yogyakarta Indonesia
– Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
– Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
– LSM Adriani Poso
– PRKP Poso
– Komunitas Gereja Damai
– Komunitas Gereja Sukapura
– GAKTANA
– Wahana Kebangsaan
– Yayasan Tifa
– Komunitas Penghayat
– Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
– Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
– Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
– Crisis Center SAG Manado
– LK3 Banjarmasin
– Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
– Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
– Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
– PERCIK Salatiga
– Sumatera Cultural Institut Medan
– Muslim Institut Medan
– PUSHAM UII Yogyakarta
– Swabine Yasmine Flores-Ende
– Komunitas Peradaban Aceh
– Yayasan Jurnal Perempuan
– AJI Damai Yogyakarta
– Ashram Gandhi Puri Bali
– Gerakan Nurani Ibu
– Rumah Indonesia

Atas dasar kebebasan beragama, selama ini AKKBB termasuk yang sangat lantang menyuarakan dukungan terhadap eksistensi ahmadiyah di Indonesia. Bahkan acara di Monaspun disinyalir sebagai bentuk dukungan terhadap ahmadiyah yang dikemas dalam peringatan hari lahir Pancasila. Ini jelas sebuah kekeliruan karena apa yang mereka suarakan sebenarnya bukan masalah kebebasan beragama tapi tentang penodaan terhadap agama yaitu Islam. Mendukung ahmadiyah sama artinya dengan mendukung pencederaan Islam dan konsekuensinya memang akan berhadapan dengan umat muslim secara keseluruhan. Melihat mereka-mereka di AKKBB yang rata-rata berpendidikan tinggi, saya yakin mereka bukannya tidak tahu tentang hal ini. Mereka hanya pura-pura tidak tahu. Untuk itu, umat Islam perlu merapatkan barisan dan tetap istiqomah memurnikan ajaran Islam termasuk menyuarakan pelarangan ahmadiyah.

Hal lain yang perlu dicermati dari kejadian ini, isu penolakan kenaikan BBM langsung hilang ditelan bumi. Apakah ini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari grand scenario kenaikan BBM?

Wallahu a’lam bishshawab.

Artikel terkait : Kenapa SKB Ahmadiyah Alot?



6 thoughts on “FPI Hanya Tumbal

  1. Segala sesuatu harus ditempatkan pada posisinya.
    1. FPI secara hukum Indonesia bersalah atas penyerangan, sebaiknya ditindak sesuai hukum yang berlaku, dan ini sedang berjalan.
    2. Polisi harus memproses semua delik pengaduan, baik dari FPI maupun Aliansi, tidak hanya dari satu pihak saja.
    3. Pemerintah segera menindak lanjuti apa yang sudah menjadi fatwa MUI tentang ahmadiyah.
    4. AKKBB jangan mendukung kelompok yang sedang bermasalah dengan umat Islam. Tidak ada kebebasan murni di dunia ini.

  2. Sudh bisa ditebak deh mana-mana aja yang masuk dalam ‘gerombolan’ AKKBB. “Yang beragama non muslim dilarang turut campur dalam perkara ahmadiyah!!!” dan kepada pemerintah, “Mannna SKB tiga mentrinyaa? keluarin donk!!”

  3. Sebagai seorang Muslim segala sesuatunya harus ditimbang dengan syariat….bagi saya tindakan FPI di Monas itu tidaklah benar…mengapa tidak benar? karena tidak ada tuntunan Rasulullah yang mengajarkan demikian……Rasulullah tidak pernah sedikitpun memukul orang kecuali dalam peperangan….Oleh karena itu saya memberi nasehat kepada FPI maupun saya sendiri…untuk lebih banyak menuntut ilmu…mensuritauladani Rasulullah dan para sahabatnya…serta memperbanyak puasa agar kita diberi kesabaran dalam menjalankan sunnah…….

  4. MANA GAYA SOK JAGOAN FPI,LPI,HTI MENINDAKI SOAL SERANGAN ISRAEL KE GAZA? BERANI GAK GEBUKI TENTARA ISRAEL. AYOO SEMUA KRONI FPI DKK. KATANYA MAU MATI SAHID. AH PAYAH LOE SEMUA BERANINYA AMA YANG LEMAH. JGN JADI PECUNDANG SEJATI.

  5. My spouse and I stumbled over here coming from a different web page and thought I might check things out. I like what I see so now i am following you. Look forward to exploring your web page for a second time.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s