Habib Rizieq : Penjara adalah Rekreasi

Saat ini Al Habib Mohammad Rizieq Shihab atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Rizieq sudah dijadikan tersangka oleh pihak Kepolisian sebagai akibat dari peristiwa Monas tanggal 01 Juni 2008 yang lalu antara Laskar Komando Islam dengan AKKBB. Pasal berlapispun dituduhkan kepada dirinya. Tapi Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) yang begitu teguh dengan prinsip dan keyakinannya ini tidak sedikitpun menunjukkan kekhawatiran bahkan jika nanti sampai dihukum atau dipenjara sekalipun. Suaranya masih lantang menggelegar. Belakangan dia tidak mau lagi menjawab pertanyaan penyidik sebelum Kepolisian juga memeriksa AKKBB termasuk Abdurrahman Wahid yang menjadi pembela ahmadiyah sekaligus disinyalir sebagai pihak yang memprovokasi sehingga sampai terjadi bentrokan Monas.

Penjara bukanlah tempat yang asing bagi Habib Rizieq. Kita mungkin masih ingat bahwa sekitar bulan Maret 2003 sempat terjadi ketegangan antara anak buah pengusaha Tommy Winata bernama David A Miau di Polres Jakarta Pusat (Jakpus) usai terjadi penggerebegan kantor majalah Tempo oleh anak buah Tommy. Saking kesalnya ditangkap aparat sempat keluar ucapan dari mulut David bahwa ia merupakan penyumbang Polres Jakpus dari uang hasil judi. David juga mengaku mampu mengatur Kapolda Metro Jaya. Sebagai buktinya, saat itu David menyuruh Kapolda untuk bicara dengan Kapolres Jakpus via telepom genggamnya. Mengetahui keadaan ini Habib geram. Selain membela Tempo, dia juga bersuara lantang dengan mengatakan bahwa kepolisian kita tak ubahnya bagai mafioso karena bahu-membahu dengan pelaku kejahatan. Buntutnya tahun 2003 Habib Rizieq divonis bersalah oleh pengadikan dan dipenjara selama 7 bulan dengan tuduhan telah menghasut dan menghina pemerintah (dalam hal ini jajaran kepolisian).

Meski saat itu akhirnya ia berada di balik jeruji besi, Habib Rizieq tetap tak berubah. Sebagai seorang juru da’wah, dia juga terus mengajar. Bahkan dia sampai mendirikan pesantren khusus untuk narapidana yang diberinya nama Pesantren At-Tawwabin. Bersama-sama dengan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abubakar Ba’asyir yang saat itu juga berada di Rutan Salemba mereka membina santri narapidana yang jumlahnya mencapai 700-an orang.

Apa saja yang dilakukannya selama di penjara? Bagaimana pula pandangannya terhadap berbagai bentuk kemaksiatan dan premanisme yang terus merajalela? Berikut petikan wawancara lama dengan Habib Rizieq yang dilakukan pada tahun 2003 yang lalu oleh Cholis Akbar dan Pambudi Utomo dari majalah Hidayatullah.

Bagaimana keadaan Anda selama di penjara?
Alhamdulillah, seperti yang Ente lihat, ana baik-baik saja. Sebelum dipenjara ana biasa mengajar, di sini pun begitu. Dari pagi sampai sore mengaji bersama narapidana (napi).

Tetap aktif berda’wah?
Seperti kata Ibnu Taimiyah. Bagi seorang mujahid, hidup di bumi itu biasa, kalau hidup di penjara itu uzlah, kalau dibuang dari negerinya berarti tamasya. Ikhwan-ikhwan yang sekarang sedang ditangkapi Amerika Serikat (AS) berarti mereka punya kesempatan untuk uzlah dan tamasya. Jadi, dinikmati saja.

Bagaimana perasaan Anda ketika menerima vonis?
Tidak ada yang istimewa, sebab vonis itu memang sudah ana perkirakan. Itu kan sidang dagelan. Ana juga tidak merasa sakit hati atau apa. Semua terserah Allah.

Bagaimana respons napi terhadap aktivitas da’wah Anda?
Luar biasa. Dari 1800-an tahanan Muslim, yang aktif mengaji sekitar 700-an orang. Kalau diluar, mereka enggan mengaji karena sering dikucilkan masyarakat. Pengurus masjid pun enggan bergaul dengan mereka. Kalau di dalam penjara kan statusnya sama. Jadi ya enjoy saja. Mereka sebelumnya tidak pernah shalat, atau cuma shalat pas hari Jumat. Sekarang sudah rutin. Yang tadinya tidak bisa mengaji, sekarang bisa mengaji. Kegiatan ini malah seperti jadi hiburan, di tengah rutinitas di penjara yang membikin sumpek.

Materi apa yang diajarkan?
Ada akhlaq, fiqih, syariat, tetapi masih tingkat pemula. Ada pula yang sedang belajar iqra’. Ana dibantu oleh napi lain yang pernah belajar di pesantren. Selain itu, ada acara tanya-jawab, tentang masalah apa saja.

Saat acara tanya-jawab, pertanyaan semacam apa yang biasa mereka lontarkan?
Mulai pertanyaan serius sampai yang konyol. Misalnya, bagaimana cara bertaubat bagi dirinya yang sudah sering merampok dan membunuh orang? Ada yang konyol, seperti bagaimana hukumnya kalau memperkosa anak setan? Ha…ha…ha…

Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu?
Usahakan agar mereka selalu optimis. Bagi yang ingin bertaubat, masya Allah, dia akan dicintai Allah. Orang yang baik itu bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang mau bertaubat memperbaiki kesalahannya. Begitu kira-kira yang sering ana sampaikan. Jangan buru-buru bicara tentang neraka, mereka malah akan kabur.

Dalam kenyataannya, orang eks penjara malah bisa jadi bertambah kejahatannya. Anda melihat itu juga?
Anggapan itu tidak salah. Maaf kalau ana agak kasar. Penjara memang lebih tepat dikatakan sebagai Lembaga Pembinatangan (manusia), bukan Lembaga Pemasyarakatan. Di sini berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Yang namanya pemerasan, penganiayaan, itu cerita harian. Penjahat yang masuk penjara malah berkesempatan belajar kepada seniornya. Tadinya cuma copet, begitu keluar malah jadi rampok. Tak heran banyak yang enjoy keluar-masuk rutan. Di sini ada napi yang sampai 16 kali keluar masuk penjara. Begitulah napi yang tidak pernah dapat sentuhan Islam. Makanya ana usulkan agar Departemen Kehakiman dan HAM tidak cuma mengurusi masalah fisik seperti makanan dan pakaian. Urusan ruhani juga harus diperhatikan. Semestinya ada kerjasama dengan instansi semacam Departemen Agama dan ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Al-Irsyad, dan semacamnya.

Adakah kendala yang Anda hadapi selama menjalankan roda pesantren di penjara?
Alhamdulillah relatif tidak ada kendala. Malah beberapa LP seperti di Cirebon dan Tangerang ingin mencontohnya. Di Tangerang telah terbentuk komunitas Pesantren At-Tawwabin berkat usaha napi asal Salemba yang dioper ke sana. Aktivitas mereka juga didukung Kepala LP. Ana diminta agar pindah ke sana agar bisa mengajar. Namun tanggung, insya Allah ana kan sebentar lagi bebas. Alhamdulilah beberapa ustadz sudah diundang ke sana, seperti Arifin Ilham, Dadang Hawari, Ja’far Umar Thalib. Akan sangat bagus kalau rintisan di Salemba ini bisa jadi proyek nasional. Rasanya tidak sulit. Tempat sudah tersedia, santri banyak dan siap, makan gratis. Tinggal ditaruh ustadz saja, tentu akan mau disuruh mengajar di LP. Mau apa lagi? Tapi jangan lantas ustadz ditangkapi melulu, supaya bisa mengajar di penjara. Ha…ha…ha…

Sekarang memang banyak juru da’wah yang ditangkapi?
Ana sudah bicara tentang penangkapan dan penculikan aktivis sejak setahun yang lalu. Tanggal 5 Oktober 2002 ana berdebat di televisi dengan petinggi Polda Metro Jaya. Saat itu beberapa aktivis FPI ditangkap, dan ana katakan itu sebagai penculikan. Barangkali tersinggung dengan ucapan itu, Mabes Polri dan Polda Metro Jaya menuntut. Katanya, ana dianggap menghina pemerintah (polisi) dan menghasut. Inilah pasal yang kelak digunakan untuk menjebloskan ana ke penjara. Saat ini banyak aktivis Islam dan para dai diculik. Kalau dulu cuma ana dan beberapa gelintir orang yang bersuara, sekarang anggota dewan, para ulama, dan politisi serempak menuding itu sebagai penculikan.

Anda punya imbauan untuk para juru da’wah yang kini di penjara?
Jangan takut mendengar kata “penjara”. Penjara itu cuma seperti ombak di lautan. Kalau dilihat dari jauh tampak bergulung-gulung mengerikan. Kita mungkin punya persepsi akan binasa kalau digulung ombak itu. Tetapi kalau kita berada di atasnya, semisal naik perahu, ternyata cuma goyang sedikit. Malah bisa kita nikmati sambil terkantuk-kantuk. Resepnya adalah tetap istiqomah dan tidak surut untuk berda’wah. Jangan pula beranggapan bahwa karena dipenjara lantas kita menganggap da’wahnya gagal. Nabi Zakariya dan Nabi Yahya as yang terbunuh pun tidak gagal. Apapun yang terjadi, katakan bahwa yang haq itu haq. Itulah keberhasilan atau kemenangan da’wah yang sesungguhnya.

Anda bersama Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Ustadz Abubakar Ba’asyir adalah juru da’wah yang mula-mula ditangkap. Menurut Anda, kenapa begitu?
Kami bertiga adalah orang yang cukup keras melawan Amerika Serikat (AS). Banyak ulama yang bersuara keras, tetapi kami lebih mudah ditangkap karena ada pintunya. Ustadz Ja’far melalui pintu kerusuhan di Ambon. Ustadz Abu cukup gencar mengkampanyekan gerakan anti-Amerika. Sedangkan ana gencar menghantam tempat-tempat maksiat dan juga kampanye anti-Amerika. Melalui pintu-pintu itulah kami ditangkap.

Selanjutnya kira-kira siapa?
Ini yang perlu diingatkan kepada kaum Muslimin dimanapun. Jangan beranggapan bahwa cuma orang-orang yang dicap radikal seperti ana, Ustadz Ja’far, dan Ustadz Abu yang akan ditangkap. Suatu saat nanti orang yang kini dianggap moderat pun akan memperoleh giliran. Seorang Muslim pasti akan bicara tegas terhadap kepongahan AS dan konco-konco-nya. Sekarang ini hampir semua tokoh Islam bersuara senada. Nah, siapapun yang menentang kebijakan polisi dunia itu, potensial juga untuk ditangkapi. Giliran Ustadz Ja’far, Ustadz Abu, dan ana sudah. Orang yang pernah berjihad di Afghanistan, Ambon, dan Poso juga sudah. Lainnya tunggu saja.

Selama di penjara, apa saja yang Anda lakukan bersama Abubakar Ba’asyir?
Kami tiap hari ketemu, kadang menerima tamu bersama-sama. Kami berdua juga bagi tugas mengajar para napi. Ana dapat jatah hari Senin sampai Rabu, Ustadz Abu hari Kamis sampai Sabtu. Kami banyak diskusi.

Tentang apa?
Banyak, terutama yang menyangkut penegakan syariat Islam. Ana banyak mengambil manfaat dari pengalaman Ustadz Abu. Beliau ini memang sikapnya keras dalam arti teguh memegang prinsip. Tetapi terhadap orang yang berbeda pendapat, dia sangat toleran. Baik sekali orangnya.

Bukankah selama ini Abubakar Ba’asyir dicitrakan sebagai teroris yang sangat berbahaya?
Berbeda 180 derajat. Itu semua kan fitnah. Sama halnya dengan penangkapan aktivis saat ini, juga penuh fitnah. Kalau mereka pernah ke Afghanistan, Ambon, Poso, apa berdosa? Kita ingin membantu saudara sesama Muslim yang sedang kena teror. Di Ambon kita nyaris kalah, tapi akhirnya bisa unggul. Ini rupanya menimbulkan sakit hati di kalangan mereka. Termasuk engkong-nya di AS sono. Karena sakit hati, para mujahid dicari. Tetapi kalau cuma berdasar kasus Ambon, kan alasannya sulit diterima. Ditariklah ke Afghanistan, atau Moro. Ini yang dijadikan pintu masuk.

Suasana penuh gelak tawa selalu mewarnai keseharian Habib Rizieq dan Abubakar Ba’asyir. Tak ada guratan lara meskipun keduanya hidup di penjara. Ketika Hidayatullah mewawancarai Habib, kebetulan keduanya sedang terlibat perbincangan seputar kedatangan Presiden AS George W Bush ke Bali.

“Mungkin George Bush akan membezuk Ustadz Abu di sini,” seloroh Habib. “Yah, barangkali ingin ketemu langsung, seperti apa sih Abubakar Ba’asyir itu?”

“Kalau dia ke sini, akan saya kethak (jitak –red) kepalanya,” jawab Abu enteng.

Di kesempatan lain, keduanya juga bernostalgia. Salah satunya ngobrol tentang mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang pernah meminta Kapolri agar menangkap keduanya. “Kabarnya, Gus Dur tahu bahwa Ustadz Abu kemana-mana selalu membawa pedang. Bisa bahaya kan?” lagi-lagi Habib melempar umpan.

“Iya, wartawan tanya apa betul saya sering bawa pedang. Saya jawab, kemana-mana saya selalu membawa buku tauhid. Mungkin jin milik Gus Dur melihat buku itu seperti pedang, dan itu dilaporkan kepada tuannya,” jawabnya sambil terkekeh.

Rupanya, dua tokoh ini punya hobi yang sama, yaitu membaca buku. Sel Habib di Blok R Rutan Salemba penuh buku, sehingga mirip perpustakaan. Saban hari ada saja “santri” yang membaca-baca bukunya. Tidak cuma mendirikan perpustakaan. Habib juga telah menulis 4 buah buku. Judulnya Munajat, Kumpulan Do’a dari Para Aulia’ dan Anbiya’; Suara dari Penjara (Pledoi); Kumpulan Do’a Qur’an dan Hadits; Diary Amar Ma’ruf Nahy Munkar (Seputar Keraguan Amar Ma’ruf Nahy Munkar). Ketika wawancara berlangsung, buku-buku tersebut sedang dalam proses penerbitan.

Kehidupan di luar penjara juga tak luput dari perhatian Habib. Dari dalam penjara, instruksi Habib terus mengalir ke tubuh FPI yang kini tengah giat mengawasi tempat-tempat hiburan dan maksiat. Ia bahkan menyempatkan diri mengirim buku berjudul Jakarta Undercover kepada Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Buku itu berisi kebobrokan dunia hiburan di Jakarta. “Agar polisi tahu, bahwa kemaksiatan sudah merajalela dan harus segera diberantas,” harapnya.

Selama Anda di penjara, bagaimana aktivitas FPI?
Tetap seperti biasa. Itu artinya FPI tidak mati kan? Padahal kalau ana di penjara, diharapkan aktivitas FPI akan mati, ana stress, atau dikerjain oleh para preman yang dulu sering bentrok sama FPI. Alhamdulilah, Allah menghendaki lain. FPI tetap eksis, ana bisa enjoy, dan para preman justru menjadi santri. Ha…ha…ha…

Bagaimana respons para pengusaha hiburan ketika tahu Anda dipenjara?
Menurut berita dari informan kami yang memantau tempat maksiat, malam itu begitu ana ditangkap, hampir semua pengusaha diskotik di Jakarta menggelar pesta minum gratis. Para preman berteriak, “Merdeka!” Aneh bukan? Para aktivis masjid ditangkapi, hanya karena “diduga” terlibat tindak terorisme dan segala macam itu. Tetapi para mafia judi, pengusaha pelacuran, dan pengedar narkoba itu tidak cuma “diduga” saja. Benar-benar sudah melakukannya. Kenapa tidak ditangkap?

Anda punya buktinya?
Lho, ana bisa tunjukkan kepada Kapolri, Kapolda, atau siapa saja yang tidak percaya atau terus membantah. Kalau perlu ayo kita menyamar dan melihat tempat-tempat maksiat itu, melihat rolet (jenis permainan judi –red), transaksi narkoba, atau striptease (tarian telanjang –red). Tidak perlu lah menutup mata.

Menurut pengamatan Anda, kenapa aparat tidak memberantas tempat-tempat maksiat seperti itu?
Menerima setoran. Memang cukup sulit menunjukkan bukti hitam di atas putih. Tidak ada kuitansi karena semua dilakukan dengan kontan. Tetapi marilah kita berpikir logis saja. Maaf nih, sekali lagi maaf, ana tidak bermaksud menyentil persoalan SARA. Mana mungkin golongan minoritas seperti Tionghoa-kafir berani menabrak seperangkat perundang-undangan negeri kita, kalau tidak dilindungi oleh penguasa pribumi? Tidak mungkin! Omong kosong kalau tidak ada backing-nya.

Anda pernah mengajukan bukti-bukti kepada aparat sehubungan dengan praktik seperti di atas?
Sudah tidak terhitung. Contoh terbaru, tanggal 8 September 2003 FPI secara resmi lapor kepada Kapolres Jakarta Pusat bahwa di Mangga Dua ada bisnis judi. Juga tentang lokasi maksiat di kawasan Ancol, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk, Lokasari, Pluit, dan Kelapa Gading. Kami tunjukkan bukti-buktinya, lengkap dengan foto-foto. Ternyata laporan kami tidak diladeni. Padahal mereka kan punya kemampuan untuk menutup tempat-tempat maksiat yang melanggar undang-undang itu. Aparat lebih senang menggusur rumah rakyat yang ilegal. Lha ini tempat maksiat kan juga ilegal, dan jelas banyak mudharatnya. Aparat semestinya juga membuldozer tempat-tempat maksiat itu dong! Jangan malah dilindungi. Uang haram itu sekarang juga mengalir ke partai-partai setan yang kini siap-siap menyongsong Pemilu 2004. Makanya aktivis partai Islam harus mendukung perjuangan saudara-saudara seiman dalam memerangi tempat maksiat.

Partai setan itu yang mana?
Partai-partai yang enjoy sama maksiat dan menentang penegakan syariat. Sudah tahu kan? Makanya mereka akan berusaha mempertahankan bisnis maksiat ini paling tidak sampai Pemilu yang akan datang. Mereka memakai cara-cara preman dan backing-backing-an.

Anda punya pengalaman pribadi yang bisa menggambarkan adanya fenomena backing-backing-an itu?
Kasus Tempo bisa jadi contohnya. Ana hantam Tommy Winata dan kami tantang perang dia. Tommy sih tampaknya nggak marah. Tetapi yang marah justru (maaf) “buldog dan herdernya”. Makanya ana diseret ke penjara.

Media massa seperti Tempo selama ini sering menilai miring aktivitas FPI, tetapi Anda justru menjadi pihak pertama yang menunjukkan simpati. Alasannya?
Media semacam Tempo dan Kompas tidak cuma menilai miring, tetapi mukulin. Jadi ana tidak bersimpati pada Tempo-nya, tetapi kebebasan persnya. Pers berada di posisi yang mazhlum (terzhalimi) maka harus dibela. Ini kan ajaran Islam. Kami tahu, Tempo tampaknya memang media yang anti-Islam. Tetapi Allah mendidik kita untuk memperhatikan orang yang terzhalimi.

Menurut Anda, premanisme terhadap pers merupakan gejala apa?
Tempo kan termasuk media besar. Kalau Tommy bisa melakukan tindakan premanisme terhadap kelompok media yang kuat, apalagi terhadap kelompok media yang lemah? Bagaimana kepada media Islam, yang umumnya tidak sebesar Tempo? Tindak premanisme ini harus dipangkas. Kalau tidak, republik ini akan dikuasi oleh mafia. Dan jaringan mafia di Indonesia sudah menggurita karena mereka kebanyakan sudah punya anak didik.

Maksudnya?
Begini. Orang-orang semacam Tommy sering menjadi “bapak asuh” sejumlah pejabat yang kelak akan memimpin pos-pos strategis negeri ini. Mereka memberi beasiswa. Begitu sang pejabat ini lulus, tentu akan selalu ingat kepada “bapak”-nya. Jangan kaget kalau ada aparat, jaksa, atau hakim yang bisa patuh pada kemauan para koboi. Mereka menguasai semua jalur hukum. Bahkan telah menjadi rahasia umum, orang-orang itu akan menyiapkan sogokan kalau si pejabat ingin naik pangkat. Inilah Republik Mafioso. Dan inilah yang akan diperangi oleh FPI. Kekuatan mereka luar biasa. Selama lima tahun FPI sering mengirim surat kepada Gubernur DKI Jakarta, misalnya berisi permintaan penutupan tempat hiburan. Tetapi tak satu pun yang pernah dibalas. Sementara kalau pengacaranya Tommy yang kirim, misalnya dalam kasus perseteruan dengan Tempo, dalam sehari langsung dibalas. Ada apa di negeri kita ini?

Anda tetap bersuara keras. Nanti bisa ditangkap lagi lho!
Ana nggak kapok. Kita tidak perlu takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.

Anda juga punya backing ya?
Alhamdulillah, kami memang punya. Dan backing FPI hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kabarnya Anda dekat dengan beberapa petinggi militer?
Ana mengenal dekat mantan Kapolri Jenderal Roesmanhadi, juga petinggi militer seperti Jenderal (Purn) TNI Wiranto, Mayjen TNI  Djaja Suparman, dan beberapa nama lagi. Perkenalan kami terjadi sejak peristiwa Ketapang (1999), dimana saat itu FPI turut terlibat melawan preman. Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum FPI, ana juga pernah diundang ke Cilangkap (Markas Besar TNI AD red). Misalnya saat diminta masukannya tentang penyelesaian kasus Aceh. Awalnya TNI akan mengunakan istilah Operasi Rencong. Ana memberi saran, jangan memakai nama itu, sebab bisa menyinggung perasaan orang Aceh. Ana juga minta agar Polwan dan tentara wanita di sana memakai jilbab. Alhamdulillah, saran-saran itu diterima. Begitulah kedekatan ana atau FPI dengan mereka, tak lebih dari itu.

Sejauh mana peran mereka di FPI sekarang?
Mereka sering memberi masukan, tak jarang pula mengkritik. Misalnya mereka sering memprotes kenapa laskar FPI di lapangan kok suka mengempur tempat maksiat. Ana jawab saja bahwa dalam hal ini ya kita berbeda pandangan. Sampai sekarang hubungan kami tetap dekat. Tetapi alhamdulillah, ana termasuk orang yang tidak bisa kerasan bila duduk berlama-lama di kursi milik pejabat. Pantat ana terasa panas.

Oh ya, kalau Anda bebas lalu bertemu polisi yang menangkap atau majelis hakim yang menjatuhkan vonis, sikap Anda akan seperti apa?
Maunya Ente seperti apa? Mau pelukan? Tonjokan? Atau apa? Ana bingung menjawab pertanyaan yang ini. Ha…ha…ha… Ana akan ingatkan mereka agar ittaqullah (taqwa kepada Allah). Para pejabat, menteri, penguasa, takutlah kalian pada Allah. Mereka bisa saja menindas kita, bisa membohongi rakyat, tapi mereka tidak akan bisa menipu dan membohongi Allah.

Paling tidak 2 kali semingu keluarga Habib bezuk di Rutan Salemba. Beda dengan umumnya keluarga narapidana yang dirundung kegalauan, Syarifah dan anak-anak tampak santai saja.

“Kami paham, ini risiko amar ma’ruf nahi munkar. Jadi ya dijalani dengan biasa saja,” kata Syarifah lagi.

Najwa, putrinya yang ke-4, sering ditanya teman-teman sekolah, “Abahmu kemana, kok tidak pernah kelihatan?” Dengan enteng si kecil ini menjawab, “Biasa… di penjara.”

Sementara Mumtaz yang baru belajar bicara, akan girang hati kalau mau bezuk dan sudah sampai di gerbang Rutan Salemba. “Sampai di sekolah abah ya!” ujarnya polos. Setahu Mumtaz, Habib saat ini sedang mengajar. Maka dia menyebut penjara sebagai sekolah. Bila keluarga ini sudah kumpul, suasananya jadi riuh rendah. Kelima anak itu akan bergelayut erat di pundak, tangan, dan kaki Habib. Lalu masing-masing bercerita tentang kegiatannya di sekolah atau di rumah. Acara bezuk itu tak ubahnya wisata keluarga.

Dalam kondisi seperti saat ini, apa yang biasanya Anda nasihatkan kepada keluarga?
Biasa saja, tidak ada yang khusus. Tentang akhlaq dan kehidupan sehari-hari. Itu saja. Itu ana sampaikan sewaktu mereka bezuk, kadang tiap hari, dua hari, atau seminggu sekali.

Bagaimana menjelaskan keadaan Anda saat ini kepada anak-anak yang masih kecil?
Anak-anak sudah paham dengan aktivitas ana dan berbagai macam risikonya. Paling-paling yang sering tanya si Mumtaz, kok abah tidak pulang-pulang? Umminya menjelaskan bahwa ana sedang mengajar. Dia bisa paham karena ana biasa mengajar di luar kota dan kadang menginap sampai seminggu. Tapi kok sudah lama tidak pulang? Makanya kalau dia bezuk, biasanya akan pesan, “Abah ngajar-nya jangan lama-lama dong!”

Bagaimana cara mendidik anak-anak agar paham dengan aktivitas Anda?
Tidak ada penjelasan khusus. Biasanya ana memberi penjelasan kalau mereka bertanya. Yang bisa membuat mereka paham adalah melibatkan secara langsung. Anak-anak kadang ikut rapat pengurus FPI, atau ikut menggerebeg tempat maksiat yang relatif tidak berbahaya. Dari sinilah mereka bisa paham, o… begitu ya kegiatan abah. Oleh karena itu mereka tidak merasa minder atau malu meskipun ayahnya dipenjara.

Saat ini kehidupan masyarakat penuh dengan kegiatan berbau maksiat, misalnya lewat televisi. Bagaimana mengontrol anak-anak agar terhindar dari perilaku maksiat?
Ini memang masalah yang berbahaya. Ana tidak melarang anak-anak menonton televisi. Bahkan ana beli televisi berukuran cukup besar untuk mereka. Namun ana menjadwal secara ketat kegiatan mereka sehari-hari. Pagi sampai siang di sekolah. Pulang sekolah, ada ustadzah yang mengajarnya di rumah. Ba’da Ashar, anak-anak kursus di luar, ada yang kursus komputer, Bahasa Inggris, dan berenang. Maghrib sampai Isya’ mengaji bersama ana dan istri lalu makan malam. Usai Isya’, mereka sibuk mempersiapkan pelajaran esok hari. Sampai sekitar pukul 21.00, anak-anak sudah mengantuk lalu tidur begitu saja. Jadi tidak sempat nonton televisi kan?

Apakah anak-anak tidak merasa capai dengan jadwal yang begitu padat?
Tiap Sabtu dan Ahad anak-anak selalu ana ajak rekreasi, misalnya ke kebun binatang, ke Puncak, atau ke Taman Mini. Pokoknya aktivitas di luar rumah bersama keluarga. Alhamdulilah, anak-anak tidak ada masalah.

Bagaimana sekarang ketika Anda di penjara?
Mereka ya rekreasi di penjara. Anak-anak akan membawakan makanan lalu kami makan ramai-ramai. Mereka bertingkah seperti di tempat wisata. Ada yang kejar-kejaran, main petak umpet. Penjara ini rasanya seperti di Taman Mini Indonesia Indah saja. Ha…ha…ha…


4 thoughts on “Habib Rizieq : Penjara adalah Rekreasi

  1. mudah2an habib tetap eksis dan diberi pertolongan oleh Allah dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar..

  2. saya baca dari awal smpe akhir !
    senang rasanya.

    Maju trus Bib! hajar maksiat….!

    PS: Abubakar Ba’asyir bukan teroris? kan yg menuding salah satunya Ja’far Umar Thalib . lihat di

    saya muslim awam jadi bingung, mana yg benar nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s