Harga Sebuah Medali

Saat ini Pesta Olahraga Nasional XVII masih berlangsung di Kaltim, walaupun euforia-nya masih kalah jauh dibandingkan dengan pemilihan gubernur Kaltim tempo hari yang masih belum tuntas karena harus dilangsungkan putaran kedua pada bulan September 2008 yang akan datang. Jumlah medali emas yang telah diraih Kaltim cukup fantastis yang sampai saat tulisan ini dibuat sudah meraih 162 medali (56 emas, 56 perak, 50 perunggu) dan menempati urutan kedua dalam klasemen pengumpul medali terbanyak. Setiap peraih medali akan mendapatkan bonus uang yaitu emas akan menerima Rp.150 juta, medali perak Rp.50 juta dan atlet peraih medali perunggu Rp.25 juta. Tentu para pelatih dan official juga akan mendapat bagian bonus. Untuk bonus ini Pemprov dan DPRD Kaltim sudah sepakat mengalokasikan dana sebesar Rp.55 miliar. Jumlah sebesar itu tetaplah sangat kecil untuk ukuran propinsi sekaya Kaltim.

Sukses prestasi dengan masuk 5 besar memang merupakan target yang dicanangkan oleh PB PON Kaltim. Untuk mencapai target tersebut berbagai upayapun dilakukan. Sayangnya, pendekatannya menggunakan pola instan yaitu dengan “membajak” atlet dari daerah lain yang sudah berprestasi nasional bahkan internasional. Walaupun belum ada data resmi tapi dari berbagai sumber diberitakan bahwa jumlah atlet mutasi ke Kaltim ini sangat banyak dan sebagian besar dari mereka memang berhasil meraih medali terutama emas.

Masalah transfer atlet sebenarnya tidak hanya dilakukan Kaltim, tapi juga beberapa daerah lainnya yang lebih mementingkan hasil akhir dari pada proses pembinaan. Makanya saya sangat salut dengan propinsi yang berjuang dengan kekuatan sendiri seperti Papua yang walaupun besaran APBD mereka tidak kalah dari Kaltim tapi mereka tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk melakukan perekrutan seperti ini. Begitu juga dengan Gorontalo yang merupakan propinsi tersukses dalam hal pembangunan di era otonomi daerah juga tidak melakukan transfer atlet walaupun sampai saat ini mereka tidak meraih satu medalipun.

Hanya untuk sebuah prestise memang apapun akan dilakukan walaupun perjuangan atlet lokal yang sudah berlatih bertahun-tahun menjadi dikorbankan. Inilah yang saya lihat dilakukan oleh KONI Kaltim bersama-sama dengan pejabat elit di propinsi ini. Jika sudah begini, sangat wajar jika muncul pertanyaan masih pantaskah PON menjadi barometer suksesnya pembinaan olahraga pada tingkat provinsi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s