Ryan Bukan Pembunuh Terbesar

Aksi horor Very Idham Henyansyah alias Ryan, 30, sosok kelahiran Jombang, 1 Februari 1978, sungguh mengguncangkan publik. Semula, dia mengaku membunuh empat orang, kemudian menjadi sebelas, dan dugaan polisi bisa lebih dari sebelas. Orang pun menyebut dia sebagai pembunuh terbesar. Tapi menurut catatan Endang Suryadinata (alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam) yang dimuat di harian Radar Timika, sebenarnya Ryan bukanlah pembunuh terbesar dalam sejarah. Hingga kini, rekor pembunuh terbesar di dunia masih dipegang Elizabeth Bathory yang lahir pada 1560 di Hungaria. Selama pengadilan atas dirinya pada 1611, terungkap sekurang-kurangnya 650 nyawa melayang.

Namun, publik kita boleh jadi lebih mengenal nama Jack The Ripper yang menggegerkan Inggris pada 1888. Yang dia bunuh sebenarnya hanya lima orang. Semuanya PSK. Tapi, cara dia membunuh membuat namanya melegenda. Misalnya, saat membunuh Catherine Eddowes, 46. Lehernya dicekik, tubuhnya dibelah dari dada sampai selangkangan, dan isi perutnya terburai keluar. Tidak ketinggalan, rahimnya juga ikut dipotong dan dikeluarkan, mukanya hancur karena dikuliti, kelopak mata kanannya dicungkil, serta hidung dan telinganya hampir putus. Sangat sadis!

Penguasa Pembunuh

Ryan, Elizabeth Bathory, atau Jack The Ripper merupakan pembunuh swasta. Artinya, tak ada kaitannya dengan politik atau kekuasaan. Maklum, mereka bukan penguasa. Sejarah dunia tak pernah sepi dari penguasa pembunuh, Radovan Karadzic contohnya. Mantan pemimpin Serbia Bosnia yang baru ditangkap itu dituduh membunuh 8.000 hingga 12.000 muslim di Srebrenica pada 1995. Mahkamah Kejahatan Perang di Den Haag hari-hari ini tengah sibuk mengadili Karadzic.

Orang Indonesia jangan terburu-buru bangga. Sebab, menurut berbagai sumber, Soeharto, mantan penguasa Orba yang wafat pada 27 Juni 2008 itu, diyakini sebagai dalang di balik pembantaian atas 1 juta lebih jiwa warga yang disangka sebagai anggota PKI.

Boleh jadi, sudah tidak ada lagi penguasa yang tega membunuh seperti Karadzic. Tapi di beberapa kawasan, masih banyak kebijakan penguasa yang mengancam nyawa manusia. Misalnya, ancaman perang nuklir sungguh berpotensi membunuh jutaan manusia. Konflik di Iraq atau Afghanistan belakangan yang mengakibatkan banyak orang sipil mati pasti didalangi para penguasa yang punya nafsu membunuh. Lalu, kebijakan penguasa Israel memblokade Jalur Gaza, misalnya, bisa membunuh banyak anak Palestina.

Ibu Pembunuh

Namun, dari berbagai macam pembunuhan, kasus ibu yang tega membunuh bayinya sendiri, baik yang masih di dalam kandungan maupun yang baru dilahirkan, merupakan fenomena unik yang belakangan banyak disorot. Beragam buku atau analisis dikemukaan mengapa seorang ibu tega melakukan itu. Bisa jadi, dia mengandung anak hasil hubungan gelap dengan lelaki tidak bertanggung jawab. Atau bayi tersebut memang tidak dikehendaki. Kabarnya, korban dari ibu yang tega membunuh buah hatinya mencapai angka jutaan. Tiap tahun, 2 juta sampai 2,6 juta janin dibunuh dengan cara diaborsi. Itu di Indonesia saja! Nancy Chodorow dalam bukunya The Reproduction of Mothering, Psychoanalysis and the Sociology of Gender (1978) menyebut ibu yang tega membunuh bayinya lebih dipicu oleh ketidakadilan gender. Karena itu, jangan terburu menyalahkan perempuan. Sebab, ada andil pria dalam hal ini.

Larangan Membunuh

Ajaran-ajaran mulia dari berbagai agama melarang membunuh. Membunuh haram hukumnya. Bangsa Babilonia kuno hingga Mesir kuno, sebelum era agama samawi (Yahudi, Kristen, atau Islam) sudah punya larangan membunuh. Namun ironisnya, sejarah sudah membuktikan pertikaian antaragama atau antarumat seagama tapi berbeda mazhab pun sering justru membuat banyak nyawa melayang. Malah ada yang tega membunuh atas nama Tuhan. Perang Katolik-Protestan di Eropa atau Sunni-Syiah adalah contoh yang amat mengerikan. Betapa jutaan nyawa bisa melayang sia-sia. Martabat agung manusia bisa dikecilkan atas nama kebesaran Sang Pencipta.

Mungkin, kita yang bukan pembunuh akan sedikit punya kebanggaan ”Untungnya aku bukan pembunuh”. Namun jangan lupa, Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa, mengingatkan naluri agresi, termasuk hasrat untuk membunuh itu, pada prinsipnya ada pada semua orang. Yang menarik, menurut teori Freud, manusia mungkin saja tidak membunuh sesamanya dalam arti harfiah. Namun, dia bisa dikategorikan membunuh jika akibat tindakannya banyak orang lain mengalami kesulitan hidup sebagaimana mestinya.

Nah, yang menarik dalam konteks ini adalah tindakan para koruptor kita yang mungkin berbaju anggota DPR atau menteri yang tega mengorup apa saja, dari hutan hingga Bank Indonesia. Menurut para aktivis HAM, para koruptor kita sudah melanggar hak ekosos (hak ekonomi, sosial, dan budaya). Pasalnya, dengan uang yang dikorupsi, sebenarnya banyak warga kita bisa diangkat derajat kehidupan ekonomi, sosial, dan budayanya. Miliaran uang yang dikorupsi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk membeli susu, makanan bergizi, atau menyekolahkan ribuan anak miskin. Sayang, hak ekosos itu dilanggar, mengingat banyak uang negara diembat para koruptor. Jadi, para koruptor, keluarga, dan keturunannya harus malu bahwa dalam beberapa hal, para koruptor tidak lebih baik daripada Ryan atau para pembunuh lainnya.

—–

Sumber : Radar Timika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s