Merokok Tidak Haram

Ditengah kuatnya tuntutan berbagai pihak agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram merokok, sejumlah ulama dari pondok pesantren besar malah menolak rencana fatwa tersebut. Melihat penolakan yang cukup banyak dari kalangan ulama maka semakin jelaslah bahwa hukum merokok merupakan masalah khilafiyah. Ada yang beranggapan masih makruh tapi ada juga yang mengarah ke haram misalnya ulama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang sudah mengharamkan rokok. Yang mengharamkan berpendapat bahwa rokok tidak hanya berdampak bagi kesehatan, tetapi juga mubazir. Kalau nyata-nyata merusak maka hukumnya menjadi haram karena kita diperintahkan menjaga diri, jasmani dan rohani. Sedangkan yang berpendapat makruh mengatakan bahwa rokok tidak ada pada masa Nabi. Rokok baru dikenal 500-700 tahun yang lalu sehingga untuk menghukumi haram atau tidak, sulit dicarikan dasar hukumnya.

Akan tetapi jika dilihat dari bahaya yang diakibatkan oleh rokok sebagaimana sudah banyak diteliti oleh para dokter akhir-akhir ini, maka para ulama banyak yang menghukumi haram. Namun menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri (pengarang kitab Hasyiyat al-Bajuri) pendapat yang mengatakan haram atau boleh adalah pendapat lemah dan tidak dapat dijadikan pegangan. Menurutnya, pendapat yang bisa dijadikan pegangan adalah yang menyatakan merokok itu makruh. Sementara itu Syeikh Abu Sahal Muhamad bin al-Wai’z al-Hanafi mengatakan bahawa kemakruhan merokok disabitkan dengan dalil yang pasti (qath’I), sedangakan keharamannya disabitkan dengan dalil yang zhanni (tidak pasti).

“Saya yakin akan lebih banyak menimbulkan mudarat (dampak negatif,red.) daripada manfaatnya kalau masalah merokok itu disikapi MUI dengan mengeluarkan fatwa,” kata Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dalam suatu wawancara dengan majalah Hidayatullah. Dampak negatif tersebut, lanjut mantan anggota Komnas HAM itu, di antaranya adalah terganggunya kebutuhan ekonomi masyarakat.

“Bisa dibayangkan, berapa ratus ribu orang akan kehilangan pekerjaan. Belum lagi pada lapisan masyarakat lainnya, seperti pedagang rokok dan petani tembakau yang akan kena dampaknya,” kata adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Oleh sebab itu, dia menyarankan MUI agar dalam menyikapi masalah rokok yang sudah meracuni anak-anak dan remaja itu melalui pesan yang bijak.

“Akan sangat bagus, kalau disampaikan dalam bentuk imbauan melalui media massa. MUI bisa bekerja sama dengan praktisi periklanan, bagaimana pesan tersebut bisa efektif diterima masyarakat,” kata Gus Sholah yang mengaku bukan perokok itu.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh pengasuh Ponpes Al Falah, Ploso, Kabupaten Kediri, KH Zainuddin Djazuli (Gus Din). “Saya yakin tidak akan efektif. Buktinya sampai sekarang orang merokok masih banyak, padahal di mana-mana ada peringatan larangan merokok,” katanya. Justru dia mengingatkan MUI agar melihat sisi positifnya rokok dalam memberikan kontribusi pendapatan negara. “Rokok sudah menyumbang cukai Rp9 miliar per hari kepada negara, ini kan sisi positifnya rokok,” kata Gus Din.

Sementara itu, pengasuh Ponpes Lirboyo, K.H. Idris Marzuqi (Mbah Idris) kepada wartawan di Kediri meminta MUI tidak tergesa-gesa dulu menanggapi usulan Komnas Perlindungan Anak dengan mengeluarkan fatwa antirokok. “Agama (Islam) tidak mengharamkan rokok. Oleh karena itu, tidak perlu MUI melarangnya dengan dalam bentuk fatwa,” kata ulama sepuh NU yang juga perokok itu. Meski tak setuju dengan rencana MUI, selama ini Ponpes Lirboyo dan Ponpes Tebuireng yang memiliki santri di atas 5.000 orang itu melarang santrinya merokok .

Berbeda dengan Ponpes Al Falah, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren yang membebaskan ribuan santri putranya merokok tanpa membedakan usia. “Mana mungkin kami melarang. Biarkan saja mereka merokok asal jangan keterlaluan karena bisa menimbulkan pemborosan,” kata Kiai Din.

Kendati masih sebatas wacana, kalangan perusahaan rokok, terutama berskala kecil, merasa resah dengan larang merokok. Penolakan juga datang dari beberapa pesantren di Jember, Jawa Timur. “Perkara khilafiyah (perbedaan pendapat dalam hukum agam Islam) seperti rokok, tidak perlu diatur atau diperketat,” kata KH. Najmudin, Rois Aam Nahdlatul Ulama Jember dikutip  Tempointeraktif. “Kami berharap MUI nantinya berbiacara dulu dengan kalangan perusahaan rokok,” kata Ketua Pelaksana Harian Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero), Kasiati. Ia menyebutkan, perusahaan rokok yang termasuk dalam kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sudah terpukul dengan kebijakan baru mengenai tarif cukai yang berlaku awal tahun ini.


10 thoughts on “Merokok Tidak Haram

  1. kiai2 banyak yg merokok juga loh..

    —–

    fnoor : Betul sekali. Para ustadz yg kompetensinya mmg khusus pada ilmu agama saja banyak yg merokok. Kalau mereka tahu hal ini haram tentu sudah dari dulu mereka tidak melakukan hal tsb. Untuk itu tidak perlulah MUI memperuncingnya dgn mengeluarkan fatwa haram merokok, krn seolah2 yg mendukung pendapat haram merokok lebih benar dibandingkan dgn yg tidak mendukung. Karena ini area khilafiyah, maka kita musti dibiasakan menerima perbedaan. Yg penting saling menghormati satu sama lain.😉

  2. Aswrwb, saya setuju saja MUI memfatwakan haram merokok, karena saya kebetulan sama sekali tidak merokok, sering terganggu/diganggu oleh ulah para perokok yang kebanyakan `egois/arogan/tidak perduli/masa bodoh` kalau sudah maunya merokok, ya merokok saja. Kecenderungan di daerah, perokok lebih banyak. Bahkan 20 dari 10 perokok ada di daerah. Apalagi sikap mereka `ada` yang saya nilai kampungan, datang ke DKI menginap di hotel, pas naik lift tetap merokok dengan santainya, ditegur malah marah2. Lihat di kendaraan umum, betapa para `perokok` dengan SEMAUNYA merokok tanpa peduli sekitarnya. Saya tidak melihat sisi `fatwa` atau manfaat positip bagi cukai penerimaan negara, tetapi saya sudah sangat JUENGKEEEEELLLLLLLLLLLLLLLL!!! Maaf kalau ada perokok yang tersinggung membaca unek2 saya ini, karena saya juga sudah sangat sering tersinggung dan sakit hati atas ulah perokok, seakan setiap melangkah, asap rokok dan rokok yang saya hadapi. Sayang Pemprop DKI kurang tegas memberlakukan dilarang merokok di tempat2 tertentu, sayang sekali!!! Wassalam

  3. Kalo saya sih biar saja MUI mengeluarkan fatwa haram. Itukan hanya pilihan, bila MUI dianggap benar ya diikuti bila tidak ya ga usah diikuti. Gitu aja kok repot. Lagian aneh orang Indonesia fatwa kok dibandingkan ama kondisi sosial. Harusnya kita itu yang merujuk Al Quran, bukan Al Quran yang merujuk fenomena sosial. Lha kalo seumpama Mayoritas DPRD seluruh Indo menyepakati miras halal, apa iya trus jadi halal?

    —–

    Buat mas Didik dan mas Gundala. Marilah saling menghormati. Maksudnya yg merokok menghormati yg tdk merokok, misalnya dgn tidak mengepulkan asap di depan non perokok. Itu namanya frontal. Begitu juga yg tidak merokok, hormatilah para perokok he…he…

  4. cukup gunakan dalil “Alloh menghalalkan sesuatu yg baik bagimu dan Alloh mengharamkan segala sesuatu yg buruk bagimu”…. klo memang buat anda rokok itu baik ya sudah itu halal, kalo di dalam hati anda meyakini rokok itu buruk ya sudah itu haram… pertanggungjawaban keyakinan hati kita hanya kepada Alloh SWT,
    semoga kita semua mendapat petunjukNya amiin

  5. Wah dalil kok tergantung seberapa besar sumbangan ke kas negara ? kebayang gak kalau MUI mau mengeluarkan Fatwa harus itung itungan dulu berapa cukai yg disumbangkan ke negara ? he..he.., bisa bisa miras dan prostitusi jadi halal deh..!! Say no to nicotine..!! (amq)

  6. Repotnya adalah banyak Ulama yang merasa dengan julukan “Ulama” menjadikan dirinya “benar” untuk berpendapat ! Istilah khilafiyah itu muncul karena tidak adanya suatu ketentuan yang JELAS HUKUMNYA pada saat jaman Rasulullah. Saudara-saudaraku, kalau kita sedikit teliti pada ayat “Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qur’an, 5: 3), apakah artinya Allah mengingkari kata “Sempurna” ?! Seandainya ada kata lain yang lebih mewakili suatu kata lengkap dari kata “Sempurna” ?
    Repotnya bagi mereka yang mempunyai keburukkan didalam hatinya akan berani mendebat dengan kata-kata Lebih Sempurna, Paling Sempurna, dsb ! Saya tidak heran dengan pendapat ini, cuma bagi kita yang merasa hidup ini penting untuk menjalaninya dengan baik, mungkin ada baiknya merenungkan hal ini. Sebenarnya Islam itu adalah yang gampang dan tidak senjelimet seperti mereka yang berdalih mempunyai dalil-dalil yang kuat. Hukum Islam tidak pernah kacau ! Hanya mereka yang berpikiran kacaulah yang membuatnya menjadi kacau atau mungkin mempengaruhi orang lain juga ikutan kacau !
    Untuk sederhananya maka saya coba mengangkat suatu dalil yang sederhana yaitu “Rahmatanlil ‘alamin”, yang kalau diartikan Rahmat untuk alam, kebahagiaan(dalam arti yang positif tentunya) untuk semua. Maka “merokok” yang mempunyai kandungan “Racun” (dalam hasil penelitian yang real/nyata) dalam suatu lingkungan akan meracuni orang disekitarnya, lalu apakah ini bersesuaian dengan “Rahmatanlil ‘alamin” ? Gampang juga misalkan kalau bayi/anak mereka yang perokok disuruh juga merokok ! Tentunya mereka kaum perokok akan keberatan. Apalagi setelah diadakan Riset yang sungguh-sungguh efek/pengaruh asap rokok itu terhadap jaringan yang bersinggungan langsung dengan asap rokok, atau dalam istilah kedokteran disebut alveolus. Dimana permukaan yang licin dari alveolus menjadi berlobang-lobang kasar. Nah apabila lobang ini kemudian mendapat asupan terus menerus dari kandungan racun maka sudah dapat dipastikan jaringan itu akan semakin rusak, membengkak, infeksi, atau bahkan menjadi tumor/kanker.
    Lalu ada bantahan bila ada seseorang perokok yang bisa bertahan hingga berumur ratusan tahun. Nah masalahnya tidak pernah adanya suatu penelitian khusus yang melibatkan seseorang yang mempunyai ketahanan seperti ini, apakah memang tidak ada efek negatif dari rokok atau memang umurnya belum sampai aja. Karena selain dari adanya penyakit itu sendiri yang tidak tersembuhkan masih banyak hal lain yang cukup menentukan umur seseorang, misalnya daya tahan tubuh itu sendiri, dimana pasti tiap orang tidak mempunyai kualitas daya tahan tubuh yang sama primanya !
    Memang kebodohan selalu menjadi awal suatu kehancuran, termasuk kalangan ulama itu sendiri, bagaimanapun mereka adalah manusia yang bisa mempunyai khilaf. Tapi ada hal yang perlu kita waspadai ! Apakah dari ulama-ulama yang mempunyai pendapat yang selain menyatakan Rokok itu Haram, mereka juga faham dengan masalah tehnologi ? Yang artinya dari tangan mereka ada hasil positif berupa sumbangan/temuan Tehnologi Tinggi yang bermanfaat buat kehidupan/ibadah selain mereka hanya membicarakan pahala & rejeki (duit) melulu ? Saya kira kita bisa menimbang-nimbang masalah ini sebelum kita sampai dipenghujung umur, dimana kesalahan dalam menimbang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
    Mohon maaf bila ada kata yang menyinggung dan emosional !!!

  7. Hampir semua majelis ulama setempat di negara-negara dengan mayoritas Muslim telah memfatwakan haramnya rokok, hanya Indonesia satu-satunya negara dengan umat Islam terbanyak yang majelis ulamanya belum mem-fatwakan haramnya rokok. Para ulama masa kini telah sepakat mengharamkan rokok berdasarkan makna yang terindikasi secara tidak langsung dari zhahir ayat Alquran dan As-Sunah serta i’tibar (logika) yang benar. Metode Al Qur’an dan Hadits Mengharamkan Merokok

    Jika ada orang yang berkilah, “Sesungguhnya kami tidak menemukan nash (dalil), baik di dalam kitabullah ataupun sunah Rasulullah saw. perihal haramnya rokok.” Maka, jawaban atas penyataan ini adalah bahwa nash-nash Alquran dan sunah harus ditinjau dari dari dua jenis pendekatan :

    1. Jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith (ketentuan-ketentuan) dan kaidah-kaidah yang mencakup rincian-rincian yang banyak sekali hingga hari kiamat.
    2. Jenis yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada sesuatu itu sendiri secara langsung.

    Contoh untuk jenis pertama adalah ayat Alquran “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195) yang menunjukkan keharaman merokok secara umum meskipun tidak diarahkan secara langsung kepadanya. Atau sabda Rasulullah SAW : “Dan janganlah kalian menyia-nyiakan harta kalian dengan boros” , yang menunjukkan bahwa merokok sebagai perbuatan boros adalah perbuatan sia-sia, sedang perbuatan boros adalah sahabat setan, dan setan itu adalah makhluk yang ingkar.

    Sedangkan untuk jenis kedua, adalah perbuatan yang secara jelas diharamkan seperti firman Allah (yang artinya), “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (Al-Maidah: 3). Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu.” (/i(Al-Maidah: 90).

    Jadi, baik nash-nash itu termasuk jenis pertama atau kedua, ia bersifat keniscayaan (keharusan) bagi semua hamba Allah karena dari sisi pengambilan dalil mengindikasikan hal itu.

    Pertimbangan Mengharamkan Rokok

    Atas dasar metode tersebut diatas, maka pertimbangan-pertimbangan yang mendasari diharamkannya rokok adalah :

    1. Merokok dapat membinasakan diri

    Keharaman rokok itu disimpulkan oleh para ulama di masa kini setelah dalil i’tibar (logika) menyimpulkan berbagai bahaya merokok dan secara ilmiah dibuktikan bahwa setiap batang rokok mengandung lebih dari 4.000 jenis racun berbahaya. Merokok terbukti menyebabkan perasaan cemas, keletihan jiwa, penyakit jantung, kerusakan paru-paru dan kanker serta berbagai penyakit lainnya. Dan karena racun itu merusak tubuh manusia yang sebenarnya amanat Allah SWT untuk dijaga dan diperlihara, maka merokok itu termasuk melanggar amanat itu dan merusak larangan.
    Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195). Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu. Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat di atas adalah merokok termasuk perbuatan yang mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.
    Dalil yang lain, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
    Sebagaimana dimaklumi pula bahwa merokok adalah berbahaya (dharar) terhadap badan dan harta.

    2. Merokok menyia-nyiakan harta

    Dalil dari as-Sunnah adalah hadits shahih dari Rasulullah saw. bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. “Dan janganlah kalian menyia-nyiakan harta kalian dengan boros” . Kemudian di Al Qur’an Allah berfirman : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS. al-Isro’ : 26). “Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan.” (al-Baqoroh :195).
    Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikan harta (uang) kita kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebagaimana dimaklumi bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok adalah termasuk pengalokasian harta pada hal yang tidak bermanfaat, bahkan sama saja membelanjakan uang untuk hal-hal yang mengandung kemudharatan.

    3. Merokok berarti menuruti hawa nafsu

    Sangat sulit menghentikan kebiasaan rokok, karena secara fisik tubuh merasa lapar dengan nikotin, karsinogen dan berbagai jenis perangsang (baca : racun) dalam rokok. Tidak ada perokok yang tidak tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan, tapi mereka tetap melakukannya karena hawa nafsunya. Setan pun ikut andil membantu si perokok untuk tidak bisa jauh dari rokok. Bagi setan hawa nafsu adalah salah satu pintu untuk mempermudahnya masuk ke dalam jiwa seseorang. “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad : 14). Setanpun membantu si perokok untuk mencari dalil-dalil yang memperbolehkannya merokok. “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah :216)

    4. Merokok mengganggu orang lain

    Penilitian ilmiah juga membuktikan bahwa perokok pasif juga dapat terkena imbas racun rokok bahkan lebih parah. Sabda Nabi SAW : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu / menyakiti tetangganya.” Terutama “tetangga” yang paling dekat dengan dirinya yakni keluarganya. Kata beliau pula :“Barang siapa mengganggu seorang muslim maka sungguh ia telah menggangguku dan barang siapa mengganggu aku, maka sungguh ia telah mengganggu Allah SWT.”
    Imam Sahl berkata : “Dua hal yang dapat menghalangi seseorang untuk bisa sampai kepada Allah dan menyaksikan alam malakut : makanan yang buruk, dan menyakiti makhluq.” Keduanya ada pada rokok, ia ‘makanan’ yang buruk dan sekaligus menganggu kesehatan orang lain disekitarnya.

    5. Merokok menjauhkan perokok dari berbagai kesempatan dan perbuatan baik

    Ketika seseorang harus merokok maka ia harus malu dan menghindar dari orang-orang soleh yang mengharamkan rokok, ia juga tidak boleh berada di mesjid saat merokok, ia juga menghindarkan puasa-puasa sunat karena sulit untuk tidak merokok ketika sedang berpuasa. Bila seorang perokok sedang jenuh atau tidak ada kerjaan maka ia mengisinya dengan merokok, sedang orang soleh mengisinya dengan berdzikir atau membaca buku menambah ilmu. Bila si perokok menghadapi kesulitan hidup atau kegagalan iapun menumpahkan persoalan hidupnya ke sebatang rokok, ia tidak lagi mengingat dan bertawakal pada Allah Yang mengatur takdir dan rezekinya. Sikap demikian bahkan oleh sebagian ulama dikategorikan sebagai satu jenis syirik, karena ia sudah mulai ‘menyerahkan’ persoalan hidupnya pada sebatang rokok dan tidak lagi pada Sang Penguasa dunia dan akhirat.
    Seorang ulama lainnya mengatakan alangkah tak pantasnya seorang perokok memasuki mesjid, bahkan sekalipun ia sedang tidak merokok. Pakaian beraroma rokok, padahal ia gunakan pakaian itu untuk menghadap Allah SWT saat shalat dan hendak menuju masjid. Ia berharap dapat meraih ridho Allah, dengan sesuatu yang dibenci Allah ?

    Berhentilah Mencari-cari Alasan Untuk Tetap Boleh Merokok

    Para perokok selalu menghadapi dilema ketika hati kecilnya sudah sadar tapi hawa nafsunya tidak mampu ia kuasai untuk berhenti merokok. Ia cenderung berusaha menghindar ketika harus berdebat mengenai haram tidaknya merokok, atau ia mencoba mencari-cari dalil-dalil yang masih membolehkan merokok atau mencari kelemahan dibalik dalil atau i’tibar (akal sehat) bahaya merokok. Bahkan senjata terakhirnya ketika tersudut, ia mulai menggunakan dalil ekonomi bahwa bila rokok dilarang maka ada sekian ratus ribu tenaga kerja yang menganggur. Ia lupa bahwa Allah-lah yang mengatur rezeki setiap umat-Nya, dan bukan pabrik rokok.
    Sebagian perokok lainnya, berkilah bahwa Al-Qur’an melarang kita untuk mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah. Padahal ketika ayat ini turun untuk bukan ditujukan kepada suatu perbuatan mudharat yang tidak diharamkan, sedang merokok jelas mudharatnya.

    Sejarah Rokok

    Sejarah rokok sendiri tidak terlepas dari upaya konspirasi Yahudi-Nasrani yang berhasrat untuk menghancurkan umat Islam. “Tidak akan ridho kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kalian selama-lamanya sampai kalian mengikuti jalan hidup mereka.” (al-Baqarah : 120). Didalam kitab Jawahirul Lu’lu’iyyah, disebutkan bahwa munculnya rokok berasal dari Inggris yang menyebar ke
    negeri-negeri Islam di abad akhir kejayaan Islam. Anehnya pemerintah Inggris justru tidak mengirimkan rokok ke negara Islam kecuali setelah para dokter muslim bersepakat melarang merokok.
    Dimasa kejayaan Islam beberapa abad yang lalu, para dokter negeri muslim pernah mengotopsi seorang laki-laki pecandu rokok. Mereka mendapati daging dan ototnya mengerut kehitaman, sumsum tulang hitam legam. Jantungnya seperti karang laut berlubang dan berongga yang mengering. Hati terbakar seperti dipanggang api. Sejak itulah dokter Yahudi-Nasrani melarang mengonsumsi rokok. Sebaliknya mereka memerintahkan menjualnya ke kaum muslimin dengan tujuan membinasakan muslimin dalam jangka panjang. Dari sinilah sebagian para ulama mengharamkan mengkonsumsi rokok, karena ihtiyath (berhati-hati dalam mengambil hukum).

    Berhenti Merokok Sebagai Pertobatan

    Tiada kata terlambat untuk bertobat. “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, lalu mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.. dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan buruk itu sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imron :135)
    Semoga kita termasuk hamba Allah yang disebut didalam ayat-Nya :“..Sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-Ku, yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang memiliki akal. ” (az-Zumar : 17-18)

    Disarikan dari berbagai tulisan :
    – Kitab Fatwa-Fatwa Terkini, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin
    – Haramkah Merokok, Ahmad Sarwat, Lc.
    – Rasa’ilut taubah minat tadkhin, Muhammad bin Ibrahim Al-Huraiqi
    – Menguak sejarah Rokok, Nafisah

  8. Bismillah,

    Meminta pendapat kepada “Ulama” a.k.a. “Kiyai” Indonesia?

    Suatu saat di mudik lebaran, di atas kapal PELNI, saya bertemu dengan seorang penumpang laki-laki yang mengaku murid salah satu pesantren di pulau Jawa.

    Santri satu ini merokok. Yang menarik perhatian saya adalah ketika dia hendak menyulut rokoknya itu, dia memakai korek lama mirip yang dipakai orang-orang tua di kampung saya jaman dulu. Menggunakan bahan bakar bensin, dan bersumbu. Bukan gas, zippo ato sebangsanya. Casingnya terbuat dari, kayaknya, logam aluminium berwarna putih kusam.

    Kata dia, pemantik itu dia dapatkan dari sang Kiyai.

    Dari penuturannya itu, lah wajar bin maklum kalo banyak yang menghalalkan rokok.

    Kekeliruan atau kebodohan muslimin kita atau mungkin di tempat lain dalam memahami kata “MAKRUH” adalah bahwa hal itu boleh dilakukan, lalu dengan tenang dia lakukan. (sedangkan kata “SUNNAH” berarti boleh ditinggalkan, lalu dia tinggalkan dan ogah-ogahan mengerjakannya.) Padahal makna yang benar dipahami adalah “HAMPIR-HAMPIR HARAM” alias harus dijauhi.

    Sebagian ulama memfatwakan “MAKRUH” suatu perkara karena mereka berhati-hati/wara’ jangan sampe terjatuh dalam bermudah-mudah menghalalkan atau mengharamkan sesuatu yang ini semata-mata adalah hak prerogatif Allah azza wa jalla. Rosulullah sholallahu ‘alaihi wasalam sendiri pun tidak berhak menentukan halal atau haram semaunya. Jadi yang sebenarnya dimaksut ulama tersebut adalah “HARAM”, hanya saja mereka berhati-hati karena sejumlah alasan termasuk tadi. Orang yang “paham” dengan kode etik ini akan tahu maksud yang sebenarnya dari ulama yang bersangkutan.

    ROKOK telah jelas difatwakan sebagai perkara yang HARAM. Dan fatwa ini merujuk dengan pemahaman yang benar atas dalil-dalil dengan metode yang benar pula.

    Orang yang menolak keharaman rokok bisa dipastikan tidak lebih dari termasuk dua kelompok ini :
    -pertama, jahil alias bodoh dalam urusan agama.
    -kedua, menuruti hawa nafsu.

    Kembali ke soal “Ulama Indonesia”, ditilik dari cerita saya di atas dan kenyataan di lapangan bagi sebagian orang dan mungkin juga anda yang baca tulisan ini, apa iya ada ulama di Indonesia?

    Ulama adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Faqih(faham) terhadap ilmu agama dan yang terpenting mengikuti jejak para shahabat dan generasi yang mengikuti mereka dalam menentukan hukum suatu perkara dengan metode atau manhaj yang benar. Karena Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasalam menyatakan “ulama adalah pewaris para nabi”.

    Penjelasan al-akh Dody Hermanto di atas sudah lebih dari cukup dan jelas tentang keharaman rokok. Dan itu dikeluarkan oleh ulama.

    Sudah saatnya masyarakat dipahamkan bahwa tidak ada ulama di Indonesia ini. Ulama yang benar-benar ulama yang faqih, memahami sunnah yang shahihah, bermanhaj yang lurus, bertakwa, dan pantas dimintai fatwa.

    Bukan ulama yang sesat lagi menyesatkan yang banyak berkeliaran di jalan-jalan kita. Yang tidak lain hanya memperturutkan hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan. (tunggu saja pemilu nanti siapa “ulama Indonesia” yang meng”halal”kan perempuan jadi capres atau yang ikut ber-demokrasi dengan kampanye menyitir dalil-dalil).

    Rokok = haram.

    Semoga yang merokok mampu sedikit demi sedikit menghentikan kebiasaannya itu dan bertaqwa kepada Allah. “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan carikan ganti yang lebih baik, jalan keluar dan rizki yang tak terduga”(Al-Quran).

    Semoga Allah azza wa jalla memberikan hidayah kepada kita semua untuk memahami mana yang benar.

    Sudah saatnya pula dipahamkan bahwa “perbedaan itu tercela” bukan rahmat. (sebagian ulama tidak mengetahui asal hadits yang mencemari otak-otak muslimin dan disebarkan oleh ustadz atau kiyai atau ulama yang sejatinya hanyalah seorang awwam, yang mengatakan “perbedaan adalah rahmat”)Secara logika saja tidaklah akan mungkin kebenaran itu berbilang. Kebenaran itu hanya satu. Sebagai orang beriman pun tahu kalau sumber kebenaran itu hanya satu.

  9. Bismillah,

    Kenapa hanya ada hukum rokok…?
    Bagimna dengan asap pabrik2? Juga limbahnya?
    Bagimana dengan kendraan kenalpot anda? Polusi udara dan suara? Apa karena para ulama dan kita memakainya maka hukumnya gak ada? Apa Karena asik di dalam kndaraan full AC, apa gak tau bahayanya AC Freon? Asap kenadaraan keluar kemana2 apa tidak kita sadari?

    hasil Studi
    Pengendalian Kualitas Udara (Urbair) yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta bersama Metropolitan Environmental Improvement Program (suatu lembaga penelitian yang didukung World Bank dan UNDP),pada tahun 1993. akibat pencemaran udara di Jakarta setiap tahunnya munculnya penyakit jantung 500 kasus baru dan penurunan IQ (jongkok) dialami 500.000 penduduk Jakarta?

    Dalilnya…?

    Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuhan-tumbuhan yang baik? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak Beriman.” (QS. 26 : 7-8)

    Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?” (QS. 77 : 27).

    Demi langit yang mengandung hujan (raj’i)” (QS. 86 : 11).

    Janganlah membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. 2 : 11)

    Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. 30 : 41-42).

    MAAF SAYA DI LUAR JALUR OBROLAN.

    Masalah rokok….
    Seperti Artikel diatas, masih banyak diantara para ulama2 dan kiyai2 yang saya tahu dan lihat merokok bahkan perokok berat, apakah saya pantas menyamakan mereka dengan menyamakn mereka dengan para bajingan yang minum arak makan babi di pinggir jalan? (maaf)

    Allah berfirman: “Apakah patut Kami jadikan orang2 Islam itu sama dgn orang2 yg berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? bagaimanakh kamu mengambil keputusn?” QS Al Qalam: 35-36

    Allah Berfirman: “patutkah kami menganggap orang2 yang beriman dan mengerjakan amal shaleh sama dengan orang2 yang membuat kerusakan di bumi? patutkah kami mengangap orang2 yg bertaqwa sama denga orang2 yang membuat ma’siat Qs.Shaad 28

    dan jadi bagimana dengan penduduk pulau Lombok hanya tembakaulah yang membuat para penddknya dapat makan, jika rokok diharamkan maka mayoritas penduduk Lombok tidak hidup.

    Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebgiannya halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada2 saja terhadap Allah? QS Yunus 59)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s