Kenapa Hanya Pada Ramadhan?

Hari ini saya membaca berita di salah satu surat kabar bahwa selama bulan Ramadhan jam kerja Pegawai Negeri Sipil akan dikurangi. Di beberapa media televisi juga diberitakan bahwa untuk “menghormati bulan Ramadhan” maka tempat-tempat hiburan malam seperti cafe, diskotik dan sejenisnya jam bukanya dibatasi atau bahkan ditutup untuk sementara waktu. Begitu juga tempat-tempat maksiat lainnya semacam panti pijat, lokasi prostitusi otomatis dilarang beroperasi. Bahkan penutupan ini tidak sedikit yang dilakukan dengan cara memaksa/kekerasan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa semua ini hanya dilakukan selama bulan Ramadhan?

Padahal semua aktifitas dan ibadah yang ada di dalam Ramadhan merupakan bentuk latihan dari Allah bagi kita dalam menjalani bulan-bulan ke depan pasca Ramadhan. Coba kita simak beberapa firman Allah di bawah ini :

Al-Baqarah 183 : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Al Baqarah 184 : “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”

Al-Baqarah 185 : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.

Jadi jika dengan Ramadhan jam kerja dikurangi maka bisa jadi kita masih melihat Ramadhan sebagai sesuatu yang memberatkan dan menjadi pembatas dalam beraktifitas. Atau dengan kata lain kadar keimanan kita patut dipertanyakan. Saya masih ingat ada seorang buruh pekerja kasar yang masih tetap bekerja membanting tulang bermandikan keringat dan dia tetap berpuasa tanpa mengeluh sedikitpun. Keimanan dia sudah sedemikan kuat sehingga puasa bukanlah lagi sebuah halangan yang harus “diistimewakan”. Tidak malukah kita dengan orang-orang seperti ini?

Hal lainnya, jika selama Ramadhan tempat-tempat maksiat ditutup dan semuanya kembali berjalan normal setelah Ramadhan berakhir tentu ini suatu pertanyaan besar. Jangan-jangan ada yang keliru dari diri kita. Jika kita memang tidak setuju dengan keberadaan tempat-tempat hiburan malam dan segala bentuk maksiat maka bukankah seharusnya penolakan ini tidak hanya disuarakan pada saat akan memasuki bulan Ramadhan?

Fenomena lain yang juga tampak pada bulan Ramadhan adalah penuhnya mesjid-mesjid untuk sholat tarawih. Orang juga banyak yang menjadi dermawan terutama bersedekah membantu fakir-miskin dan anak-anak yatim. Pasca ramadhan? Kembali kepada kebiasaan semula.

Boleh jadi puasa yang kita jalankan selama ini (termasuk yang saya jalankan) hanya sebatas menggugurkan kewajiban. Padahal semua yang tertuang di dalam rukun Islam (sholat, puasa, zakat dst) tidaklah hanya sekedar menjalankan syari’at tapi yang tidak kalah pentingnya adalah sejauhmana kita mengewajantahkannya dalam perilaku keseharian. Kita belum mampu mengambil hikmah dari ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah tersebut. Kita mungkin tahu tapi belum mau menjalankannya.

“Mungkin hasil yang diraih seorang shaum (yang berpuasa) hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (qiyamul lail) hanyalah berjaga”. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)

Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang bisa memaknai Ramadhan secara utuh.

Artikel terkait :
1. Persiapan Menyambut Ramadhan
2. Jumlah Raka’at Sholat Tarawih


3 thoughts on “Kenapa Hanya Pada Ramadhan?

  1. Tulisan yg mengkritik kita semua🙂. FYI Menkominfo (M. Nuh) jg meminta KPI agar mengawasi siaran2 tv selama bln ramadhan. Semua pihak sptnya udh kena “ramadhan syndrome” nih.🙂

  2. terima kasih sharing info/ilmunya…
    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    mengapa kita masih didera malas beribadah, baik mahdhah maupun ghayru mahdhah…? untuk itu saya membuat tulisan tentang
    “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”

    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  3. kenapa semua tempat hiburan seperti diskotik , kafe2 ..ya semacam itu masih beredar bahkan di tempat gedung2 ternama dan hotel2 berbintang penari2 bugilpun masih beredar…..gimana nasib anak2 …jika para orang dewasa makin meraja lela…………saya hanya bisa berdoa Agar Allah melindungi kita semua dan mengampuni dosa2…..amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s