Pemilu dan Pertahanan Diri

Pemilu Legislatif 2014 baru saja usai. Dalam tiga bulan ke depan suasana masih akan hangat menuju ke Pemilihan Presiden. Masing-masing pihak, baik politisi, simpatisan, kader maupun yang masuk dalam tim sukses mengunggulkan jagoannya. Perang opini pun tak terhindarkan, baik berupa black campaign, negative campaign maupun debat argumentasi. Perang tidak hanya terjadi di lapangan nyata tapi juga melalui media mainstream seperti koran, majalah ataupun media online. Bahkan yang terjadi di dunia maya melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook jauh lebih ramai lagi.

Banyak sindiran bahkan hujatan yang berseliweran. Yang diserang tidak tinggal diam. Dia akan balik melakukan serangan balasan dengan amunisi yang dimilikinya. Tapi yang menarik bagi saya adalah content yang berseliweran tersebut. Dalam pengamatan saya hanya sedikit yang memberikan pencerahan. Kebanyakan yang keluar adalah cemoohan dan menjatuhkan pihak lain. Jikapun ada opini maka yang disajikan adalah opini tanpa data. Akibatnya argumentasi yang dikemukakan seringkali keluar dari substansi. Debat tanpa substansi sama saja no value. Yang berdebat dan yang mengikuti debat tidak mendapat apa-apa selain syahwat kepuasan mengeluarkan uneg-unegnya sudah tersalurkan.

Bapak psikologi Sigmund Frued pernah mengatakan bahwa manusia memang cenderung menggunakan ego pertahanan diri (ego defence mechanism) jika diserang. Mekanisme bertahan ini muncul karena adanya kecemasan sehingga penolakan atau penyangkalan seringkali dilakukan di bawah sadar. Diserang kemudian membalas seperti menjadi satu paket yang tak terpisahkan. Yang membedakan disini adalah mekanisme pertahanannya. Banyak jenis pertahanan diri. Tapi terkait dengan topik bahasan ini saya hanya coba ambil beberapa saja yaitu :

  1. Proyeksi ; suatu perbuatan mengurangi kecemasan dengan cara melampiaskannya dalam bentuk sentimen-sentimen.
  2. Transkulphasi ; mengkambing hitamkan atau menyalahkan orang lain.
  3. Rasionalisasi ; memberikan alasan-alasan yang bersifat rasional.
  4. Denial ; menyangkal semua perbuatannya.
  5. Displacement ;  mengalihkan perbuatan ke perbuatan yang negatif.
  6. Identification ; meniru perbuatan orang lain.
  7. Fantasi ; mengkhayal atau membayangkan tentang hal-hal yang belum bisa dicapai.
  8. Acting-Out ; berperilaku yang berlebihan.

Kenyataannya dalam perilaku sehari-hari, mekanisme pertahanan yang digunakan tidak hanya satu tapi lebih dari itu. Dari ke delapan mekanisme tersebut di atas, jenis pertahanan mana yang akan anda ambil jika diserang?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s