Sebuah Kritik atas Analisis Potensi dengan Metode Sidik Jari

Sebagaimana diberitakan, pada tanggal 5-6 November 2014 yang lalu Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kaltim melakukan test potensi dengan menggunakan metode analisis jari potensial (JAPO) bagi 459 orang yang terdiri dari 377 Pejabat Eselon IV dan 67 staf golongan III/d dan IV/a di lingkup SKPD Pemprop Kaltim. Menurut Kepala BKD Kaltim, M Yadi Robyan Noor pengukuran kompetensi dilakukan untuk memetakan potensi pejabat sehingga memudahkan menemukan potensi sebenarnya dalam rangka peningkatan kinerja khususnya peningkatan kemampuan yang merupakan konteks pewujudan pegawai profesional. Pengukuran juga diharap mempercepat waktu adaptasi dan belajar dengan memahami modalitas belajar bawaan setiap individu. Idealnya PNS harus siap ditempatkan dimanapun sehingga dengan pengukuran kompetensi bisa diukur seberapa cepat seseorang beradaptasi terhadap lingkungan kerjanya. Selain itu, pengukuran diharap dapat menuntaskan peta potensi pegawai untuk pejabat struktural lingkup Kaltim. Sampai saat ini BKD baru melakukan pengukuran kompetensi Pejabat Struktural Eselon II, III, dan IV sebanyak 911 orang atau masih manyisakan sekitar 400 pejabat yang belum diukur. Menurutnya, penerapan metode analisis JAPO merupakan rekomendasi Badan Kepegawaian Negara (BKN) karena dianggap lebih ringkas ketimbang psikometri. Hanya cukup memperlihatkan jari tangan, orientasi tujuannya bisa tercapai untuk mengukur kompetensinya dengan tingkat akurasi tinggi. Adapun beberapa hal yang diukur berkaitan kompetensi adalah manajerial, teknis, dan sosial budaya.

Agak terhenyak juga menyimak berita tersebut. Namun walau bagaimanapun, usaha yang dilakukan oleh BKD Pemprop Kaltim ini tetap patut diapresiasi. Tidak banyak BKD di Indonesia yang menggunakan metode-metode kekinian dalam pengembangan pegawainya. Hal ini menunjukkan bahwa BKD Pemprop Kaltim memiliki keinginan yang kuat agar pengembangan pegawainya terstruktur dan sistematis. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian jika program JAPO ini ingin dilanjutkan.

Sebelumnya perlu saya luruskan dulu beberapa pernyataan dari Kepala BKD Pemprop Kaltim mengenai potensi dan kompetensi karena kedua hal ini memiliki pengertian yang sangat berbeda. Potensi adalah talenta (bakat), sifat, kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Jadi potensi berbicara tentang kecenderungan tak terlihat yang ada di dalam namun bisa digali melalui tes-tes psikologi. Sementara kompetensi merupakan kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) yang diaktualisasikan dalam bentuk perilaku seseorang. Yang dilakukan dengan metode sidik jari maupun assesment adalah untuk menggali potensi, bukan untuk mengukur kompetensi.

Kembali ke metode analisis sidik jari, dari beberapa penyedia jasa metode ini disebutkan bahwa manfaat khususnya adalah:

  • Mengetahui potensi dominasi masing-masing otak kiri dan kanan
  • Mengetahui distribusi kecerdasan multiple intelligence (logic-matemathic; linguistic; intrapersonal; interpersonal; bodely-kinestethic; visual-spasial; musical; naturalist)
  • Mengetahui driven models seseorang
  • Mengetahui learning style
  • Mengetahui learning sensitivity
  • Mengetahui karakter komunikasi
  • Memantapkan pilihan karir dimasa depan
  • Mengetahui gaya manajemen kerja seseorang

Pertanyaannya adalah apakah metode ini benar-benar valid dan reabilitasnya bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk mengukur potensi seseorang?

Sampai era 80-an masih banyak yang meyakini bahwa keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh IQ. Makin tinggi IQ seseorang maka akan makin besar pula kemungkinannya berhasil. Itulah sebabnya banyak sekolah menggunakan hasil tes IQ sebagai syarat kelulusan. Namun pandangan ini mulai berubah sejak Howard Gardner seorang psikolog dari Universitas Harvard USA pada tahun 1983 menemukan teori Multiple Intelligence yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki keunikan dan memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda-beda dimana kecerdasan seseorang dapat diidentifikasikan ke dalam 8 jenis yaitu:  kecerdasan bahasa, musik-ritmik, logika-matematika, visual-spasial, kinestetik-tubuh, intrapersonal, interpesonal serta kecerdasan naturalis.  Ditambah lagi Daniel Goleman pada tahun 1995 mempublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence yang menyatakan bahwa kecerdasan emosi merupakan parameter yang  paling menentukan dalam kehidupan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual. Hasil studi Goleman menunjukkan bahwa IQ hanya mengembangkan 20% terhadap kemungkinan kesuksesan hidup, sementara 80% lainnya  dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lain seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial.

Metode analisis jari potensial mendasarkan pada teori bahwa sidik jari terbentuk saat janin berusia 23 minggu dalam kandungan, periode yang sama dengan pembentukan sejumlah organ vital pada manusia. Karena terbentuk pada periode yang sama itulah maka sidik jari dianggap mampu menggambarkan potensi dasar manusia, atau dengan kata lain metode ini berdasarkan pada teori bahwa potensi hanya dipengaruhi oleh anatomi dan genetika. Jadi pendekatannya murni dari aspek biologis. Padahal hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa potensi seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh aspek biologis tapi juga lingkungan. Malah faktor lingkungan ini berpengaruh sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Karena itulah pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikolog . Teori yang sekarang dipegang adalah kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Dan untuk menggalinya diperlukan proses yang panjang seperti melalui metode psikodiagnostik atau assessment, biaya yang tidak sedikit, tidak bisa instant.

Menggunakan metode analisis sidik jari untuk mengetahui potensi seseorang adalah bentuk simplifikasi (penyederhanaan) yang bisa menyesatkan. Pegawai jelas dirugikan jika BKD menggunakan metode yang secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan baik untuk program pengembangan maupun karir pegawai. Sampai saat ini sepanjang yang saya ketahui, tidak ada satupun publikasi hasil penelitian ilmiah bahwa metode analisis sidik jari sudah layak digunakan untuk mengukur potensi seseorang. Karena itulah metode ini tidak direkomendasikan, tidak diakui dan tidak bisa dijadikan rujukan. Jangan sampai hanya karena mengejar target semua pegawai struktural harus dipetakan potensinya maka diambil jalan pintas yang prosesnya jauh lebih cepat dengan biaya yang lebih murah tapi mengabaikan kualitas dari metode itu sendiri. Kita tentu tidak ingin nasib para pegawai ditentukan oleh alat uji yang prosesnya hanya 5 menitan. Psikolog Senior yang juga Guru Besar dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono pernah menyatakanJika hanya ingin tahu apa dan bagaimana tentang dirinya, seseorang tidak perlu psikotes, hanya menghambur-hamburkan uang. Dan lebih sia-sia lagi jika uangnya dihamburkan untuk test sidik jari.”

2 thoughts on “Sebuah Kritik atas Analisis Potensi dengan Metode Sidik Jari

  1. YA klo hany berhenti di hasil tanpa tindaklanjut memang hasil yg di harapkan kurang/tidak maksimal jadi “biometri finger” /SJ harus cros cek silang dengan psikometri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s