Pemilu dan Pertahanan Diri

Pemilu Legislatif 2014 baru saja usai. Dalam tiga bulan ke depan suasana masih akan hangat menuju ke Pemilihan Presiden. Masing-masing pihak, baik politisi, simpatisan, kader maupun yang masuk dalam tim sukses mengunggulkan jagoannya. Perang opini pun tak terhindarkan, baik berupa black campaign, negative campaign maupun debat argumentasi. Perang tidak hanya terjadi di lapangan nyata tapi juga melalui media mainstream seperti koran, majalah ataupun media online. Bahkan yang terjadi di dunia maya melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook jauh lebih ramai lagi.

Banyak sindiran bahkan hujatan yang berseliweran. Yang diserang tidak tinggal diam. Dia akan balik melakukan serangan balasan dengan amunisi yang dimilikinya. Tapi yang menarik bagi saya adalah content yang berseliweran tersebut. Dalam pengamatan saya hanya sedikit yang memberikan pencerahan. Kebanyakan yang keluar adalah cemoohan dan menjatuhkan pihak lain. Jikapun ada opini maka yang disajikan adalah opini tanpa data. Akibatnya argumentasi yang dikemukakan seringkali keluar dari substansi. Debat tanpa substansi sama saja no value. Yang berdebat dan yang mengikuti debat tidak mendapat apa-apa selain syahwat kepuasan mengeluarkan uneg-unegnya sudah tersalurkan. Continue reading

Advertisements

Tips Memilih Caleg

caleg_ilustrasi(26)Salah satu yang menyebabkan orang enggan ikut Pemilu selain alasan teknis, ideologis, apatis dan individualis juga karena kesulitan mengidentifikasi siapa yang harus dipilih. Keterbatasan informasi mengenai rekam jejak caleg membuat orang menjadi gamang dalam menentukan pilihan. Ada yang memang tidak tahu kemana harus mencari informasi, tapi ada juga yang sudah berusaha mencari tapi tetap saja tidak menemukan jawabannya.

Berikut beberapa tips yang mudah-mudahan bisa sedikit membantu dalam pemilihan calon legislatif : Continue reading

Haruskah Saya Golput?

pemilu2014Anda semua termasuk saya adalah anggota masyarakat yang sungguh kecewa dengan kinerja dan perilaku anggota dewan. Tidak semua memang, tapi terlalu sering kita membaca dan menyaksikan bagaimana perilaku mereka tidak hanya menyakiti tapi sudah pada tataran menjijikkan. Perilaku yang berkelanjutan yang akhirnya memberi stigma negatif yang susah dihapus. Pertanyaannya sekarang adalah apakah memang tidak ada lagi calon-calon legislatif yang layak untuk dipilih? Apakah dengan kekecewaan tersebut kita harus GOLPUT?

Berikut saya coba memberikan hitung-hitungan kalau kita memilih GOLPUT. Saya akan ambil contoh untuk wilayah Samarinda (Kalimantan Timur).

Jumlah Pemilih di Samarinda tahun 2014 = 568.000 ribu orang
Jumah kursi DPRD Tingkat II Samarinda = 45 kursi

Jadi untuk mendapatkan 1 kursi diperlukan 12.600 suara (568.000 : 45)

Angka GOLPUT di Samarinda :
Pileg 2004 = 22%
Pileg 2009 = 33%
Pilgub 2013 = 44%
Pileg 2014 = 44% (asumsi)

Jika golput (mis: 44%) + suara tidak sah (mis: 6%) total 50% maka hanya dengan 6.300 suara saja caleg sudah bisa berlenggang duduk sebagai anggota DPRD Tingkat II Samarinda. Bayangkan hanya dengan setengah sumberdaya saja mereka sudah bisa menjadi anggota parlemen. Dengan GOLPUT parpol dan calon legislatif golongan hitam yang selama ini banyak menyalahgunakan amanah justru bersukacita karena untuk meraih 1 kursi di parlemen menjadi lebih mudah. Dengan modal kapital golongan hitam yang besar, suara bisa mereka beli.

Meminjam pernyataan dari kawan-kawan GERGAJI (Gerakan Tagih Janji) Kaltim, dulu jaman orde baru golput adalah bentuk perlawanan karena Pemilu hanya sekedar legitimasi dari sebuah sistem yang otoriter. Sekarang di era reformasi kondisinya sudah jauh berubah. Dengan tidak memilih berarti kita turut membiarkan orang yang tidak kompeten, tidak berkualitas dan tidak berintegritas menjadi wakil rakyat. Wakil rakyat yang legitimasinya tidak kuat, integritasnya dipertanyakan, akan berdampak pada produk kebijakan yang tidak kuat pula.

Jika demikian kondisinya, haruskah saya dan anda semua tetap GOLPUT?