Pemilu dan Pertahanan Diri

Pemilu Legislatif 2014 baru saja usai. Dalam tiga bulan ke depan suasana masih akan hangat menuju ke Pemilihan Presiden. Masing-masing pihak, baik politisi, simpatisan, kader maupun yang masuk dalam tim sukses mengunggulkan jagoannya. Perang opini pun tak terhindarkan, baik berupa black campaign, negative campaign maupun debat argumentasi. Perang tidak hanya terjadi di lapangan nyata tapi juga melalui media mainstream seperti koran, majalah ataupun media online. Bahkan yang terjadi di dunia maya melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook jauh lebih ramai lagi.

Banyak sindiran bahkan hujatan yang berseliweran. Yang diserang tidak tinggal diam. Dia akan balik melakukan serangan balasan dengan amunisi yang dimilikinya. Tapi yang menarik bagi saya adalah content yang berseliweran tersebut. Dalam pengamatan saya hanya sedikit yang memberikan pencerahan. Kebanyakan yang keluar adalah cemoohan dan menjatuhkan pihak lain. Jikapun ada opini maka yang disajikan adalah opini tanpa data. Akibatnya argumentasi yang dikemukakan seringkali keluar dari substansi. Debat tanpa substansi sama saja no value. Yang berdebat dan yang mengikuti debat tidak mendapat apa-apa selain syahwat kepuasan mengeluarkan uneg-unegnya sudah tersalurkan. Continue reading

Advertisements